Obituari: Dr. Kengkie Liem - Ken Liem Laheru
May 7th, 2011

Dr. Liem Kengkie (Ken Liem Laheru) wafat pada 2 Mei 2011. Beliau  adalah salah 
satu pendiri Teknik Penerbangan Institut Teknologi  Bandung. Pada 1962, 
kuliah-kuliah bidang penerbangan diberikan di  jurusan Mesin-Elektro oleh 
beberapa dosen ITB yang baru pulang dari  Eropa/US, di antara Prof Oetarjo 
Diran dan Dr Laheru. Laheru pindah ke Amerika Serikat pada 1969. Beliau 
diterima masuk  program Ph.D. di University of Utah. Setelahnya, beliau bekerja 
di  Thiokol Corporation, perusahaan penyedia material pesawat udara dan  
antariksa. Bidang keahliannya adalah material pesawat. Dr Laheru aktif  menulis 
jurnal ilmiah internasional. Sebagian diterbitkan sebagai  technical document 
di NASA (misalnya: Thermomechanical coupling in  fatigue fracture of 
viscoelastic materials, NASA Technical Report,  1975. Indonesia kehilangan satu 
lagi insan terbaiknya di bidang penerbangan.  Ikatan Alumni Penerbangan ITB 
menyampaikan belasungkawa  sedalam-dalamnya kepada keluarga Dr Laheru. 
Mudah-mudahan kepergian  beliau dapat diikhlaskan, dan segala amal baiknya 
diterima Tuhan. 

Berikut catatan pendek dari seorang sahabat beliau, Oetarjo Diran,  yang 
dirilis di milis IAP: Sekitar lima atau enam dekade yang lampau saya bertemu 
pertama kali  dengan Kengkie di kota Bonn, Jerman Barat. Pak Habibie 
memperkenalkan  Kengkie kepada saya. Liem Kengkie belajar di Technische 
Hochschule  Aachen, Jerman Barat, satu angkatan dengan Pak Habibie. Saya 
sendiri  sedang belajar di Technische Hoogeschool Delft, Belanda, dalam bidang  
yang sama dengan Pak Habibie dan Pak Kengkie, yaitu flugzeugbau (Jerman) atau 
vliegtuigbouwkunde (Belanda), yang berarti teknik  penerbangan. Kesempatan tadi 
adalah dalam rangka satu pertemuan  persiapan Kongres PPI Eropa. Tidak lama 
kemudian,  pada 1958, saya pulang kembali ke tanah air.  

Sesuai dengan ketentuan ikatan dinas Kementerian Pendidikan dan  Kebudayaan, 
saya melaporkan kepulangan saya di Jl. Cilacap No. 4. Saya  diberi pilihan 
bekerja di Departemen Perhubungan Sipil (bersama  almarhum Pak Kkarno Barkah) 
atau Garuda Indonesian Airways (di bawah  pimpinan Ir. Soetoto). Saya kemudian 
pilih Institut Teknologi Bandung  yang saat itu terkenal dengan nama Fakultas 
Teknik Universitet  Indonesia. Setahun sebagai dosen mekanika fluida, 
perpindahan kalor dan  termodinamika, memang agak meresahkan saya, karena saya 
sudah belajar  lima tahun ilmu-ilmu perancangan dan perakitan pesawat udara. Di 
 semester pertama tahun pelajaran 1959-60, di samping tugas resmi  memberi 
kuliah mekanika fluida, perpindahan kalor dan termodinamika,  saya mulai 
memberikan kuliah pilihan dalam bidang aerodinamika dan  mekanika dan dinamika 
terbang. Ini sebenarnya sebagai persiapan kelak  mendirikan sub-jurusan teknik 
penerbangan. Ini masih berupa impian,  dan saya lakukan dengan cara diam-diam, 
karena saya hanya bersama  dengan Ir Yuwono (kuliah pilihan struktur ringan), 
Ir Sugito (kuliah  teknik penerbangan/aeronautical engineering 
/vliegtuigbouwkunde). =20  

Saya menceritakan impian saya mendirikan sub-jurusan teknik  penerbangan kepada 
Pak Habibie, dan menyatakan memerlukan seorang  kawan dosen. Beliau kemudian 
menyebut nama Liem Kengkie. Liem Kengkie kembali pada awal 1960, dan pada 
semester pertama tahun  pelajaran 1961-1962 secara fait-accompli (tanpa banyak 
ribut-ribut)  kuliah-kuliah pertama dalam kurikulum sub teknik penerbangan 
mulai  diberikan di Jurusan Mesin, Departemen Mesin-Elektro. Dosen yang  
mengajar penuh antara lain Dipl.-Ing. Liem Kengkie dan Dr.-Ing.  Buchmann. Dari 
auri ada Ir Yuwono, Ir Sukendro Wardoyo, Ir Sugito, Ir  R.G.W. Senduk. Dari 
departemen Perhubungan, ada Ir. Karno Barkah,  MSME. Mahasiswa yang terdaftar 
adalah mereka yang dalam = dua tahun  sebelumnya mengikuti kuliah-kuliah 
pilihan aerodinamika dan struktur  ringan (antara lain Ir Nugroho, Ir Slamet B. 
Santoso, Prof Sulaeman  Kamil, dan lainnya). 

Liem Kengkie yang saya kenal adalah seorang pendiam, sabar, tidak  banyak 
omong, namun memiliki ke-khas-an seorang engineer: precise,  dengan pengertian 
mendalam bahwa the engineering detail is very  fundamental in the engineering 
profession. Kuliahnya sangat populer  dibandingkan dengan kuliah-kuliah saya. 
Pendidikan Jermannya sangat terrasa: precise, scientific, in-depth dan sangat 
dapat  dipertanggungjawabkan secara akademis. Beberapa tahun kemudian, segera 
setelah adanya kerusuhan terhadap  kelompok masyarakat keturunan (1965), Pak 
Liem Kengkie datang kepada  saya. Dengan agak tersendat beliau menyatakan 
terpaksa akan hijrah ke  USA dengan alasan bahwa masa depan keluarganya 
memerlukan jaminan  keselamatan, kenyamanan dan kesempatan hidup yang layak, 
yang  diperkirakannya mungkin tidak akan diperolehnya di Indonesia.  

Keputusan pergi ini berat sekali bagi beliau dan keluarga, karena  mereka 
adalah orang Indonesia kelahiran Indonesia. Beliau mengatakan  filosofi jus 
soli (right of the soil) dan jus sanguini (right of the  blood).  Dia biasanya 
menjadikan pegangan jus soli: dilahirkan di  Indonesia, dus, orang Indonesia. 
Namun dalam keadaan ini beliau  terpaksa  berpegangan pada jus sanguini, bahwa 
beliau adalah keturunan  non-pribumi. Dan keterkaitan darah menjadi penting 
adanya. Sekedar  sebagai menguatkan diri dan pendapat dirinya yang sangat 
dipengaruhi  keadaan saat itu, beliau minta maaf dan merangkul saya:  verzeihen 
sie mir, ich musse gehen (maafkan saya, saya harus pergi)  Beliau juga 
mengucapakan sepatah dua kata dari karya Goethe yang  berbunyi kira-kira 
demikian  was is das herz des menschens dich (Indonesia) zu verlassen den  ich 
so liebe und froh zu sein Artinya kira-kira: bagaimana hati seorang manusia 
meninggalkan  Indonesia yang ku cinta yang senang menjadi (orang Indonesia). 
Saya tidak mencoba menghalanginya karena memang agaknya keputusan  hijrah ini 
sudah mutlak dijadikan arah jalan hidup beliau dan  keluarga.  

Beliau keluar dari ruangan, menutup pintu. The rest is history.  Pada 1980an 
saya bertemu kembali setelah 20 tahun hanya berhubungan  melalui surat dan temu 
muka pada saat-saat yang langka. Beliau masih  merasa berterimakasih terhadap 
masyarakat dan tempat kelahirannya.  Namun, dengan keluarga yang besar, dan 
kemampuan serta pengalamannya  yang diperoleh di Thiokol, beliau terpaksa 
mengambil keputusan logis  bahwa kebutuhan Indonesia (dan kepentingan keluarga  
dengan  keluarganya menjelang remaja) mengharuskan pengambilan keputusan tidak  
kembali.  

Dengan demikian, kita berpisah kembali, di kamar kerja saya yang saya  huni 
puluhan tahun lamanya, dan kali ini, ternyata untuk  selama-lamanya. Beliau 
telah pergi. Kemarin malam kami dapat kabar  dari USA.  Semoga Tuhan yang Maha 
Esa memberkahi beliau Selamat jalan, Kengkie, comrade in arms. May his soul 
rest in peace.

- Oetarjo Diran (6 Mei 2011)
  Posted in Alumni Profile, Founder PN-ITB

BLOG Indonesia Updates
http://indonesiaupdates.blogspot.com

BLOG & Feed LowonganNet
http://lowonganNet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Lowongannet

BLOG & Feed Export Import Marketplaces
http://export-import-indonesia.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Export-import-indonesia

Kirim email ke