Indonesia-China Gelar Pameran Teknologi Tepat Guna
Banar Fil Ardhi | Benny N Joewono

Menteri Riset dan Teknologi RI, Gusti Muhammad Hatta (paling kanan), Wakil 
Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Republik Rakyat China, H.E Dr. Cao 
Jianlin (tengah), dan Duta Besar Republik Rakyat China, H.E Mrs. Zhang Qiyue 
(paling kiri), saat saat pembukaan Pameran Teknologi Tepat Guna Indonesia - 
China, di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (13/12/2011). Pameran yang 
menampilkan berbagai produk inovasi dan teknologi kedua negara tersebut akan 
berlangsung hingga 15 Desember 2011. KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI

JAKARTA, KOMPAS.com  Kementerian Riset dan Teknologi RI bekerja sama dengan 
Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi China menyelenggarakan "The 2011 
Indonesia-China Science and Technology Conference and Exhibition" yang 
diselenggarakan pada Selasa, 13-15 Desember 2011 di Hotel Bidakara, Jakarta 
Selatan.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan, acara ini 
bertujuan untuk saling tukar informasi di bidang teknologi agar perkembangan 
teknologi di kedua negara seimbang.

"Dalam kegiatan ini, kedua negara, China dan Indonesia, bisa bertukar informasi 
di bidang pengetahuan dan teknologi," ujarnya saat ditemui seusai pembukaan 
acara pameran teknologi tepat guna tersebut di Hotel Bidakara, Selasa 
(13/12/2011).

Lebih lanjut, Gusti menambahkan bahwa diperlukan suatu nota kesepahaman (MoU) 
untuk mengatasi tantangan global dan mengisi permintaan dunia terhadap hasil 
ilmiah dan teknologi maju.

"Kedua negara menyadari bahwa selain ajang pendidikan pameran dan konferensi, 
MoU ini untuk promosi dan jembatan kerja sama di bidang iptek," tambahnya.

Pemerintah Indonesia dan China sepakat mewujudkan penandatanganan MoU dengan 
mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan tiap-tiap negara yang meliputi kerja 
sama bidang prioritas, seperti teknologi informasi dan komunikasi, pertanian, 
serta kelautan dan perikanan.

Demikian juga di bidang pendidikan, seperti bioteknologi dan ilmu biomedis; 
bidang energi; penanggulangan bencana, termasuk nonteknologi; serta area 
lainnya.

Kunjungi :
BLOG & Feed Tionghoanet
http://tionghoanet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet

BLOG & Feed LowonganNet
http://lowonganNet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Lowongannet

BLOG & Feed Export Import Marketplaces
http://export-import-indonesia.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Export-import-indonesia

http://www.suarapembaruan.com/home/kerajinan-impor-tiongkok-ancam-industri-kecil/14817

Kerajinan Impor Tiongkok Ancam Industri Kecil
Rabu, 14 Desember 2011 | 8:45

 Menteri Perindustrian MS Hidayat

[JAKARTA] Produk kerajin asal Tiongkok sungguh mengancam produk industri kecil 
di Tanah Air. "Produk kerajinan impor juga banyak berasal dari Hongkong dan 
Korea Selatan," kata Ketua Himpunan Perajin Indonesia (HIMPI), Siti Suprapti, 
di Kantor Kementerian Perindustrian, Selasa (13/12).

Siti mengatakan, nilai impor kerajinan pada kuartal I-2011 juga naik dari US$ 
173,17 juta menjadi US$ 186,18 juta atau sebesar 7,5 persen. Produk impor 
kerajinan yang paling dominan berasal dari Tiongkok 46,3 persen, Hongkong 11,8 
persen, Korea Selatan 10,7 persen. "Ketiga negara ini yang menjadi pesaing bagi 
kerajinan kita," kata Siti.

Sementara nilai ekspor produk kerajinan Indonesia tahun 2010 mencapai US$ 
624,30 juta atau mengalami kenaikan 7,15 persen. Nilai ekspor Januari sampai 
Mei 2011 sebesar US$ 273,54 juta atau meningkat sebesar 8,7 persen dengan 
tujuan utama AS sebesar 43,3 persen, Jepang 12,3 persen, Inggris 4,4 persen, 
serta Australia, Jerman, Belanda, Perancis rata-rata 3,5 persen.  "Namun pada 
akhir tahun 2011 nanti kami menargetkan ekspor maksimal hingga 10%," katanya.

Siti mengatakan, potensi pasar luar negeri (ekspor) juga sangat besar, tetapi 
jangkauan ke pasar luar negeri dan pemahaman mengenai perilaku konsumen luar 
negeri harus terus ditingkatkan. "Konsumen asing relatif memiliki apresiasi 
tinggi terhadap produk atau jasa yang memiliki konten lokal dan bernilai seni," 
katanya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian, MS Hidayat menghimbau para pelaku 
Industri Kecil Menengah (IKM) agar dapat membaca peluang pasar serta mensiasati 
perubahan pasar yang cepat ditengah krisis yang melanda Eropa dan AS.

Permasalahan utama yang dihadapi oleh IKM, kata Hidayat, adalah terbatasnya 
kemampuan akses informasi untuk membaca peluang pasar serta mensiasati 
perubahan pasar yang cepat, sulitnya mendapatkan akses permodalan,keterbatasan 
sumber daya manusia yang siap, serta kurang dalam kemampuan manajemen dan 
bisnis. "Saya menghimbau agar semua kendala dan tantangan yang ada dapat 
dijadikan 'stimulant' bagi para IKM sekalian untuk berjuang dan berkarya lebih 
gigih lagi," kata politisi Partai Golkar tersebut.

Ketangguhan IKM terbukti dari pengalaman lalu ketika menghadapi guncangan 
ekonomi pada tahun 1997-1998 dan krisis 2008-2009 bahwa kreatifitas dalam 
menciptakan desain yang unik telah memberikan kita keunggulan daya saing produk 
di pasar internasional. "Industri kecil dan menengah (IKM) diharapkan menjadi 
penopang utama produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2025 dengan jumlah IKM 
yang terus meningkat diharapkan mampu berkontribusi 50 persen terhadap PBD," 
ujarnya

Pada tahun 2010 lalu, jumlah IKM di Indonesia telah mencapai 3,8juta usaha,yang 
berkontribusi terhadap PDB sekitar 10 persen. Namun saat ini, IKM mampu 
menyerap tenaga kerja sebanyak 9,2 juta jiwa. Total nilai investasi di sektor 
IKM mencapai Rp 244 trilliun dengan kemampuan produksi Rp 561 triliun dan 
ekspor US$ 15 miliar.

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Euis 
Saedah, di tempat yang sama mengatakan agar IKM lebih pintar mencari pasar baru 
terkait dengan kebijakan Generalized System Of Preferences (GSP). "Sekarang ini 
Amerika Serikat dan Eropa sedang mereposisi ekonomi mereka, Jadi wajar jika 
kemudahan-kemudahan dan pre-village masuk akan ditinjau kembali. Tahun 2012 
nanti Kemenperin akan membuka gerai di Timur Tengah sebagai salah satu cara 
dalam membuka pasar baru," ujarnya

Euis Saedah juga menyarankan agar para pelaku IKM untuk bekerja lebih efektif. 
"Saya juga menyarankan agar HIMPI dan para pelaku IKM lainnya supaya bekerja 
lebih efektif lagi, jangan hanya bekerja dengan bisnis as usual yang artinya 
IKM sering bekerja begitu-begitu saja dan tidak melakukan terobosan baru. Hal 
ini yang menjadi salah satu penyebab penghalang majunya IKM," ucap Euis. [E-8]

Kunjungi :
BLOG & Feed Tionghoanet
http://tionghoanet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Tionghoanet

BLOG & Feed LowonganNet
http://lowonganNet.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Lowongannet

BLOG & Feed Export Import Marketplaces
http://export-import-indonesia.blogspot.com
http://feeds.feedburner.com/Export-import-indonesia

Kirim email ke