Permainan Benih Impor Sengsarakan Petani http://www.gatra.com/nasional-cp/1-nasional/7170-permainan-benih-impor-sengsarakan-petani
Benih-benih padi hibrida yang diimpor pemerintah untuk program Bantuan Langsung Bibit Unggul banyak yang bermasalah. Ratusan ribu hektare sawah yang ditanami padi-padi itu kerap mengalami gagal panen. Meski begitu, proyek impor benih ini tetap berjalan. Ada yang mengambil untung? -------- Di jalan setapak di tengah hamparan sawah yang menghijau, Purnomo Singgih, 46 tahun, dengan mantel biru dan sepeda motor bebeknya melaju menembus hujan deras. Ketika ditemui GATRA, Minggu sore pekan lalu, ia baru saja pulang mengontrol sawahnya seluas 2,5 hektare di pinggir jalan raya Kebumen-Gombong. "Mulai masa tanamnya baru November kemarin," katanya kepada GATRA dengan logat Banyumas yang kental. Purnomo adalah Koordinator Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Makmur Sejahtera di Desa Panjatan, Kecamatan Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah. Gapoktan ini menaungi 264 petani dari 11 desa, kendati yang aktif hanya 40-50 orang. Setiap bulan pada tanggal 5, mereka berkumpul di rumah Purnomo yang menjadi markas, untuk membahas berbagai masalah pertanian. Topik hangat pada pertemuan kali ini adalah kabar akan turunnya bantuan benih padi hibrida untuk 50 hektare lahan pada musim tanam mendatang. Namun para petani sama sekali tidak antusias atas rencana ini. Rupanya mereka masih trauma dengan benih-benih hibrida. Terakhir, mereka menanamnya pada Juli-Agustus 2011, dan hasilnya gagal total. "Pertama, rentan penyakit seperti wereng, blas, segala macam. Kedua, gabuk atau kopong nggak ada isinya. Ketiga, nilai jualnya rendah karena rendemen rendah," tutur Purnomo. Pengertian bantuan pun sebetulnya tidak sepenuhnya benar. Sebab para petani masih harus membeli benih hibrida itu. Harganya juga mahal, Rp 50.000 per kilogram, setelah mendapat subsidi dari pemerintah. Padahal, harga benih padi lokal hanya Rp 7.000 per kilogram. Karena itu, para petani di Gapoktan Makmur Sejahtera sepakat untuk menolaknya. Musim ini, mereka sama sekali tidak menanam padi hibrida. "Ini sudah masuk kotak," kata Purnomo, seraya menunjukkan sekantong benih padi hibrida Intani-2 yang tak terpakai. Purnomo mengaku, dari segi kualitas, sebenarnya Intani-2 bagus. "Enak, pulen, dan wangi," katanya. Sayang, padi ini rentan hama seperti wereng, sundep, dan blas. Meski banyak gagalnya, pemerintah seperti tidak kapok untuk terus menggunakan benih-benih impor tersebut. Bahkan, pada 2012, Kementan mengusulkan penambahan alokasi anggaran pengadaan benih hibrida sebesar Rp 252 milyar untuk areal seluas 300.000 hektare. Keruan saja, usulan ini ditolak Komisi Pertanian DPR-RI. Anggota Komisi Pertanian DPR dari Fraksi Golkar, Siswono Yudo Husodo, mengatakan bahwa kemampuan produksi benih hibrida di dalam negeri hanya 36,79% atau hanya untuk kapasitas penggunaan seluas 107.000 hektare. Sedangkan untuk mencapai 300.000 hektare, dipastikan
