Dahlan: Tidak Ada Kemajuan Tanpa Persaingan
Ester Meryana | I Made Asdhiana

 KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Menteri BUMN Dahlan Iskan (kanan) 
didampingi mantan Menteri BUMN Mustafa Abubakar memberikan sambutan dalam acara 
serah terima jabatan di Kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, 
Jakarta Pusat, Rabu (19/10/2011). Dahlan Iskan resmi menggantikan posisi 
Mustafa Abubakar menjadi Menteri BUMN setelah sebelumnya dilantik oleh Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.

JAKARTA, KOMPAS.com  Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan 
mempunyai kepercayaan bahwa tidak ada kemajuan tanpa persaingan dan tidak ada 
persaingan tanpa penghargaan yang disebut reward and punishment.

Demikian tanggapan Dahlan ketika ditanyai maksud dari diselenggarakannya 
Anugerah BUMN 2011 di Hotel Four Seasons, Jakarta, Kamis (1/12/2011) malam. 
"Ini (Anugerah BUMN) salah satu reward bagi (BUMN) yang prestasinya baik," ucap 
Dahlan.

Ia sendiri mengaku tidak ikut dalam proses penilaian. Penilaian dilakukan oleh 
tim yang diketuai oleh Ketua Umum PII (Persatuan Insinyur Indonesia) Muhammad 
Said Didu.

Penilaian dilakukan selama tiga bulan dengan mengedarkan kuesioner mengenai 
inovasi-inovasi yang dilakukan oleh BUMN. Inovasi menjadi dasar penilaian 
karena tema Anugerah BUMN tahun ini bertajuk "Inovasi dengan Kinerja Unggul." 
Ada 69 BUMN yang mengisi kuesioner penilaian.

Sekalipun tidak menilai, Dahlan menuturkan, ia ikut mempertanyakan apakah BUMN 
yang mendapat penghargaan ini betul-betul bisa teruji. "Mereka (tim penilai) 
bilang ini teruji sekali karena independen sekali," ujar dia.

"Karena ini temanya inovasi, misalnya nanti BUMN yang tadi mendapatkan 
penghargaan inovasi manajemen pasti dia akan diundang oleh banyak pihak untuk 
menceritakan inovasinya seperti apa," tambah Dahlan.

Meskipun anugerah ini diperuntukkan untuk semua BUMN, ternyata ada sejumlah 
BUMN yang tidak ikut serta. Dahlan menyebutkan, kemungkinan alasan BUMN yang 
tidak ikut serta karena menganggap penilaian tidak obyektif.

"Saya menyadari ada beberapa perusahaan yang saya lihat sangat bagus, tetapi 
dia tidak mau dinilai. Itu juga merupakan catatan tersendiri dalam pengertian 
mungkin saja ada yang lebih baik dari yang sekarang mendapatkan penghargaan 
kalau semua perusahaan BUMN mau dinilai," kata Dahlan.

Ke depan, Dahlan percaya, setelah BUMN tersebut tahu bahwa penilaian 
penghargaan obyektif, akhirnya semua BUMN akan ikut serta.

Kirim email ke