Wacana

Tajuk Rencana
Sri Mulyani dan Intelektual Indonesia

Popularitas Sri Mulyani Indrawati semakin moncer, paling tidak berdasarkan 
versi pemeringkatan majalah Forbes. Untuk ketigakali, mantan menteri keuangan 
itu masuk ke dalam daftar jajaran perempuan paling berpengaruh di dunia. Tahun 
ini, Direktur Pelaksana World Bank itu menduduki peringkat ke-65 dalam daftar 
100 perempuan paling powerful versi Majalah Forbes yang dirilis 24 Agustus 2011 
lalu. Sebelumnya, Sri Mulyani masuk peringkat ke-23 pada 2008.

Nama Sri Mulyani dalam daftar the most powerful memang bukan hal baru. Pada 
2009, Sri Mulyani tercatat pada peringkat ke-71. Pada 2010, CNN memilih Sri 
Mulyani dalam daftar tiga perempuan paling berpengaruh di Asia 2010. 
Sebelumnya, dia juga pernah dinobatkan sebagai Menteri Keuangan Terbaik Asia 
pada 2006 oleh Emerging Markets dan Wanita Paling berpengaruh Ke-2 di Indonesia 
versi Majalah Globe Asia  pada Oktober 2007. Apa arti semua predikat itu bagi 
kita semua?

Bagi yang tidak suka, respons atas rilis-rilis pemeringkatan semacam itu 
biasanya adalah mempertanyakan keabsahan dari sisi metodologi. Ketika Sri 
Mulyani sudah masuk dalam perbincangan politik, terutama sejak deklarasi Partai 
Serikat Rakyat Indonesia (SRI), pengukuran pemeringkatan semacam itu pasti 
mengundang pula komentar-komentar politis. Namun, ada baiknya kita memaknai 
pemeringkatan itu secara positif dan berpikir lebih makro dalam kaitan 
putra-putri  terbaik Indonesia lainnya.

Sederet gelar untuk Sri Mulyani dari berbagai lembaga internasional adalah 
pengakuan secara eksplisit dan tegas atas prestasi-prestasi dan kemampuan luar 
biasa yang dimilikinya. Menarik sekali mengutip James Castle, pendiri lembaga 
konsultan global Castle Asia, yang mengatakan, ”She could be the finance 
minister anywhere in the world.” Mengomentari hengkangnya Sri dari kursi 
menteri keuangan tahun lalu, Castle berpendapat Sri bisa menjadi menteri 
keuangan di mana pun di dunia karena kapabilitasnya.

Kita ikut bangga ketika Sri Mulyani disandingkan bersama dengan para wanita 
berpengaruh lainnya, seperti  Kanselir Jerman Angela Merkel, Ketua Partai 
Kongres Nasional India Sonia Gandhi, dan Ibu Negara Amerika Serikat Michelle 
Obama. Dalam situasi Indonesia yang masih saja tersandera berbagai mafia, 
pengakuan itu ibarat setetes air segar. Terlalu buru-buru kalau rilis Forbes 
diinterpretasikan untuk pencalonan Sri. Ingin ditegaskan di sini, Indonesia 
sebetulnya adalah penyuplai intelektual dunia.

Sayangnya, kepakaran dan kejeniusan anak-anak negeri itu justru dinikmati 
negara lain. Saat ini, misalnya, terdapat ribuan intelektual Indonesia yang 
mengajar di berbagai universitas di dunia, atau bekerja sebagai periset di 
lembaga-lembaga internasional. Singapura bahkan berambisi merekrut 300-400 
siswa cerdas dari Indonesia setiap tahunnya. Dibutuhkan kearifan semua pihak 
serta sistem politik yang bersih agar intelektual-intelektual tidak hanya 
disegani di negara lain, tetapi juga dimuliakan di negeri sendiri.

29 Agustus 2011Share :
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/08/29/157596/10/Sri-Mulyani-dan-Intelektual-Indonesia

Kirim email ke