Sekelumit Rahasia PD I Dibuka
Egidius Patnistik

WASHINGTON, KOMPAS.com Badan Pusat Intelijen Amerika Serikat (CIA), di 
Washington, membuka enam dokumen rahasia terkait Perang Dunia I dari tahun 1917 
dan 1918. Dokumen rahasia itu adalah yang paling tua yang pernah dimiliki 
Pemerintah AS.

Dalam beberapa dokumen tersebut disebutkan sejumlah teknik terhebat masa itu 
dalam berbagai kegiatan mata-mata pada perang diplomatik setelah perang fisik 
selesai. Berbagai teknik itu dipakai diplomat dan intelijen.

Misalnya, ada tinta rahasia. Tulisannya tak terlihat, tetapi bisa dipahami di 
dunia intelijen. Juga dipaparkan bagaimana para intelijen pada masa itu belajar 
membuka dan membaca isi surat, tetapi si penerima surat tak pernah tahu bahwa 
surat tersebut pernah dibuka.

Sebuah dokumen lain berisikan cara pembuatan tinta dalam keadaan darurat. 
Rendam sapu tangan atau kerah baju dalam larutan kimia kombinasi nitrat, soda, 
dan tepung kanji. Lalu jemur sapu tangan atau kerah itu hingga kering. Namun, 
larutan kimia itu tampak kembali ketika sapu tangan dan kerah direndam di air. 
Larutan kimia itu kemudian bisa dipakai sebagai tinta pena dan sewaktu-waktu 
dipakai untuk menulis pesan rahasia.

"Ada pula dokumen, tertulis dalam bahasa Perancis, yang menyebutkan 
keberhasilan (Perancis) mengungkap formula tinta rahasia Jerman yang sekaligus 
menunjukkan keberhasilan mereka membongkar kode rahasia musuhnya itu. Hampir 
seabad dokumen itu dirahasiakan hingga sekarang ketika teknologi memungkinkan 
untuk mengungkapkannya," ujar Direktur CIA Leon E Panetta.

Juru bicara CIA, Marie E Harf, menjelaskan, pengungkapan sejumlah dokumen 
rahasia itu kini dimungkinkan. Ini berkat makin canggihnya perkembangan dan 
kemajuan teknologi kimia. Hal ini dibantu dengan metode pencahayaan untuk 
mendeteksi cairan tinta kuno, yang memang sudah lama ditinggalkan.

Tidak rasional

Sepanjang tahun lalu, CIA berhasil mengungkap lebih dari satu juta lembaran 
dokumen bersejarah yang ditulis secara rahasia.

Namun, menurut Steve Aftergood dari Federasi Ilmuwan AS, CIA tidak selalu 
bersedia mengungkap dokumen rahasia tertentu yang telah diurai artinya.

Ia berpendapat, CIA tetap menolak Undang-Undang Kebebasan Informasi tahun 2002 
untuk mengungkap semua dokumen dan catatan sejarah rahasia itu.

Namun, Aftergood mengaku sangat terkesan dengan pernyataan Panetta yang 
menyebutkan semua dokumen tersebut baru dapat diungkapkan saat ini lantaran 
kemajuan teknologi baru.

Menurut dia, teknologi pelacak surat rahasia itu sudah lama ada, bukan saja 
belakangan ini. "Direktur CIA Panetta sepertinya tengah berupaya 
merasionalisasikan kebijakan informasi CIA yang selama ini tidak rasional. 
Klaimnya sama sekali tidak berdasar," ujar Aftergood.

Saat ini keenam dokumen tersebut tersedia di situs jejaring CIA dalam laman 
Ruang Baca Elektronik UU Kebebasan Informasi. Sarjana dan mahasiswa dapat 
membaca dan mempelajarinya di Arsip Nasional di College Park, Maryland, dalam 
perangkat cari catatan CIA (the CIA Records Search Tool/CREST).

Kirim email ke