AS VS RRT
PDI Perjuangan Belanda: 

Kembali ke Politik Bebas Aktif, Tinggalkan Model SBY dan Marty Natalegawa
Rakyat Merdeka Online 

Kamis, 19 Januari 2012 , 16:59:00 WIB



Laporan: A. Supardi Adiwidjaya

 



      BURHAN AZIS/IST
       
     
     
RMOL. Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada 5 Januari 2012 lalu telah 
mengumumkan strategi baru negaranya di abad ke-21, diantaranya merampingkan 
angkatan bersenjata AS sehingga dapat mengurangi anggaran belanja militer, 
menitik-beratkan hubungan politik, militer dan ekonomi dengan kawasan 
Asia-Pasifik yang saat ini menjadi motor penggerak ekonomi dunia. AS akan 
mengubah cara mencapai tujuannya dengan apa yang disebut "smart power" yang 
memadukan "soft power" dengan "hard power".
 
"Strategi baru ini merupakan penyesuaian terhadap strategi luar negeri AS 
sebelumnya yang dikenal sebagai "Doktrin Bush" yang menekankan hak AS melakukan 
penghacuran terhadap sumber bahaya yang mungkin datang mengancam rakyat dan 
kepentingan Amerika," jelas Ketua Korwil PDI Perjuangan di Negeri Belanda, 
Burhan Azis, saat berbincang dengan Rakyat Medeka Online di Amsterdam, Belanda 
(Kamis, 19/1).
 
Sebagai bagian dari pelaksanaan strategi baru ini, AS mengumumkan rencana untuk 
menempatkan 2.500 pasukan marinir di Darwin, Australia dan di sana akan 
dibangun tempat pelatihan militer AS.  Panglima Operasi Angkatan Laut AS, 
Laksamana Jonathan Greenert mengatakan bahwa mereka berencana menempatkan 
beberapa kapal tempur pantai (littoral combat ship-LCS) dengan difasilitas 
angkatan laut Singapura. Ini semua, kata Burhan, merupakan bagian dari strategi 
keseluruhan Amerika Serikat di Asia Pasifik yang baru-baru ini diumumkan oleh 
presiden AS Obama.
 
Rencana AS memperkuat kehadiran di Asia-Pasifik dan tidak akan mengurangi 
anggaran belanja militer AS di kawasan tersebut, lanjut Burhan Azis, 
menimbulkan kekuatiran Republik Rayat Tiongkok (RRT).
 
Kantor Berita Pemerintah RRT, Xin Hua, tanggal 10 Januari 2012 memberitakan, 
fokus AS yang kembali ke Asia Pasifik telah membawa pengaruh paling mendalam. 
Atau dengan kata lain, AS berusaha mewujudkan keseimbangan dalam pertarungan 
dengan Tiongkok di kawasan Asia Pasifik, dengan titik beratnya mencegah 
keseimbangan strategis kawasan semakin condong ke Tiongkok agar AS jangan 
sampai tersisih dari kawasan ini. 

Dalam konteks itu, kata Azis, AS terang melaksanakan strategi baru di Asia 
Pasifik dengan mengutamakan smart power dan menggunakan perselisihan Tiongkok 
dengan negara-negara sekitarnya. Dalam kondisi itu, negara-negara lainnya 
berusaha melakukan keseimbangan diplomatik di tengah pertarungan Tiongkok dan 
AS. Mereka juga khawatir menimbulkan kemarahan Tiongkok kalau memihak AS, 
sehingga tidak bisa berbagi keuntungan perkembangan ekonomi Tiongkok. "Ini 
menunjukkan lingkungan sekitar Tiongkok masih belum memburuk sepenuhnya."

Sementara CRI (China Radio International) tanggal 13 Januari 2012 menyiarkan 
bahwa tujuan utama pengalihan titik berat strategi AS ke kawasan Asia-Pasifik 
adalah untuk mengekang Tiongkok melalui "pengekangan lunak".  Berkenaan dengan 
itu, Tiongkok perlu melawannya dengan "pengekangan lunak" juga.
 
Selanjutnya mengenai strategi apa yang akan diambil RRT menghadapi strategi 
baru AS tersebut, Xin Hua menulis, "Tiongkok perlu memasukkan Asia Barat dalam 
lingkungan eksternal, merumuskan strategi dengan mempertimbangkan perpaduan 
kondisi laut dan darat, barat dan timur, selatan dan utara, khususnya 
mempertimbangkan kekuatan AS, Rusia, Jepang, India, Australia dan lain-lain 
dalam tatanan yang sama."
 
"Tiongkok hendaknya menggunakan kekuatannya di bidang ekonomi, militer dan 
diplomasi secara terpadu untuk menghadapi krisis, mendorong terbentuknya 
kerangka interaksi positif antara Tiongkok, AS, dan negara-negara di sekitar 
Tiongkok," lanjut tulisan Xin Hua .
 
Bagaimana sikap Indonesia menghadapi perubahan ini?
 
Burhan Azis menjelaskan pentingnya politik luar negeri bebas aktif yang kita 
anut. Sistem ini telah memainkan peranan penting dalam usaha mencapai pengakuan 
kemerdekaan tahun 1949, pembentukan kekuatan Non-Blok dan perjuangan pembebasan 
Irian Barat awal tahun 60-an. Sayang politik luar negeri bebas aktif ini telah 
diselewengkan oleh pemerintah Orde Baru Suharto.
 
Politik luar negeri bebas aktif terbentuk pada masa perjuangan kemerdekaan 
sebagai jawaban pemerintah RI terhadap tuntutan kaum kiri yang meminta kepada 
pemerintah RI agar menyatakan Indonesia berdiri di blok Uni Sovyet. Dalam 
menjelaskan politik pemerintah RI ketika itu, perdana menteri Hatta mengatakan 
bahwa dasar politik pemerintah dapat dibulatkan sebagai berikut; pemerintah 
berpendapat, pendirian yang harus kita ambil ialah supaya jangan menjadi objek 
dalam pertarungan politik internasional, melainkan kita harus tetap menjadi 
subjek yang berhak menentukan sikap kita sendiri, berhak memperjuangkan tujuan 
kita sendiri, yaitu Indonesia merdeka seluruhnya (Hatta dalam "Jawaban 
Pemerintah Kepada BP KNIP", 16 September 1948.
 
Ada dua alasan yang menjadi dasar politik bebas aktif RI yakni, tujuan 
perjuangan bangsa Indonesia dan memelihara kebebasan sebagai subjek, jangan 
sampai menjadi objek kekuatan asing. Tujuan yang harus menjadi landasan 
kebijakan dalam dan luar negeri RI telah ditetapkan dalam Pembukaan UUD 1945, 
yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, 
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut 
melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan 
keadilan sosial.
 
Yang menarik adalah munculnya ide "a Million Friends, Zero Enemies" yang 
menjadi visi politik luar negeri presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan ada 
pula yang menyebutnya sebagai pembaruan penafsiran dari prinsip "diplomasi 
bebas aktif".  Tidak perlu dibahas lebih jauh, cukup hanya melihat praktek 
kebijakan luar negeri  Presiden SBY saja.
 
SBY, terang Burhan Azis, telah membiarkan pencaplokan wilayah perbatasan RI 
oleh Malaysia demi menciptakan "zero enemies". Karenanya kita kehilangan 
wilayah tanah air yang seharusnya kita bela dengan sekuat tenaga. Membela 
seluruh tumpah darah Indonesia adalah kewajiban sakral kita sebagai bangsa 
berdaulat! 

Terhadap rencana Amerika Serikat menempatkan 2500 marinirnya di Darwin, 
Australia, demi menciptakan "zero enemies" SBY hanya mengamini saja apa yang 
disampaikan oleh presiden AS Obama dan perdana menteri Australia Julia Gillard 
yang mengatakan bahwa hal itu (penempatan marinir AS) dilakukan hanya untuk 
keperluan pelatihan militer serta untuk menghadapi ancaman non tradisional 
seperti bencana. "Bahwa tidak ada niatan apapun untuk mengganggu negara-negara 
di luar Australia. Tidak ada niat untuk mengganggu siapapun," begitu jawaban 
SBY di Bali (Sabtu, 19/11) tahun lalu. 

Lebih jauh SBY membela kebijakan AS tersebut dengan mengatakan, baik Amerika 
maupun Australia juga memiliki peran untuk menjaga stabilitas kawasan.
 
RI punya pengalaman buruk dengan AS. Ketika pemerintah RI yang dipimpin oleh 
presiden Sukarno tidak mau mengikuti komando AS, Amerika menggunakan pangkalan 
militernya di Filipina guna melatih anggota-anggota militer PRRI/Permesta, 
mengirimkan senjata ke Permesta di Sulawesi Utara dan PRRI di Sumatera Barat 
guna menumbangkan pemerintah RI yang sah. Bukankah sejarah dapat terulang lagi 
dengan adanya pangkalan AS di Darwin, bila pemerintah RI tidak bersedia 
mengikuti strategi baru AS di Asia Pasifik dalam membendung pengaruh RRT? 
Apakah RI bersedia menjadi objek atau pion AS di Asia Pasifik? kata Burhan, 
sesuatu yang pasti akan ditentang oleh rakyat Indonesia !
 
Berbeda dengan visi luar negeri SBY, menteri luar negeri RI Marty Natalegawa 
menafsirkan politik bebas aktif Indonesia dengan apa yang disebut "dynamic 
equilibrium". "Keseimbangan dinamis" dipahami sebagai kekuatan di satu kawasan 
tidak sama dengan seluruh kebijakan politik luar negeri bebas aktif Indonesia. 
Ia hanya dapat dipandang sebagai satu keinginan tentang bagaimana persaingan 
berbagai kekuatan disuatu kawasan dikelola agar tidak berubah menjadi konflik 
terbuka yang menjurus ke peperangan. 

"Keseimbangan dinamis" dapat kita perjuangkan, tetapi apakah dapat 
dipertahankan dalam jangka panjang, lebih banyak tergantung kepada perimbangan 
kekuatan besar di suatu kawasan. Situasi ketidak-seimbangan baru, diingatkan 
Burhan Azis, akan selalu ada dalam kenyataan. Walaupun demikian, dilihat dari 
reaksi Marty terhadap penempatan pasukan AS di Darwin,  ia berbeda dengan SBY. 
Bila SBY menerima saja penjelasan AS, Marty menganggap hal itu dapat 
menimbulkan "a vicious circle or tensions and mistrust or distrust" (lingkaran 
setan berupa ketegangan dan kecurigaan atau  ketidakpercayaan) di kawasan Asia 
Pasifik. Marty ada keberanian menyatakan sikapnya secara terbuka terhadap 
kebijakan AS.
 
Baik dokrin luar negeri SBY, "a million friends, zero enemies", maupun dokrin 
luar negeri Marty "dynamic equilibrium" berpusat kepada penciptaan suatu 
kondisi lingkungan ekternal Indonesia. Ini, kata Burhan, tidak tergambar apa 
yang menjadi tujuan perjuangan bangsa Indonesia. Sebaliknya dokrin politik luar 
negeri "bebas aktif" seperti yang diuraikan Hatta mencakup dua isi, yaitu 
tujuan perjuangan bangsa serta menjaga kebebasan kita dalam setiap usaha 
mencapai tujuan tersebut.
 
Burhan Azis mengimbau sebaiknya untuk segera meninggalkan dokrin luar negeri "a 
million friends, zero enemies" yang telah membuat Indonesia menjadi "the good 
boy" yang penurut terhadap kebijakan AS! Kita dapat menggunakan kebijakan Marty 
"dynamic equilibrium" sebagai salah satu usaha menciptakan lingkungan sekitar 
kita, tetapi bukan menjadikannya sebagai suatu dokrin kebijakan luarnegeri kita 
secara keseluruhan. Dokrin kebijakan luarnegeri RI tetap harus bebas aktif ! 
 
Menjalankan politik bebas aktif, sambung Burhan, berarti membina hubungan baik 
dengan semua negara termasuk dengan negara-negara besar yang bertarung di Asia 
Pasifik. Tidak terjerumus kedalam keberpihakkan pada salah satu negara besar 
yang berebut pengaruh, menentang pemaksaan kehendak negara-negara besar kepada 
Indonesia, pandai menjaga keseimbangan kekuatan negara-negara besar yang 
bertarung di sekitarnya demi mempertahankan eksistensi, kebebasan, kedaulatan, 
dan kemandirian bangsa demi kemajuan Indonesia. [dem] 

 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke