Indonesia Masih Diperdaya Asing
Robert Adhi Kusumaputra | Kamis, 18 Agustus 2011

JAKARTA, KOMPAS.com  Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan 
Wanandi menyatakan, Indonesia pada dasarnya masih diperdaya asing meski telah 
merdeka selama 66 tahun, terutama dalam bidang ekonomi.

Perkebunan sawit dan karet Indonesia adalah andalan di dunia. Kalau 
pemberdayaan lahan saat ini bisa dilipatgandakan, peluang untuk menguasai pasar 
minyak dan karet dunia pada masa mendatang sangat terbuka bagi Indonesia.
-- Sofjan Wanandi

Melalui bermacam cara dan bentuk, kata Sofyan di Jakarta, Rabu, pihak asing 
terus berupaya mempertahankan kepentingannya di negara ini.

"Indonesia merdeka sudah 66 tahun, tetapi masih dijajah (pihak) asing. Itu 
tandanya kita masih bodoh. Tentu menjadi tugas pemerintah kita untuk mengatasi 
hal itu," katanya.

Ia mencontohkan, ditandatanganinya perjanjian di Oslo, Norwegia, tahun lalu, 
yang mewajibkan Indonesia mengurangi emisi karbon dengan iming-iming hibah 
sebesar 1 miliar dollar AS jika berhasil.

Akibatnya, kata dia, dalam setahun perjanjian Oslo, praktis tidak ada 
keuntungan apa pun yang diperoleh Indonesia. Lahan tidur tidak dapat 
didayagunakan, padahal sebenarnya bisa menyerap jutaan tenaga kerja.

Sebaliknya, Norwegia dan negara maju lainnya dengan seenaknya memproduksi emisi 
karbon dalam jumlah yang besar melalui industri mereka.

Untuk memenuhi kebutuhan listrik, misalnya, Norwegia menggunakan tenaga batu 
bara sebesar sembilan persen, sementara Indonesia hanya satu persen. Padahal, 
pembangkit listrik tenaga batu bara merupakan salah satu penghasil emisi karbon 
terbesar.

"Perjanjian Oslo sejak awal memang sudah bermasalah. Norwegia sendiri justru 
menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih besar dibanding Indonesia," katanya.

Ekonom Drajad Wibowo juga berpendapat senada. Menurut Drajad, perjanjian Oslo 
yang telah ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan selanjutnya 
menerbitkan moratorium hutan merupakan upaya negara maju untuk terus memperdaya 
Indonesia.

"Perjanjian Oslo hanya akan menguntungkan Norwegia dan negara Eropa lainnya," 
katanya.

Menurutnya, jika mau adil, maka seharusnya negara maju yang lebih dulu 
mengurangi emisi, bukan negara berkembang seperti Indonesia.

Dia mengatakan, 66 tahun kemerdekaan Indonesia merupakan momentum yang 
selayaknya tidak disia-siakan pemerintah, apalagi kepentingan pihak asing di 
Indonesia dalam jangka 50 tahun ke depan akan semakin nyata.

"Perkebunan sawit dan karet Indonesia adalah andalan di dunia. Kalau 
pemberdayaan lahan saat ini bisa dilipatgandakan, peluang untuk menguasai pasar 
minyak dan karet dunia pada masa mendatang sangat terbuka bagi Indonesia," 
katanya.

Blog Jakarta Post Online Reviews
Akses berita lokal dan mancanegara terkini
dengan Gratis dan realtime (seketika)
Kunjungi disini
http://jakartapost.blogspot.com

Blog Komunitas Tionghoa di Indonesia
Akses berita, updates kegiatan komunitas Tionghoa
di Indonesia serta komentar komunitas Tionghoa dan para
pemerhati dan yang peduli dengan negeri ini.
Kunjungi
http://tionghoanet.blogspot.com
atau
http://chinese-clubs.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com


Kirim email ke