Demokrasi, tetapi Tak Disiplin dengan Aturan
Khaerudin | Agus Mulyadi
 Kompas/Alief Ichwan Imam Prasodjo

JAKARTA, KOMPAS.com  Meskipun menjalankan sistem demokrasi, kondisi Indonesia 
dinilai banyak yang kontradiktif dengan sistem itu.
Demokrasi di Indonesia dinilai tak berkorelasi dengan penegakan hukum. Di 
Indonesia juga sering terjadi konflik horizontal meskipun demokrasi pada 
dasarnya adalah tata aturan yang disepakati warga negara dalam berkompetisi.

Menurut sosiolog dari Universitas Indonesia, Imam B Prasodjo, kepada Kompas, 
Kamis (1/12/2011) malam, di Jakarta, demokrasi di Indonesia tak dibarengi 
dengan disiplin terhadap aturan yang disepakati.

Imam mengatakan, demokrasi ibarat sebuah software untuk mengatur kompetisi 
memperebutkan sumber-sumber kehidupan.

"Berbeda dengan sistem otoritarian, jelas ada yang mendominasi secara paksa. 
Demokrasi dalam pemahaman saya, sebagai format mendistribusi kepentingan 
melalui negosiasi dengan semua pemangku kepentingan. Sebagai software 
berkompetisi, demokrasi membutuhkan aturan yang disepakati bersama, jadi butuh 
disiplin," kata Imam.

Kenyataannya, menurut Imam, disiplin terhadap aturan ini yang langka di 
Indonesia. "Sudah kalah, tetapi protes dan enggak sportif. Aturan main ini 
sebenarnya bisa berjalan kalau seluruh pemangku kepentingan disiplin," katanya.

Dalam berbagai pemilihan kepala daerah (pilkada), misalnya, pihak yang kalah 
protes dan menggugat di Mahkamah Konstitusi. Tak hanya itu, ekses kekalahan 
dalam pilkada sering kali menimbulkan konflik.

Menurut Imam, selain tak disiplin, sering kali tata aturan yang dibuat juga tak 
tegas dan kabur sehingga menimbulkan celah untuk melanggar.

Kirim email ke