Michelle Obama Sukses Paksa Presenter Makan Sayur

TEMPO.CO, California - Seharusnya dalam program televisi Toninght Show"yang 
dipandu Jay Leno, Michelle Obama akan "dikuliti" terkait dengan kesiapan sang 
suami maju dalam pencalonan presiden untuk kedua kalinya. Namun yang terjadi 
seperempat waktu wawancara digunakan Ibu Negara itu untuk mengerjai Leno: makan 
sayuran dan mengudap camilan sehat.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan istrinya tampaknya bersekongkol untuk 
membuat Jay Leno, presenter televisi kondang CBS, mengubah gaya hidupnya. Dalam 
sebuah tweet-nya, Obama pernah menulis, "Akan membuat Jay Leno makan sayuran". 
Semalam, istrinya mewujudkan rencananya.

"Baunya sungguh sedap. Saya kira ini adalah sosis pepperoni," ujar Jay meledek 
saat melihat pizza yang terbuat dari tepung kulit gandum. Ia, seperti dikutip 
Daily Mail, juga meminta Leno menggigit apel yang disajikan di atas mejanya 
beserta beragam menu dari buah dan sayuran. Sang presenter cengar-cengir 
dikerjai.

Tak selesai sampai di situ, Michelle memaksa Leno tak hanya mencicipi apel 
lagi, tapi betul-betul memakannya. Pria tambun yang tampak tak berselera itu 
mengambil potongan apel.

Ibu dua anak ini lalu meyakinkan Leno untuk mencelupkan apel ke dalam madu 
terbuat dari sarang lebah di kebun Gedung Putih. "Ini akan membuatnya lebih 
mudah," ujarnya meyakinkan.

"Gedung Putih? Madu? Kedengarannya buruk," Leno menimpali, sebelum akhirnya 
betul-betul melakukan saran Michelle.

Leno pernah mengatakan kepada sebuah majalah dia belum makan sayuran sejak 
1969. Dia juga menyatakan mencicipi apel terakhirnya pada tahun 1984.

Michelle saat ini sedang getol-getolnya mengkampanyekan gaya hidup sehat 
melalui gerakan yang dilabelnya sebagai "Let's Move!". Ia aktif mengajak publik 
AS, terutama kaum muda, untuk menganut gaya hidup sehat dengan rajin 
berolahraga dan mengonsumsi makanan sehat. Maka melihat gaya hidup Leno, ia pun 
"gemas".

TRIP B



http://www.sinarharapan.co.id/content/read/gula-itu-racun-seperti-rokok/

02.02.2012 17:48

Gula Itu Racun seperti Rokok
Penulis : Albertina SC

CALIFORNIA - Gula “itu racun dan penjualannya harus diatur ketat seperti rokok 
dan alkohol,” klaim para ilmuwan dari Universitas California,  Amerika Serikat, 
 dalam tulisan The Toxic Truth About Sugar yang dipublikasikan jurnal Nature.

Daily Mail, Kamis (02/02), membeberkan para ilmuwan juga berpendapat penjualan 
gula seharusnya diatur secara ketat seperti halnya rokok dan minuman keras. 
Sebab, makanan dan minuman bergula bertanggung jawab atas penyakit, termasuk 
obesitas, kanker, penyakit jantung, dan masalah hati.

Para ilmuwan juga mengklaim gula berkontribusi pada 35 juta kematian di seluruh 
dunia setiap tahun. Karena begitu berbahaya, mereka mendesak untuk 
mengendalikan gula melalui perpajakan dan undang-undang.

Gula
Gula adalah “racun” yang melebihi dari kalori, ilmuwan memperingatkan. 
Karenanya, mereka menyarankan sebuah pajak lisensi penjualan pada mesin penjual 
otomatis.

Dalam artikel tersebut, para ilmuwan menambahkan, "Sedikit gula tidak jadi 
masalah, tapi banyak membunuh—pelan-pelan.”

Para penulis AS memperingatkan bahwa sekarang, obesitas telah menjadi masalah 
yang lebih besar dari kekurangan gizi di seluruh dunia. Gula, kata para 
ilmuwan, tidak hanya membuat orang gemuk, tetapi mengubah metabolisme tubuh, 
meningkatkan tekanan darah, melempar hormon  keseimbangan, dan merugikan hati.

Kerusakan yang dilakukan mencerminkan efek dari minum alkohol terlalu banyak-- 
yang imuwan tunjukan dari penyulingan gula.

Para penulis yang dipimpin Robert Lustig, ahli obesitas di California 
University, mengatakan alkohol dan gula tersedia secara luas, beracun, mudah 
disalahgunakan, dan merugikan masyarakat.

Menurut mereka, mengajar anak-anak tentang diet dan olahraga tidak mungkin 
efektif dan bukanlah jawaban. Solusinya terletak pada pajak dan membatasi 
ketersediaan gula.

Penelitian ini merekomendasikan pemberlakuan pajak dua kali lipat dari harga 
minuman bersoda, membatasi penjualan gula bagi mereka yang berusia lebih dari 
17 atau 18 tahun, dan pengetatan peraturan sekolah yang mencakup mesin penjual 
otomatis dan warung jajanan.

Bahaya Tersembunyi
Dr Laura Schmidt, juga dari California University, mengatakan: "Kami tidak 
berbicara tentang larangan. Kami tidak menganjurkan pemaksaan besar pemerintah 
ke dalam kehidupan manusia.”

Schmidt menegaskan, “Yang kami inginkan sebenarnya adalah meningkatkan pilihan 
masyarakat dengan membuat makanan yang tidak sarat gula yang relatif lebih 
mudah dan murah untuk mendapatkannya.”

Artikel tersebut juga mengungkapkan bahwa konsumsi gula melenting tiga kali 
lipat dalam 50 tahun terakhir. Saat ini, ada lebih banyak orang mengalami 
obesitas daripada yang kurang gizi di seluruh dunia.

Para penulis menyimpulkan tanggung jawab atas masalah ini berada di pundak 
perusahaan makanan yang kemungkinan bakal menolak perubahan. Namun, tekanan 
yang cukup besar akan mampu menggeser kebijakan yang ada. Contohnya, 
pemberlakukan larangan merokok di tempat umum dan pemasangan kantong udara 
dalam mobil.

“Langkah-langkah sederhana ini diambil untuk dijadikan alat bagi kesehatan 
masyarakat dan kesejahteraan. Sudah waktunya untuk menaruh perhatian kita untuk 
gula,” para penulis mengakhiri artikel tersebut.

Namun, ilmuwan lain menggambarkan esai  itu “puritan.” Bagi mereka, gula hanya 
beracun bila dimakan dalam jumlah yang tidak realistis.

Barbara Gallani dari Federasi Makanan dan Minuman yang mewakili industri 
makanan dan minuman di Inggris mengatakan, yang mendesak adalah tindakan untuk 
denyut jantung dan penyakit lain. Salah, ujar dia, jika fokus pada gula saja.

Dia menambahkan: "Penyebab penyakit-penyakit  ini adalah multifaktor dan 
memburukkan komponen makanan tidak menolong konsumen membangun pendekatan yang 
realistis untuk diet mereka.”

Masih menurut Gallani, “Kunci untuk kesehatan yang baik adalah diet seimbang 
dan variasi dalam gaya hidup yang mencakup banyak aktivitas.

Kirim email ke