http://www.lampungpost.com/buras/10003-bom-solo-perlu-langkah-korektif-pluralitas-sosial.html

      Bom Solo, Perlu Langkah Korektif Pluralitas Sosial! 
        
      Senin, 26 September 2011 01:17  
      "PRESIDEN SBY menduga serangan bom bunuh diri ke Gereja Bethel Injil 
Sepenuh (GBIS) Solo, Minggu (25-9), dilakukan kelompok yang sama dengan bom 
bunuh diri di masjid markas Polres Cirebon 15 April 2011!" ujar Umar. "Ia 
mengutuk tindakan terorisme yang tak sesuai asas kemanusiaan, harus kita hadapi 
sebagai musuh bersama seluruh masyarakat bangsa! Dengan ungkapan prihatin 
kepada para korban, ditegaskan semua biaya pengobatan korban ditanggung 
pemerintah!"

      "Bom Solo itu pesan dari kelompok teroris yang sepanjang tahun ini 
disikat habis-habisan oleh Densus 88, bahwa musuh bersama masyarakat bangsa 
Indonesia itu masih ada!" timpal Amir. "Pesan terpenting mereka, kepuasan 
polisi setiap kali memamerkan barisan foto hasil penangkapan tersangka teroris 
belum bisa membuat Indonesia benar-benar bersih dari teroris! Dengan bom Solo 
itu pula teroris unjuk diri, keberadaan mereka patah tumbuh hilang berganti!"


      "Meskipun demikian, serangan bom yang provokatif ini menjadi penguji bagi 
kekokohan sendi-sendi pluralitas bangsa!" tegas Umar. "Kita lebih sering 
melihat pluralitas bangsa lewat struktur kultural dan agamais, dengan melupakan 
pluralitas sosial! Padahal, pluralitas sosial itu lebih realistis, juga menjadi 
bagian tak terpisahkan dari pluralitas kultural dan agamais! Akibatnya, kita 
selalu tak habis pikir ketika melihat peristiwa yang musykil terjadi dari segi 
pluralitas kultural atau agamais tapi terjadi juga! Karena, yang sebenarnya 
terjadi adalah krisis pluralitas sosial di balik pluralitas kultural dan 
agamais itu sendiri!"


      "Ketakmampuan melihat esensi krisis pluralitas sosial itu sehingga 
cenderung menghindarinya karena terselubung dalam pluralitas kultural dan 
agama, membuat jlegar-jlegur bom yang tak henti selama ini tak pernah 
menghasilkan langkah korektif yang konkret!" timpal Amir. "Sebaliknya, perilaku 
yang mempertajam krisis pluralitas sosial itu justru menjadi pameran nyata dan 
semakin terbuka dari kalangan elite bangsa, terutama elite politik! Akibatnya, 
krisis dan konflik yang merasuk dalam sendi-sendi pluralitas bangsa tak 
dikenali sehingga dari waktu ke waktu sendi-sendinya semakin rapuh dan keropos 
mengaktual dalam aneka peristiwa, dengan gongnya bom teroris!"


      "Masalahnya terpulang pada kesadaran kalangan elite atas perilaku mereka 
yang menjadi sumber krisis merapuhkan sendi-sendi pluralitas sosial sebagai 
inner dinamic dalam pluralitas kultural dan agama!" tegas Umar. "Krisis 
pluralitas sosial ini perlu langkah korektif yang konkret! Pesan bom Solo pun 
bisa kita maknai dengan tepat!" ***

      Share this post 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke