Kamis, 17/03/2011 18:33 WIB 

Melawan Kanker dalam Waktu 7 Hari
Vera Farah Bararah - detikHealth


 
Natalie Langworthy (dok: the sun)
London, Kanker identik dengan penyakit yang sulit diobati atau disembuhkan. 
Tapi perempuan di Inggris berhasil melawan sel-sel leukemia di tubuhnya dalam 
waktu 7 hari.

Natalie Langworthy diberitahu dokter bahwa hidupnya hanya tinggal beberapa 
minggu lagi setelah pengobatan yang dijalankan sebelumnya gagal menyembuhkan 
kanker yang diderita. Ia pertama kali didiagnosis menderita lymphoblastic 
leukemia akut pada Maret 2010.

Setelah didiagnosis ia harus menjalani 4 siklus kemoterapi dan transplantasi 
sumsum tulang belakang. Tapi 2,5 bulan kemudian kanker yang dialaminya kambuh 
kembali. Kondisi ini diketahui setelah ia melakukan cek darah untuk mengetahui 
berapa jumlah sel darah putihnya.

"Dua hari kemudian, saya menemui konsultan yang menyatakan saya bisa 
dikemoterapi lagi sekarang dan menjaga saya agar tetap merasa nyaman sampai 
saya mati," ujar Natalie (34 tahun), seperti dikutip dari The Sun, Kamis 
(17/3/2011).

Meski demikian tunangannya Andy (48 tahun) tidak putus asa dan mulai melakukan 
riset secara online tentang jenis leukemia yang dialami oleh Natalie. Andy 
menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengirim email dan mencari bantuan, tapi 
sebagian besar balasan yang diterimanya membawa kabar buruk.

"Saat itu kami mulai menghadapi kemungkinan yang mengerikan bahwa memang tidak 
ada pertolongan untuk Natalie dan akhirnya ia akan mati," ujar Andy.

Namun pada dini harinya ia mendapat email dari seorang teman di California yang 
memberikan rincian suatu percobaan di Jerman yang cocok dengan diagnosis 
Natalie. Seketika itu ia mengirim email ke konsultan hematologi di Jerman dan 
dokter mengungkapkan bahwa Natalie bisa bergabung dalam studi tersebut.

Karena jumlah sel darah putihnya tinggi, maka Natalie harus terbang dalam 
posisi terlentang dan menerima oksigen selama penerbangan untuk mengurangi 
risiko deep vein thrombosis (DVT).

Sesampai di Jerman, Natalie ikut dalam percobaan tersebut dan diberikan obat 
blinatumomab. Obat ini bekerja dengan cara menempel di sel-sel leukimia 
kemudian mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk menghancurkannya.

Dua hari setelah pengobatan dimulai hasil tes menunjukkan bahwa tidak ada 
leukemia yang tersisa di aliran darah, tapi berpindah ke sumsum tulangnya. Lalu 
ia melakukan biopsi sumsum tulang, diberi obat kembali dan 5 hari kemudian ia 
mendapat kabar gembira bahwa sel leukemianya sudah berkurang.

"Ini seperti hadiah Natal terbaik yang bisa dimiliki oleh saya dan keluarga," 
ujar Natalie.

Natalie masih harus membawa obat dan pompa kecil dalam sebuah tas bahu. Obat 
ini akan terus menerus dikonsumsi selama 4 minggu. Setelah itu ia akan 
beristirahat selama 2 minggu sebelum melanjutkan proses berikutnya.

"Dibandingkan dengan kemoterapi yang memiliki efek samping mengerikan, 
pengobatan ini seperti berkah. Saya mendapatkan kembali kekuatan yang luar 
biasa dan tim dokter berhasil menyelamatkan nyawa saya," ungkapnya.

Blinatumomab merupakan antibodi yang memiliki 2 lengan. Satu lengan akan 
memegang sistem kekebalan tubuh dan lengan lainnya menangkap sel-sel leukemia. 
Kemudian sel-sel kekebalan ini akan menyerang dan membunuh sel-sel leukemia 
yang ada.

"Pengujian ini masih dalam tahap awal dan kita tidak tahu apakah ini akan 
berguna untuk berbagai jenis leukemia lainnya atau tidak. Karena itu uji klinis 
yang dilakukan di Jerman sangat penting untuk mengetahui apa yang bisa dan 
tidak bisa dilakukan oleh obat ini," ujar Ken, klinis dari Beat Blood Cancer.

Para ahli belum mengetahui apakah obat ini akan menjadi pengobatan rutin untuk 
leukemia atau tidak. Namun hasil yang didapatkan oleh Natalie bisa memberikan 
tekad dan semangat pada penderita kanker di seluruh dunia.

(ver/ir) 

Kirim email ke