Ada Bintang Kejora di Depan Istana Fabian Januarius Kuwado | Hertanto Soebijoto KOMPAS/FERRY SANTOSO Sejumlah mahasiswa dan pemuda Papua berunjuk rasa di derpan Istana Negara, di Jakarta, Kamis (1/12/2011).
JAKARTA, KOMPAS.com Perayaan 50 tahun kemerdekaan bangsa Papua Barat, Kamis (1/12/2011), diwarnai aksi unjuk rasa oleh pemuda Papua se-Jawa-Bali di depan Istana Negara, Jakarta Pusat. Beberapa peserta aksi melukiskan bendera Bintang Kejora di wajahnya. Kami juga ingin mengatakan sudah saatnya rakyat Papua merdeka. Negara di dunia harus mendukung dan mengakui Papua sebagai bagian negara di dunia. -- Frans Tomoki Dengan membawa spanduk berisi tuntutan dan memakai pakaian tradisional Papua, sekitar 100 orang melakukan tarian sebagai ekspresi perjuangan rakyat Papua selama ini. Dalam selebarannya, aksi tersebut menuntut Presiden SBY untuk mengembalikan kedaulatan Bangsa Papua Barat yang pernah diakui Ir Soekarno melalui Trikora 19 Desember 1961 di Yogyakarta. Frans Tomoki, juru bicara aksi tersebut, mengatakan, aksi tersebut adalah perayaan 50 tahun kemerdekaan bangsa Papua Barat. "Kami juga ingin mengatakan sudah saatnya rakyat Papua merdeka. Negara di dunia harus mendukung dan mengakui Papua sebgai bagian negara di dunia," ujarnya. Aksi tersebut tidak menimbulkan kemacetan dan dijaga ketat oleh petugas kepolisian. Hingga Kamis sore, aksi terus berlanjut dengan meneriakkan yel-yel dan orasi. http://www.sinarharapan.co.id/content/read/bintang-kejora-berkibar-di-papua/ 01.12.2011 14:30 Bintang Kejora Berkibar di Papua Penulis : Odeodata H Julia/Lili Sunardi/Ruhut Ambarita/Vidi Batlolone/M Bachtiar Nur JAYAPURA Sejumlah sekolah di Papua, Kamis (1/12) pagi ini diliburkan menyusul perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang jatuh hari ini. Aktivitas masyarakat juga sepi seperti di pasar tradisional serta sejumlah ruas jalan. Kantor pemerintahan juga memilih tutup. Di Lapangan Timika Indah, Mimika, Papua, peringatan diwarnai dengan tarian waita yang dilakukan ratusan orang. Terkait hal itu, Kepala Humas Polri, Irjen Saud Usman Nasution di Jakarta, Kamis pagi ini menyebutkan, peringatan HUT ke-50 OPM di Papua pagi ini diwarnai aksi pengibaran bendera Bintang Kejora. “Kami telah menurunkan dua bendera Bintang Kejora yang dikibarkan di dua tempat terpisah, yakni di Dusun Wandegobak, Distrik Mulia, dan di sekitar perbukitan di ujung Bandara Wamena,” katanya. Ia mengatakan, sekitar pukul 06.00 WIT ditemukan dan dilihat dari ketinggian, ada bendera yang berkibar dan petugas langsung menurunkan bendera tersebut. Sementara yang di Wamena diketahui pada pukul 01.20. Sekolah Diliburkan Beberapa anak sekolah yang sempat ditemui SH pagi ini mengatakan, guru menyuruh mereka belajar di rumah saja karena sudah mau ujian semester. ”Kami disuruh belajar di rumah saja,” kata seorang siswa. Libur sekolah dimulai dari SD, SMP, dan SMA. Kondisi itu dilakukan karena khawatir situasi tidak aman selama perayaan HUT OPM itu. Selain banyak guru yang tidak datang mengajar, siswa-siswa juga banyak yang tidak berangkat sekolah. Di SMPN 1 Manokwari, hanya lima guru dari 20-an guru yang masuk. "Siswa juga banyak yang tidak masuk. Tidak sampai setengah dari 788 siswa terdaftar. Orang tua yang mengantar ada yang menunggu di luar sekolah," kata Ramlan, guru di SMPN 1 Manokwari. Kondisi yang sama juga terlihat di SMA 1 Manokwari. Siswa berkerumum di halaman sekolah karena guru-guru tidak memberikan pelajaran. Padahal gurunya masuk, meski tidak semuanya masuk sekolah. Sebenarnya, tidak ada perintah untuk libur, namun karena gurunya resah, terpaksa sekolah diliburkan. Suparno (45), orang tua salah satu siswa di SMPN 3 Manokwari mengaku waswas, tetapi dia tetap mengantarkan anaknya bersekolah karena tidak ada imbauan libur. "Khawatir juga tetapi tidak ada perintah libur dari sekolah, ya saya antar saja dia ke sekolah. Padahal, saya saja tidak ngantor karena kantor tutup," katanya. Sementara itu, kondisi dua pasar trasidional di Manokwari, Pasar Wosi, dan Pasar Sanggeng sepi aktivitas. Tidak banyak lapak dan toko yang buka dan pembeli tak banyak terlihat. Marlina, pedagang di Pasar Wosi mengatakan, sedikit pedagang yang berjualan. Apalagi pedagang dari daerah Masni, Prafi, dan Minyambauw. "Mulai kemarin memang sudah sepi tetapi hari ini sepi sekali," kata pedagang yang mengaku tidak nyaman dengan situasi ini. Perayaan HUT OPM akan dipusatkan di Lapangan Borasi dengan aksi doa dan orasi politik. Panitia dan massa peserta perayaan diminta tidak mengibarkan atau membentangkan bendera bintang kejora. Kesepakatan ini telah disepakati Muspida Manokwari dengan elemen masyarakat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Sementara itu, massa yang mengikuti tarian waita di Lapangan Timika Indah, Mimika, Papua mulai berkumpul sejak pukul 08.00 WIT. Mereka sebagian besar datang dari Kwamki Lama dan Kwamki Baru, dan sejumlah satuan permukiman di sekitar Kota Timika. Massa yang terdiri atas para orang tua, pemuda, dan anak-anak masih terus menggelar tarian waita dan nyanyian-nyanyian dalam bahasa daerah suku Amungme sambil menunggu kedatangan sebagian massa yang masih dalam perjalanan menuju Lapangan Timika Indah. Mereka juga membawa beberapa spanduk bertuliskan "50 Tahun Emas Kebangkitan Kita Bangsa Papua. Tahun Yubilium Papua 2011". Dari sejumlah orasi yang disampaikan beberapa pemuda, massa akan menggelar doa bersama memperingati 50 tahun HUT OPM. Untuk mengamankan acara peringatan HUT OPM, aparat keamanan menurunkan ratusan personel TNI dan Polri bersenjata lengkap. Aparat keamanan tampak bersiaga penuh di panggung Lapangan Timika Indah dan sekitar lokasi itu seperti di Gedung Eme Neme Yauware. Pengamanan acara peringatan 50 tahun HUT OPM di Timika dipimpin Wakapolda Papua Brigjen Paulus Waterpauw. Tampak pula Komandan Danrem 174 Merauke Kolonel TNI Inf Rahman Wiyadi, Wakil Bupati Mimika H Abdul Muis, dan anggota DPRD Mimika, Wilhelmus Pigai. Polisi Tewas Terbunuh Meski berhasil menurunkan bendera Bintang Kejora, pihak kepolisian belum dapat mengetahui siapa yang mengibarkan bendera tersebut. "Kita belum tahu, karena itu kan di gunung. Kita sedang melacak siapa yang mengibarkannya. Itu kan kelihatan dari jauh, sehingga anggota kita berangkat untuk menurunkannya," ujarnya. Selain pengibaran bendera tersebut, Saud juga mengungkapkan, satu anggota dari Polres Jayapura tewas terbunuh, setelah sebelumnya tertangkap oleh kelompok yang besenjatakan panah. Anggota yang tewas tersebut merupakan Bripda Ridwan Napitapulu yang melakukan pengecekan ke lapangan bersama Bripka Dian Budi Santosa atas laporan keresahan masyarakat di salah satu Kampung Berang, Distrik Nimbrokang. "Setelah ditodong senjata, kedua anggota ini meloncat ke Sungai Niru. Kemudian satu orang selamat dan satu orang ditangkap oleh gerombolan ini dan dibunuh," jelasnya. Saat ini, menurutnya, pihaknya masih mengevakuasi korban dan membawanya ke rumah sakit di Jayapura. Selain itu, kini kepolisian juga memburu pelaku dan gerombolan yang sudah membunuh salah satu anggota Polres Jayapura tersebut. Lebih lanjut Saud mengungkapkan, pihaknya masih melakukan pendekatan dan terus mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan kegiatan seperti biasa, meskipun eskalasi keamanan di Papua meningkat dalam dua hari belakangan. Jayapura Kondusif Sementara itu, situasi Kota Jayapura hari ini kondusif. Sejak kemarin siang hingga malam, aparat melaksanakan sweeping, baik terhadap warga sipil maupun anggota TNI, yang dilakukan POM TNI AD, AL, dan AU. Sementara di PTC Entrop sweeping gabungan dilakukan Polresta Jayapura. Di Sentani, Kabupaten Jayapura, juga dilakukan sweeping gabungan di mana aparat menyita sejumlah benda tajam dari tangan para pengendara. Panglima Kodam XVII/Cenderawasih Papua Mayjen TNI Erfi Triassunu mengaku ada peningkatan kewaspadaan menjelang HUT OPM di Papua. Pihaknya mengaku sudah dimintai bantuan personel oleh pihak kepolisian setempat untuk menjaga perkantoran, tempat-tempat perekonomian, dan pusat telekomunikasi. Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Wachyono mengaku ada penambahan personel Brimob dari Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Kelapa Dua Depok, Jawa Barat. Pasukan tambahan ditempatkan di beberapa daerah yang dianggap rawan. "Kita dapat perbantuan dari Mabes Polri, satu kompi dari Polda Sulawesi Utara, Kalimantan Timur, dan Kelapa Dua," jelasnya. Pasukan yang ditempatkan ada di-stand by-kan di Polda Papua, dan ada juga yang sudah ditempatkan Puncak Jaya, Paniai, untuk membantu di Timika. Koordinator Pusat Komite Nasional Papua Barat Victor Kogoya kepada SH melalui telepon pagi ini menyerukan kepada rakyat sipil agar bangsa Papua Barat di seluruh Tanah Air tidak panik, takut, dan terprovokasi dengan isu-isu pengibaran bendera sang bintang kejora atau adanya isu perang dan lainnya di seluruh wilayah Papua Barat oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. “Kami tidak kasih naik bendera (Bintang Kejora), hanya serukan untuk aksi dan berorasi politik,” ujarnya. Anggota Komisi I DPR Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Helmy Fauzi mengatakan, Komisi I akan mengirimkan tim untuk melakukan dialog langsung dengan warga Papua terkait situasi di Papua belakangan ini dan proses dialog Papua-Jakarta yang tidak kunjung tercipta. "(Berangkat) Awal tahun depan setelah reses," ujarnya di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu siang. Ia mengatakan, Komisi I akan mendorong pemerintah di Jakarta untuk segera memulai upaya dialog Papua-Jakarta yang hingga kini belum tercipta. Terkait peringatan HUT OPM hari ini, Helmy mengatakan aparat telah melakukan upaya-upaya antisipatif terhadap gangguan keamanan di Papua. Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarti mengatakan, pihaknya meminta pemerintah menyikapi peringatan 1 Desember oleh rakyat Papua tanpa mengedepankan cara-cara kekerasan. Dia mengatakan, data diperoleh menyebutkan Polri menurunkan 1.600 personel kepolisian untuk pengamanan momentum tersebut, termasuk di antaranya 400 personel Brimob serta aparat intelijen. “Jumlah aparat keamanan yang diturunkan mengantisipasi peringatan 1 Desember terlalu berlebihan,” tukasnya. Direktur Program Imparsial Al Araf mengingatkan dalam status sipil di Papua, peran TNI pada konteks tugas perbantuan atas dasar keputusan otoritas politik sipil. Rutinitas tahunan yang telah berkali-kali dilakukan tersebut seharusnya membuat Polri lebih bisa mencermati dan memprediksi langkah-langkah yang perlu dilakukan secara tepat dan terukur, serta tidak menggunakan cara-cara kekerasan. "Upaya penanganan ini semestinya tetap dan hanya dilakukan oleh aparat kepolisian dengan menjunjung tinggi profesionalitas, proporsionalitas, dan menghormati hak asasi manusia. Polisi harus lebih mengedepankan pendekatan persuasif di lapangan," ujarnya. Senada dengan Imparsial, Wakil Direktur Demokrasi untuk Papua (ALDP) Yusman Konoras menilai pengerahan kekuatan untuk pengamanan Papua akan memberi kesan buruk pada pemerintah, yang seharusnya menunjukkan wajah kesejahteraan. “Aparat keamanan show kekuatan memberikan kesan di masyarakat Papua. Wajah Indonesia sebagai wajah militer dan kekerasan bukan wajah kesejahteraan,” pungkasnya. Sebelumnya, Kapolri Jenderal Timur Pradopo menegaskan, selama kegiatan tidak melanggar hukum dan ketentuan yang berlaku, pihaknya tetap memberikan tempat bagi kegiatan peringatan OPM. "Saya kira semua kegiatan masyarakat selama tidak melanggar hukum dan ketentuan dilakukan, kita berikan tempat dan tetap menjaga pengamanan acara tersebut," tandasnya. Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, di Bogor, Rabu siang mengatakan, TNI tidak akan menambah jumlah pasukan di Papua terkait HUT OPM. Semua pihak juga diminta tidak melakukan hal yang bisa mencederai persatuan dan kesatuan. "Tidak ada penambahan pasukan atau meningkatkan status keamanan," ujarnya.(CR-19/Ant)
