Dampak Kehadiran Kapal Induk RRC di Kawasan Penulis : Rosihan Arsyad* (Xinhua Photo) Pada 10 Agustus 2011 lalu, kapal induk terbaru dan satu-satunya milik RRC, Varyag, diluncurkan. Kapal induk tersebut adalah kapal rongsokan eks Ukraina yang lalu diperbaiki total, dari kelas Admiral Kuznetsov, yang semasa Uni Soviet dirancang menjadi kapal induk multifungsi.
Varyag mulai dibangun pada 1985 di Nikolayev, namun dihentikan pada 1992, di saat badan kapal sudah selesai. Dengan pecahnya Uni Soviet, kapal jadi milik Ukraina dan ditelantarkan. Besi tua itu akhirnya dibeli oleh Biro Perjalanan Chong Lot dengan harga US$ 20 juta, dengan dalih akan dijadikan kasino terapung di Makau. Reaksi cukup keras ditunjukkan, terutama oleh Amerika Serikat, yang mempertanyakan seputar pelayaran perdana Varyag tersebut. Bahkan, saat penulis menjadi pembicara di Konferensi Internasional tentang “Maritime Capacity Building” di Mississippi State University, AS, pada 2009, secara informal para peserta sudah ramai mendiskusikan Varyag. Majalah Time terbitan 22 Agustus 2011 dalam salah satu artikelnya menyuarakan kekhawatiran akan dampak keberadaan kapal induk milik RRC tersebut bagi keamanan kawasan Asia, terutama dihubungkan dengan ketegangan di Laut China Selatan. Amerika Serikat mengeluhkan China tidak transparan tentang belanja militernya. China memang tidak memublikasikan, bahkan melarang wartawan meliput peluncuran itu. AS khawatir RRC menggunakan Varyag untuk menekan para tetangganya di Asia. Menanggapi itu, melalui sebuah artikel di harian People Liberation Army disebutkan RRC membangun kapal induk sesuai kebutuhannya guna mengawal hak-hak dan kepentingan maritimnya. Tak ada negara yang secara tegas merespons pernyataan itu, namun negara-negara yang memiliki klaim tumpang tindih wilayah di Laut China Selatan dengan RRC—terutama Filipina dan Vietnam—tentulah mempertimbangkan perkembangan baru itu. Demikian pula Taiwan yang sampai kini dianggap sebagai provinsi RRC yang membangkang. Arti Strategis Kapal Induk Kapal induk sangat penting perannya untuk melancarkan invasi militer dan pertempuran yang jauh dari pangkalan induk (home base). Kapal induk adalah wahana untuk memproyeksikan kekuatan udara multifungsi, yaitu untuk keunggulan di udara, antikapal atas air, dan antikapal selam dengan variasi pesawat terbang yang dibawanya. Kesalahan Jepang ketika menyerang Pearl Harbour adalah gagal menghancurkan tiga kapal induk Amerika (USS Enterprise, USS Lexington, dan USS Saratoga), yang memang tidak sedang di pelabuhan. Ketika itu Jepang terlalu percaya pada doktrin AT Mahan bahwa faktor yang menentukan dalam perang laut adalah battle ship. Kenyataannya, kapal induk dan kapal selamlah yang mengalahkan Jepang melalui pemutusan jalur logistik laut dan menghancurkan armada perang Jepang. Di dunia saat ini terdapat 22 unit kapal induk, milik sembilan negara. Separuh jumlah tersebut dimiliki AS, Italia punya dua, sedangkan Spanyol, Inggris, Brasil, Prancis, Rusia, India, dan Thailand masing-masing punya satu. Masuknya RRC ke dalam “klub kapal induk” seharusnya tidak terlalu mengejutkan karena di Asia ada India dan Thailand yang sudah lebih dulu punya. Walaupun kapal induk India sudah sangat tua dan kapal induk Thailand sangat kecil. Varyag sebagai Ancaman? Sesungguhnya kehadiran Varyag tidaklah meningkatkan potensi ancaman, dan hanya menambah posisi tawar Beijing. Bukankah RRC selama ini sudah punya lebih dari 200 bom berhulu ledak nuklir, lebih dari 70 kapal selam, lebih dari 70 kapal perang sekelas frigate atau yang lebih besar, dan hampir 2.000 pesawat tempur? RRC juga sudah memiliki teknologi antariksa berupa pesawat angkasa luar berawak. Jadi tidak ada lawan sepadan RRC di kawasan. Ditinjau dari sisi operasional dan logistik, Varyag masih perlu waktu cukup lama untuk menjadi senjata yang efektif. Kapal Induk hanya berguna apabila mampu mengoptimalkan operasional pesawat terbang yang dibawanya. Apalagi, kapal induk sangat rawan terhadap serangan kapal selam, kapal atas air, bahkan serangan udara. Kapal induk harus dikawal oleh kapal piket, kapal tabir antikapal selam, dan antikapal atas air, serta pesawat udara peringatan dini (Airborne Early Warning) maupun patroli pesawat tempur (Combat Air Patrol) yang banyak jumlahnya. Itu semua sangat mahal biaya operasionalnya. Dukungan logistik bagi sebuah kapal induk sangat mahal, dan itu menyangkut pemeliharaan, latihan personel, latihan operasional, logistik, dan risiko operasional seperti kecelakaan, misalnya. Contoh kecil, saat TNI AL mengoperasikan kapal kelas penjelajah KRI Irian, konon setiap akan berlayar memborong habis bahan makanan di pasar-pasar di Surabaya. Masih lama RRC dapat menyamai kemampuan US Navy yang mendaratkan pesawat setiap 45 detik dan tinggal landas setiap menit sebagai standar operasi kapal induknya. Jadi, RRC masih perlu waktu untuk membangun tradisi kapal induknya. Laut China Selatan Mengenai klaim tumpang tindih di Laut China Selatan, negara-negara kawasan, terutama yang menuntut kepemilikan di Laut China Selatan, perlu terus mendorong RRC untuk menyelesaikannya dengan semangat kebersamaan, dengan juga mematuhi isi dan semangat Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC). Salah satu kesalahpahaman yang terbesar dalam upaya penyelesaian persengketaan di Laut China Selatan adalah dengan menjadikan penyelesaian masalah yurisdiksi sebagai persyaratan utama. Sudah makin disadari bahwa penyelesaian batas negara mungkin menjawab beberapa permasalahan, namun tidak cukup komprehensif menuntaskan berbagai persoalan kelautan seperti migrasi ikan atau polusi yang tak mengenal batas negara. Manajemen kelautan yang dilaksanakan secara sendiri-sendiri dalam batas negara tak akan mampu mengatur sumber daya lintas batas negara. Oleh karena itu, sungguh penting bagi negara-negara yang menandatangani DOC untuk menahan diri dalam melakukan kegiatan yang dapat membuat komplikasi atau menyulut pertikaian. Sikap gegabah dapat memengaruhi stabilitas dan keamanan, terutama untuk menangani perbedaan secara konstruktif. Sayangnya, selama ini hal itulah yang terjadi, padahal ASEAN dan RRC telah sepakat bahwa sebelum penyelesaian secara tuntas masing-masing negara akan berkonsentrasi pada kegiatan bersama, seperti pelestarian lingkungan laut, penelitian ilmiah, keselamatan navigasi dan perhubungan di laut, SAR, dan memerangi kejahatan transnasional. Tampaknya, peningkatan ketegangan terakhir pada 8 Maret 2011 antara RRC dengan Filipina, dipicu oleh persepsi RRC bahwa Filipina melakukan kegiatan eksplorasi laut secara sepihak yang tidak sesuai dengan semangat DOC. Saat ini dunia sudah saling membutuhkan dan tergantung dalam upaya meningkatkan kemakmuran masyarakat. Globalisasi menyebabkan upaya bersama untuk melindungi perdagangan dunia lewat laut menjadi tugas utama angkatan laut di dunia, dan sesungguhnya itulah tugas hakiki angkatan laut saat awal lahirnya. Contoh terbaik adalah kerja sama angkatan laut multinasional melindungi pelayaran niaga di lepas pantai Somalia. Jadi, dunia memerlukan kerja sama untuk meningkatkan kapasitas maritim setiap negara, termasuk mendorong RRC melanjutkan modernisasi angkatan lautnya. *Penulis adalah Pemimpin Umum Sinar Harapan; Purnawirawan Laksamana Muda TNI. http://www.sinarharapan.co.id/content/read/dampak-kehadiran-kapal-induk-rrc-di-kawasan/ 16.09.2011 13:10
