BlackBerry: Rumah di Malaysia 'Buang Hajat' di Indonesia 
Kamis, 08 September 2011 08:30 
http://www.gatra.com/terpopuler/46-ekonomi/2510-blackberry-rumah-di-malaysia-buang-hajat-di-indonesia

 
BlackBerry terjual 5juta lebih di Indonesia (Foto ANTARA)
Indonesia adalah pasar yang menggiurkan bagi banyak produk. Dengan total 
penduduk hingga 250juta, negeri ini menjanjikan pangsa pasar potensial bagi 
sejumlah perusahaan raksasa dunia. Tidak heran jika produsen dunia dari 
berbagai sektor berduyun-duyun memasarkan produknya di Indonesia.

Tak terkecuali produsen BlackBerry, telepon pintar asal Kanada. Research in 
Motion (RIM), pembuat perangkat telepon genggam BlackBerry, sudah lama tergiur 
dengan ceruk pasar telekomunikasi yang menganga di Indonesia. Dengan lesatan 
ekspansi pasarnya, RIM memetik untung gede selama bertahun-tahun.

Saat ini, jumlah BlackBerry yang beredar di Tanah Air menembus angka 5 juta 
unit lebih. Jumlah itu tercatat di tiga operator telekomunikasi terbesar di 
Indonesia, yakni Telkomsel, Indosat, dan Excelcomindo. Belum termasuk operator 
lain seperti Axis, 3, AHA dan lain-lain. Tahun ini RIM menargetkan penjualan 4 
juta unit dengan harga rata-rata US$ 300 per unit.

Secara global, RIM berhasil menjual BlackBerry hingga mencapai 52,3 juta unit 
di seluruh dunia. Dengan capaian itu, sepanjang tahun fiskal sampai dengan 
Februari lalu, RIM melaporkan lesatan pendapatan hingga 33 persen, yalni dari 
US$15 miliar atau setara Rp130 triliun, menjadi US$19,9 miliar atau Rp173 
triliun.

Nah, jika dibandingkan dengan di Malaysia, pasar BlackBerry di Indonesia jauh 
lebih gemuk. Di Negeri Jiran itu, RIM hanya mampu menjual tak lebih dari 400 
ribu unit. "Cuma sepersepuluh Indonesia," kata Kepala Badan Koordinasi 
Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan.

Ceruk pasar yang sangat besar di Indonesia jelas telah memberikan keuntungan 
besar bagi perusahaan asal Kanada itu. Tapi, tiba-tiba RIM mengumumkan bakal 
menggolontorkan investasi untuk membangun pabrik BlackBerry di Malaysia. 
langkah serupa dilakukan produsen peralatan rumah tangga asal Jerman, Bosch, 
yang memilih membangun pabrik panel solar di negeri jiran. Padahal keduanya 
banyak mengeruk untung dari pasar Indonesia. Sama seperti BlackBerry, berbagai 
produk Bosch lebih banyak menjual produknya di Indonesia ketimbang di Malaysia.

Keputusan RIM dan Bosch itu, kontan saja membuat geram para petinggi negara di 
Jakarta. Tak kurang, Gita Wiryawan mengaku heran dengan sikap RIM. "Menapa 
membangun pabrik di Malaysia?" katanya kepada wartawan di kantor BKPM, Jakarta, 
Rabu (7/9/2011) kemarin. Menurut Gita, Pemerintah langsung mengambil sikap 
terhadap sejumlah perusahaan asing yang selama ini dianggap hanya peduli meraup 
untung di Indonesia.

Salah satu upaya yang tengah dikaji pemerintah adalah memberikan disinsentif 
kepada mereka. Kini, Pemerintah sedang mendata produk-produk yang dikonsumsi 
rakyat Indonesia dengan skala besar, namun tidak diproduksi di Indonesia. 
"Tidak ada alasan mereka tidak produksi di Indonesia," tegas Gita.

Dalam kasus RIM, Menteri Perindustrian MS Hidayat langsung bereaksi. Ia 
mengusulkan agar produk BlackBerry dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 
tambahan atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Menurut Hidayat, 
penerapan opsi kebijakan disintensif perlu diterapkan bagi perusahaan yang 
hanya memanfaatkan Indonesia sebagai pasar saja.

Sebaliknya, insentif berupa keringanan pajak (tax allowance) layak diberikan 
untuk perusahaan yang mau membangun industrinya di Indonesia. Kebijakan ini 
dimaksudkan untuk menarik lebih banyak perusahaan asing yang menanamkan modal 
di Indonesia. Terutama mereka yang produknya menyasar pasar tanah air. Jangan 
sampai mereka memilih negeri tetangga untuk membangun rumah, tetapi 'buang 
hajat' di Indonesia.

Namun tak mudah menerapkan barier tarif. Pasalnya, Indonesia telah terdaftar 
sebagai negara yang mengadopsi Free Trade Area (FTA). Selain itu, Indonesia 
kadung meneken perjanjian Economic Asean Integrity (EAI). Negara-negara penanda 
tangan EIA tidak boleh melakukan penghambatan dalam proses perdagangan.

Menurut Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengungkap, untuk 
mengantisipasi hal itu, Pemerintah akan memikirkan strategi yang jitu. "Kita 
memang tidak bisa sembarangan menetapkan tarif barrier, tetapi kita punya 
cara-cara lain yang lebih cerdas," tuturnya.

Kepentingan nasional memang harus dijaga, tanpa menentang aturan globalisasi. 
Pemerintah harus segera mencari format yang pas. (HP)

Kirim email ke