Usut Juga Pemborosan Anggaran di Istana
| Tri Wahono | Rabu, 18 Januari 2012 | 18:55 WIB 
 KOMPAS/RIZA FATHONI Sekjen DPR Nining Indra Saleh menjelaskan kepada wartawan 
mengenai Ruang Badan Anggaran yang baru di kompleks Gedung DPR, Jakarta, Rabu 
(11/1). Ruang di Gedung Nusantara II DPR ini menghabiskan anggaran lebih dari 
Rp 20 miliar. Upaya renovasi itu untuk mengoptimalkan kapasitas ruang, 
memperbarui sistem penerangan, pendingin, sound system, akustik, lantai, dan 
plafon. 


JAKARTA, KOMPAS.com - Koordinator Advokasi dan Investigasi Sekretariat Nasional 
Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Seknas FITRA), Ucok Sky Khadafi 
menantang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut pemborosan anggaran 
negara. Bukan cuma di DPR, tapi juga di Istana. 

"Saya juga sedang persiapkan judicial review terhadap penggunaan APBN. Yang 
ternyata, dipakai bukan untuk kepentingan rakyat, tetapi malah dipergunakan 
untuk kepentingan para pejabat. Akibatnya, rakyat yang dikorbankan dan negara 
dapat dikatakan menyimpang dari UUD 1945. Dalam waktu dekat kita akan uji 
materil ke MK," kata Ucok, Rabu (18/1/2012). 

Ucok berharap, KPK dapat menunjukkan keberaniannya, masuk ke lingkaran Istana 
mengusut dan melakukan penyelidikan atas penggunaan anggaran negara. Menurut 
dia, salah satu yang layak dicermati adalah anggaran renovasi Istana dan 
Sekretariat Negara yang mencapai lebih dari 80 miliar. 

"Tapi saya ragu, apa KPK berani masuk ke ranah Istana. Padahal dalam UUD 45, 
disebutkan APBN dipergunakan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk para pejabat 
yang malah terjadi pemborosan," ujar Ucok. 

Beberapa waktu lalu, Ucok merilis data mutakhir, terkait pembangunan ruang 
Banggar DPR yang menggunakan dana cukup fantastis Rp 20 miliar. Investigasi 
Ucok, tak sampai soal anggaran merenovasi ruangan Banggar DPR yang baru seharga 
Rp 20 miliar. Sampai hal-hal kecil anggaran di DPR, juga ia dapat dengang 
melihat secara detail pusat data di DPR. 

Alhasil, Ucok membocorkan adanya anggaran untuk pengadaan anggaran yang 
mencapai Rp 1,3 miliar. Yang lain, soal anggaran pengadaan pengharum ruangan, 
juga miliaran. Termasuk, anggaran untuk renovasi toilet mencapai Rp 2 miliar, 
khusus di Gedung Nusantara 1, tempat berkumpul para wakil rakyat. 

"Saya tak perlu sewa intel untuk mendapatkan data anggaran yang dipakai. Data 
yang saya dapat, sebenarnya dapat diakses, hanya publik banyak yang tak tahu," 
kata Ucok.(Tribunnews.com/ Rachmat Hidayat) 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke