Sudah Saatnya Beralih Ke Pasar Internal
http://berdikarionline.com/editorial/20110927/sudah-saatnya-beralih-ke-pasar-internal.html
Selasa, 27 September 2011 | 1:27 WIB

Editorial

Sebuah depresi ekonomi terparah dalam sejarah umat manusia baru akan mulai. 
Begitulah tajuk rencana Global Research, sebuah media penelitian independen 
yang berbasis di Montreal, Kanada.  Michel Chossudovsky, salah seorang editor 
media ini, bahkan memperkirakan bahwa depresi ekonomi yang sudah di depan mata 
akan jauh lebih besar dibanding “depresi besar” tahun 1930-an.
Menurut perkiraan peneliti progressif ini, seluruh sektor ekonomi global pun 
akan terkena dampak. Lagipula, dalam dunia yang sudah terglobalisasi dan 
ekonomi dunia terhubung satu sama lain, maka krisis di sebuah negara akan 
mempengaruhi tempat lain. Apalagi jika yang krisis adalah Amerika Serikat dan 
Eropa.

Merespon bahaya yang sudah di depan pintu, Tiongkok tidak mau pasrah dan 
bertindak bodoh. Negara perkasa dari timur ini sudah mengambil sejumlah langkah 
penting. Salah satunya adalah beralih ke pasar internal.

Pemerintah Tiongkok tahu betul, krisis utang yang sedang melilit AS dan Eropa 
akan mempengaruhi ekspor mereka. Pasar di Amerika dan Eropa akan mengalami 
kelesuan dalam waktu yang cukup lama. Lagi pula, karena terperangkap krisis, 
negara-negara Eropa akan fokus mengurus internalnya.

Sejak menerapkan reformasi dan politik terbuka, kira-kira dari tahun 1970an 
hingga sekarang, Tiongkok telah mencapai banyak sekali kemajuan. Pertumbuhan 
ekonomi (year-on-year) selama 30 tahun terakhir selalu dua digit. Produk 
Domestik Bruto (PDB)-nya telah meningkat dari 140 milyar USD pada tahun 1970-an 
menjadi 6 triliun USD tahun lalu.

Selama satu dekade terakhir, Tiongkok telah menyumbang 20% pada PDB dunia, 
sedikit lebih tinggi dari kontribusi Amerika Serikat.

Tetapi, ada masalah besar yang mengancam Tiongkok: mereka sangat bergantung 
pada ekspor. Ini akan menjadi masalah ketika AS dan Eropa sedang mengalami 
krisis. Konsumsi domestik Tiongkok hanya berkontribusi 37% pada pertumbuhan 
tahunan PDB. Sementara, di negara-negara maju angkanya bisa 70%.

Tetapi ekonomi Tiongkok tetap paling tangguh di dunia. Pada tahun 2009, saat 
krisis finansial sudah benar-benar menggigit, hanya Tiongkok-lah  satu-satunya 
negara yang bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi 9,2%. Angka rata-rata 
pertumbuhan secara global juga negative.  Sedangkan Amerika Serikat, raksasa 
ekonomi dunia sejak perang dunia Ke-II, harus pasrah dengan pertumbuhan 
negative -2,6.

Tetapi Tiongkok tidak lekas sombong. Pemimpin Tiongkok tidak seperti SBY yang 
terlalu pongah menyebut negaranya berhasil “melalui krisis”. Sebaliknya, 
pemerintah Tiongkok meluncurkan program yang disebut Rencana Lima Tahun 
(2011-2015) untuk mendorong permintaan domestik.

Ketika berhadapan dengan krisis, pemerintah-pemerintah eropa memilih untuk 
mensubsidi orang kaya melalui paket stimulus, sementara subsidi untuk rakyat 
banyak dipangkas secara drastis melalui program penghematan anggaran. 
Pemerintah Indonesia, yang sejak awal ikut skenario IMF dan Bank Dunia, ikut 
melakukan cara-cara itu.

Tiongkok tidak melakukan itu. Pemerintah Tiongkok justru menggelontorkan 586 
milyar USD untuk membangun proyek infrastruktur di seluruh pelosok desa 
Tiongkok dan proyek menciptakan pekerjaan guna menstimulus permintaan di dalam 
negeri. Tiongkok juga sedang berjuang keras untuk menaikkan pendapat individu 
dan tingkat kesejahteraan sosial.

Orang bisa saja memberi label macam-macam kepada Tiongkok—pejalan kapitalisme, 
sosialisme, ataupun pragmatisme, tetapi kelihatannya Tiongkok tidak mau ambil 
pusing dengan itu. Yang jelas, bahwa Tiongkok melakukan segala upaya untuk 
berkembang menjadi kekuatan yang diperhitungkan di dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Kelihatannya Indonesia masih akan mengikuti cara 
yang lama. Sejauh ini, konsentrasi pemerintah masih pada langkah-langkah 
moneter dan fiskal, yakni melalui protocol penanganan krisis.

Indonesia adalah negara yang sangat bergantung kepada ekspor. Sejauh ini, 
solusi dari Kementerian perdagangan adalah diversifikasi pasar ekspor, 
penguatan daya saing produk Indonesia, dan penguatan pasar dalam negeri. 
Tetapi, belum ada rincian seperti tiga kebijakan ini akan dilakukan.

Belum ada sebuah itikad baik untuk berpaling dari jalan neoliberal. Padahal, 
tanpa perubahan kebijakan ekonomi, Indonesia akan sangat rentan dirobohkan oleh 
krisis: baik oleh krisis internal akibat kegagalan neoliberal maupun ekses dari 
krisis global.

BLOG Indonesia Updates
http://indonesiaupdates.blogspot.com

BLOG & Feed LowonganNet
http://lowonganNet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Lowongannet

BLOG & Feed Export Import Marketplaces
http://export-import-indonesia.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Export-import-indonesia

Kirim email ke