Panen Raya
Rezeki Besar Petani dari Padi Organik...
Penulis: Irene Sarwindaningrum | Editor: Glori K. Wadrianto
Jumat, 18 Maret 2011 | 09:21 WIB
 KOMPAS/IWAN SETIYAWAN Kartosemito (60) menaburkan pupuk kandang dari kotoran 
sapi untuk memupuk tanaman padi jenis IR-64 yang ditanam di sawahnya di Desa 
Sapen, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Selasa 
(4/5/2010). Sejak harga pupuk urea naik, petani di kawasan itu banyak yang 
beralih memakai pupuk kandang dari ternak mereka sendiri. Selain tak perlu 
mengeluarkan ongkos, pupuk kandang juga lebih ramah lingkungan.
1
KOMPAS.com - Panen raya padi di Desa Embawang, Kecamatan Tanjung Agung, 
Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, musim panen ini benar-benar diliputi 
kegembiraan. Tak hanya hasilnya yang jauh lebih tinggi dari panen-panen 
sebelumnya, beras yang diperoleh pun dihargai jauh lebih tinggi dari biasanya.

Cucuran peluh para petani selama mempraktikkan pertanian padi organik dengan 
sistem intensifikasi padi organik selama delapan bulan ini pun menuai hasil 
yang memuaskan. Beberapa petani yang tergabung dalam kelompok tani system of 
rice intensification (SRI) Desa Embawang itu ibarat mendapat berkah tak terduga 
pada panen kali ini. Arsan, Komri, dan Feri, misalnya, memperoleh Rp 30 juta di 
tempat yang akan dibagi bertiga.

Sebanyak dua ton beras organik panenan mereka langsung dib orong pejabat dari 
Kementerian Pertanian yang hadir dalam acara panen raya perdana padi organik 
SRI Desa Embawang, Sabtu (12/3/2011).

Tak kurang dari Menteri Pertanian Suswono, Gubernur Sumatera Selatan Alex 
Noerdin, Bupati Muara Enim Muzakir Sai Sohar, dan sejumlah pejabat perusahaan 
hulu minyak dan gas bumi Medco hadir dalam acara panen raya tersebut.

Setiap kilogram beras organik ketiga petani itu dihargai Rp 10.000-Rp 15.000 
atau jauh lebih tinggi dari beras yang dihasilkan dari metode bertani 
konvensional yang harganya hanya berkisar Rp 6.000-Rp 7.000.

Petani lainnya, Erwan, sudah menerima pesanan sebanyak dua ton beras organik 
dari Bupati Muara Enim Muzakir Sai Sohar. Nasi dari beras organik dari Desa 
Embawang patut dihargai lebih tinggi. Selain pulen, aroma beras tersebut sedap 
saat dicecap.

Panen kali ini merupakan panen perdana padi organik dengan sistem SRI di Desa 
Embawang. Dari sekitar 100 petani di Desa Embawang, terdapat 42 petani yang 
menerapkan sistem padi organik SRI. Sistem ini baru pertamak ali diterapkan di 
desa yang sebagian besar penduduknya bertani. Luas lahan mereka mencapai 38,5 
hektar dari sekitar 138,5 hektar lahan sawah di Desa Embawang.

Sistem bertani padi yang ramah lingkungan dan tanpa bahan kimia itu membuahkan 
hasil. Setiap peta ni padi organik SRI memperoleh hasil sebanyak 6-12 ton 
setiap hektarnya. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari hasil bertani padi dengan 
cara konvensional yang banyak bergantung pada pupuk dan obat-obatan kimia.

Kalau bertani konvesional, hasilnya rata-rata hanya 4,8 ton per hektar. Panen 
kali ini memang benar-benar berhasil, kata Maman Suherman (50) salah satu 
petani Desa Embawang yang juga Ketua Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan 
Kehutanan (BP3K) Pandan Enim.

Dengan sistem padi organik SRI ini, para petani tidak menggunakan pupuk maupun 
pemberantas hama kimia. Mereka mengandalkan kompos, sejenis nutrisi tanaman 
organik yang disebut MOL (mikro-organisme lokal), dan kerja keras. Untuk setiap 
hektar sawah, dibutuhkan tujuh ton pupuk kompos yang didapat dengan mengolah 
kotoran hewan dan sampah organik.

Untuk itu, para petani memang harus bekerja lebih keras. Dengan pupuk kimia, 
sistem pemupukan cukup ringkas. Namun dengan pupuk kompos, para petani harus 
mau bersusah payah mengumpulkan kotoran hewan, mencac ah sampah organik, dan 
membawanya tujuh ton pupuk kompos ke sawah. Kesulitan utama muncul karena 
mereka kesulitan memperoleh kotoran hewan sehingga harus membeli dari desa 
tetangga. Di Desa Embawang sendiri, tak banyak penduduk memiliki ternak.

Selain itu, para petani juga harus telaten membuat MOL yang dihasilkan dari 
fermentasi alami bahan-bahan organik seperti bonggol pisang, rebung, sisa nasi, 
maupun sampah daun-daunan. Selain itu, sawah sistem SRI pun harus lebih sering 
disiangi dari gulma. "Karena sawah SRI tidak digenangi air, gulma menjadi lebih 
sering tumbuh. Untuk ini mudah saja, kami melibatkan istri-istri kami untuk 
ikut turun ke sawah dan menyiangi setiap dua hari sekali," ujar Arsan.

Mengembalikan ekosistem alami

Sistem SRI adalah teknik budida ya padi yang mampu meningkatkan produktifitas 
padi dengan cara mengembalikan sifat dan ekosistem alami tanaman, tanah, air 
dan unsur hara. Berbeda dengan penanaman konvensional, padi ditanam dengan 
jarak lebih renggang satu sama lainnya. Sawah pun tak dig enangi air seperti 
biasanya.

Saat penanaman bibit, satu lubang cukup diisi dengan satu bibit padi. Hasilnya, 
padi dapat menghasilkan lebih banyak anakan, batang padi tumbuh lebih besar, 
hemat air hingga 60 persen, hemat bibit hingga lima kilogram setiap hek tarnya, 
dan hasil panen lebih banyak. Sistem padi organik SRI ini juga lebih tahan hama 
karena adanya keseimbangan jumlah hewan pengganggu dan pemangsanya.

"Wereng dan walang sangit ada, tapi jumlahnya tidak banyak sehingga tidak jadi 
hama karena di sawah kami pun banyak katak, capung, dan laba-laba. Mereka ini 
berperan sebagai predator hama. Kalau di sawah konvensional, katak, capung, dan 
laba-laba ikut mati kena semprot pestisida," kata Arsan.

Para petani di Desa Embawang mulai mengenal sistem SRI sejak Agustus tahun 
2010. Saat itu, sebanyak 80 petani dan penyuluh pertanian Pandan Enim dilatih 
untuk mengembangkan sistem pertanian padi organik SRI ini yang difasilitasi 
oleh dana tanggungjawab sosial (CSR) perusahaan minyak dan gas PT Medco Energi.

Para pelatih merupakan praktisi padi organik SRI yang telah berhasil 
mempraktikkanya di Ciamis, Jawa Barat. Pendamping petani Embawang yang juga 
Pakar pertanian padi organik SRI dari Jawa Barat, Alik Sutaryat menuturkan, 
metode SRI ini pertama kali ditemukan di M adagaskar sekitar tahun 1980-an oleh 
rohaniwan asal Prancis, Henri de Laulanie, SJ. Sistem ini telah berhasil 
diterapkan di berbagai daerah. Di Garut dan Aceh, sistem padi organik SRI ini 
mampu menghasilkan 11 ton setiap hektarnya.

Melihat keberhasilan panen ini, Pemerintah Kabupaten Muara Enim Muzakir Sai 
Sohar berniat mengembangkannya. Musim tanam kedua tahun ini, sistem bertani 
padi organik SRI akan ditularkan ke enam desa yaitu Tanjung Agung, Muara Emil, 
Pandan Enim, Lesung Batu, Lubuk Nipis dan Tanjung Bulan. Luasan sawah organik 
SRI ditargetkan 20 hektar di setiap desa.

Menteri Pertanian Suswono pun menyatakan dukungannya untuk pengembangan 
pertanian padi organik SRI ini. Sistem bertani ini dinilai penting untuk 
dikembangkan ke berbagai daerah di Indonesia guna mencegah krisis pangan yang 
telah menghadang di depan mata.

Tidak saja untuk kegembiraan mereka sendiri, kerja keras pada petani di Desa 
Embawang telah membuka mata banyak pihak akan tingginya potensi pertanian yang 
sehat dan ramah lingkungan.



Budidaya
Rumput Laut Bakal Jadi Andalan Balikpapan
Penulis: Lukas Adi Prasetya | Editor: Glori K. Wadrianto
Jumat, 18 Maret 2011 | 09:06 WIB
 KOMPAS/ LUKAS ADI PRASETYA Rumput laut diyakini bakal menjadi salah satu 
andalan Balikpapan untuk dipasarkan ke keluar daerah.
1
BALIKPAPAN, KOMPAS.com — Kepala Seksi Produksi Perikanan Dinas Pertanian 
Balikpapan, Kalimantan Timur, Tony Riadinata yakin rumput laut akan menjadi 
salah satu andalan untuk dipasarkan keluar daerah. Untuk itu, pihaknya terus 
mendorong pembudidaya rumput laut.

Budidaya rumput laut banyak dilakukan di pesisir Balikpapan, terutama Kecamatan 
Balikpapan Timur. Diperkirakan, terdapat 140 orang menekuni pekerjaan ini. 
Pengumpul membeli panenan rumput laut mereka.

Produksi rumput laut terus meningkat, kata Tony. Jenis yang dibudidayakan 
adalah rumput laut coklat (Euchema cottoni sp), bahan agar-agar. Produksi basah 
rumput laut tahun 2010 di Balikpapan 4.925 ton, atau jika dikeringkan beratnya 
menyusut 90 persen (492,5 ton). Tahun sebelumnya, yakni 2010, produksinya 300 
ton.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke