Kejar Koruptor Sampai ke Liang Kubur http://www.gatra.com/hukum/31-hukum/1965-kejar-koruptor-sampai-ke-liang-kubur Senin, 22 Agustus 2011 11:32
Neneng Sri Wahyuni menjadi buronan interpol (Foto ANTARA/Ujang Zaelani) Setelah Nazaruddin berhasil dibekuk, kini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memburu Neneng Sri Wahyuni. Kemarin (21/8/2011), istri Nazaruddin itu telah resmi menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) interpol yang memiliki 188 negara anggota. Kubu Nazaruddin pun menuding 'red notice' isterinya itu sengaja untuk menekan dirinya. "Red notice Neneng itu sengaja untuk menekan Nazaruddin. Padahal dia sudah memohon agar tidak mengganggu isteri dan anak-anaknya," kata kuasa hukum Nazaruddin, OC Kaligis. Neneng Sri Wahyuni menjadi buronan setelah resmi ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan dan supervisi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi tahun anggaran 2008. Oleh KPK, Neneng dijerat dengan sangkaan pasal kejahatan berlapis. Nazaruddin, kata Kaligis, merasa diperlakukan tidak adil. Sebab, aparat ternyata tidak melakukan perburuan yang serius terhadap Nunun Nurbaeti (istri anggota Fraksi PKS DPR Adang Daradjatun), tersangka kasus cek pelawat pemilihan Deputi Senior Gubernur BI Miranda Goltoem. Padahal Nunun lebih dulu ditetapkan jadi tersangka dibanding Neneng, tpi hingga kini tidak diterbitkan red notice untuk Nunun. Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Marzuki Alie juga meminta aparat berlaku adil. Menurutnya, hingga kini masih banyak koruptor yang berkeliaran di Singapura. Jangan mengkondisikan seolah-olah hanya kasus Nazaruddin yang membuat negara rusak. "Koruptor yang lari ke luar negeru banyak. Mengapa hanya Nazaruddin yang dikejar secara G to G (goverment to goverment). Mengapa tidak diperlakukan sama?" ungkapnya. Benarkah ada perlakuan tidak adil? Menteri Politik, Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto menegaskan, saat ini pihaknya bersama jajaran penegak hukum lainnya tengah memetakan sebaran 50 buronan koruptor yang kabur ke luar negeri. Ia yakin, kepolisian dan kejaksaan yang turut melakukan pencarian akan dapat meringkus para buronan tersebut. "Ini sedang dipetakan, mana yang harus didahulukan. Saya kira kejaksaan, kepolisian serius untuk mengurus itu semua," ujar Djoko. Nunun, kata Djoko, termasuk dari 50 nama yang dicari sebagai koruptor. "Tetapi yang bisa menentukan prioritas itu kejaksaan dan kepolisian," jelasnya. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar pun telah memerintahkan Ditjen Imigrasi untuk melacak 50 orang buronan koruptor asal Indonesia yang berada di luar negeri. "Kita akan bergerak bila memang ‘red notice’-nya sudah keluar. Saya perintahkan imigrasi untuk mencari semua buronan Indonesia. Imigrasi harus berinisiatif untuk melacak buronan tersebut,” kata Patrialis. Wakil Jaksa Agung Darmono yang juga ketua Tim Pemburu Koruptor, juga mengungkap bahwa pihaknya sudah mendata beberapa negara yang dicurigai tempat buronan berada. Darmono dan timnya mengaku sedang merancang upaya menangkap buronan yang kabur ke luar negeri. Negara-negara tempat pelarian itu di antaranya Singapura, Tiongkok, Vietnam, Singapura, dan Australia. "Tetapi, itu belum bisa dipastikan. Kami harus mengecek apakah benar mereka di sana. Sebab, mobilitas tersangka atau terpidana memang cepat. Dia berusaha untuk bergerak supaya menyulitkan yang mencari," ungkap Darmono. Saat ini, Kejaksaan Agung sedang merancang kerja sama ekstradisi dengan sejumlah negara. Karena itu, dibutuhkan kerja sama dari beberapa menteri untuk membantu memburu koruptor. Di antaranya dari Menko Polhukam, Menkum HAM, Menlu, dan kepolisian. Mantan Kapusdiklat Kejagung itu mengungkapkan, pihaknya sudah mengidentifikasi beberapa buronan yang menjadi prioritas. Di antaranya buronan kasus bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Kiki Ariawan, Adrianus Halim, dan Bambang Sutrisno. Khusus untuk Kiki, proses ekstradisi sedang menunggu sidang judicial review pada 9 dan 10 September di Australia. Darmono mengakui, dirinya belajar banyak dari tertangkapnya Nazaruddin. "Kebetulan, kepergiannya kan belum lama. Jadi begitu muncul langsung dilacak, langsung diikuti, semuanya kebetulan. Apesnya dia cepat ketangkep. Yang lainnya akan terus diburu," ujarnya. Darmono pun tidak menepis anggapan Tim Terpadu yang dipimpinnya belum banyak menunjukkan kinerja. Namun, menurut darmono, ada banyak kasus yang saat ini sudah menunjukkan perkembangan, di antaranya pengejaran aset terpidana pemilik Bank Century, Robert Tantular di Hongkong, dan ekstradisi Kiki Ariawan yang tengah menunggu sidang judicial review pada 9 dan 10 September mendatang di Australia. “Kami nggak perlu beritahukan. Kalau sudah ada hasil baru kami beritahukan. Kami berupaya terus,” ujar Darmono. Para koruptor yang lari ke luar negeri, termasuk Neneng dan Nunun, mestinya terus diuber. Keberhasilan Interpol menangkap mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Nazaruddin harus diikuti dengan membawa pulang buronan koruptor lainnya ke Indonesia. ”Kalau Nazaruddin tertangkap, semua koruptor yang kabur juga bisa dibawa pulang ke Indonesia,” kata pengamat politik dari Yogyakarta Sahirul Alem. Menurut Alem, menangkap Nunun jauh lebih mudah, karena suaminya Adang Daradjatun berada di Indonesia. "Harusnya aparat kepolisian bisa mendesak Adang menyerahkan istrinya ke aparat ke penegak hukum," ujarnya. Jika Interpol belum dapat menangkap dan membawa pulang Nunun, berarti tidak ada kesungguhan Interpol. "Saya mencurigai orang-orang Interpol yang dimainkan Adang," kata Alem. Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta agar jajaran kepolisian di Tanah Air untuk menangkap dan membawa pulang semua buronan yang lari ke luar negeri. Ayo, kejar koruptor sampai ke liang kubur. Jangan ada tebang pilih! (HP) Singapura, Surga Koruptor Indonesia Senin, 22 Agustus 2011 11:22 Boleh jadi, Singapura adalah negeri sejuta pesona. Padahal sejatinya, Singapura tidak memiliki pemandangan alam secantik Indonesia, bernuansa romantis seperti Thailand atau penuh sejarah seperti Vietnam. Namun atmosfer negara makmur dan kaya etnis ini selalu menarik hati wisatawan untuk singgah lantaran tawaran sejuta atraksinya yang menawan. Berkat kemajuan pengelolaan industri pariwisata, Negeri Singa itu telah berhasil menjadi salah satu target kunjungan wisata paling favorit di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Selain itu, Singapura memang menjadi pilihan investasi para investor karena merupakan pintu perdagangan Asia Tenggara. Ironisnya, Singapura juga menjadi surga bagi koruptor Indonesia. Mencari koruptor di Singapura bagai mencari sebatang jarum yang jatuh di padang jerami. Padahal, negara itu hanya seluas 710,2 km2, jauh lebih kecil dibanding Indonesia. Masalah utamanya, hingga kini Indonesia tidak pernah berhasil menjalin kerjasama mempunyai perjanjian ekstradisi dengan Negara Singapura. Akibatnya, Singapura menjadi negara tujuan para koruptor Indonesia untuk berlindung dari jeratan hukum. Menurut catatan Indonesia Corruption Watch (ICW) tentang koruptor yang lari ke luar negeri, dari 40 koruptor yang kabur selama 10 tahun terakhir, 20 di antaranya memilih berlindung di Singapura. "Ada kecenderungan koruptor menghindari proses hukum dengan pergi ke Singapura," ujar peneliti ICW, Emerson Yuntho. Faktor yang membuat para koruptor banyak memilih singapura sebagai tempat pelarian, kata Emerson, salah satunya karena tidak adanya perjanjian ekstradisi. Perjanjian ekstradisi selalu gagal diratifikasi oleh parlemen dua negara. Akibatnya, orang yang hendak diekstradisi bisa menggugat paksa. Akanlah tetangga terdekat terdekat itu akan terus menjadi surga bagi koruptor Indinesia? Hanya para pemimpin kedua negara itu yang bisa menjawabnya. (HP) Blog Jakarta Post Online Reviews Akses berita lokal dan mancanegara terkini dengan Gratis dan realtime (seketika) Kunjungi disini http://jakartapost.blogspot.com Blog Komunitas Tionghoa di Indonesia Akses berita, updates kegiatan komunitas Tionghoa di Indonesia serta komentar komunitas Tionghoa dan para pemerhati dan yang peduli dengan negeri ini. Kunjungi http://tionghoanet.blogspot.com atau http://chinese-clubs.blogspot.com http://indonesiaupdates.blogspot.com
