Naiknya Anggaran DPR
http://www.tempo.co/read/opiniKT/2012/02/03/1756/Naiknya-Anggaran-DPR


Sangat tak pantas Dewan Perwakilan Rakyat menikmati kenaikan anggaran kegiatan 
hingga hampir dua kali lipat pada tahun ini. Anggaran yang besar bisa jadi 
hanya akan dihambur-hamburkan, lantaran kinerja mereka selama ini begitu buruk. 
Target Program Legislasi Nasional jauh dari tercapai, fungsi pengawasan tak 
berjalan optimal, dan sudah bukan rahasia lagi bahwa para politikus Senayan ini 
berlumur korupsi.


Anggaran kegiatan Dewan dan kesekretariatan jenderal itu naik dari Rp 1,75 
triliun pada tahun lalu menjadi Rp 2,9 triliun pada tahun ini. Sebagian besar 
dialokasikan untuk belanja barang, mencapai Rp 1,64 triliun. Lalu belanja 
pegawai Rp 446 miliar. Sisanya untuk belanja modal, anggaran sekretariat 
jenderal, dan alat kelengkapan Dewan. Dana untuk alat kelengkapan Dewan, 
misalnya, naik 30 persen menjadi Rp 224 miliar.


Dewan semestinya tak menyalahgunakan wewenang budgeting untuk mempergemuk 
anggaran mereka sendiri. Apalagi politikus Senayan selama ini kurang produktif 
dan cenderung menghamburkan anggaran untuk jalan-jalan ke luar negeri. Sebagian 
di antara mereka juga terperosok dalam praktek permainan proyek.


Adapun tugas utama mereka sebagai legislator terabaikan. Tahun lalu DPR hanya 
berhasil menyelesaikan 24 rancangan undang-undang, atau kurang dari 30 persen 
dari target Program Legislasi Nasional. Rancangan undang-undang yang sudah 
diselesaikan itu pun ternyata banyak yang bermasalah. Ini tampak dari banyaknya 
pasal dalam sejumlah undang-undang yang dikoreksi oleh Mahkamah Konstitusi.


DPR juga dinilai gagal mengawasi pemerintah. Bukannya mengawasi perilaku korup 
eksekutif, anggota Dewan justru bernegosiasi dengan aparat atau lembaga yang 
korup itu. Mereka bekerja sama �merampok� anggaran negara. Kasus suap Wisma 
Atlet di Kementerian Olahraga, serta kasus dana perumahan transmigrasi di 
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, merupakan contoh paling aktual dari 
kongkalikong anggota Badan Anggaran dengan aparat pemerintah.


Kebobrokan yang sama terjadi dalam pelaksanaan fungsi penganggaran yang diemban 
DPR. Sudah berkali-kali kebocoran anggaran terjadi. DPR bahkan dikenal sebagai 
tempat tersubur bagi para mafia anggaran. Dengan otoritas yang dimilikinya, DPR 
bisa dengan mudah melakukan otak-atik anggaran. Mereka, misalnya, membuat 
proyek akal-akalan dalam renovasi ruang rapat Badan Anggaran sebesar Rp 20,3 
miliar dan rencana pembangunan gedung baru DPR yang anggarannya luar biasa 
besar: Rp 1,6 triliun.


Dengan sejumlah rapor buruk itu, DPR jelas tak bisa sewenang-wenang menaikkan 
anggarannya sendiri. Apalagi Badan Anggaran DPR tak bisa menjelaskan secara 
masuk akal mengapa mereka perlu menaikkan alokasi anggaran kegiatan mereka. 
Alasan bahwa kenaikan anggaran itu sesuai dengan kebutuhan DPR dan sudah 
dibahas bersama Badan Urusan Rumah Tangga DPR dan sekretariat jenderal jelas 
sama sekali tak kuat.


Kenaikan itu justru lebih bisa dipahami sebagai penghamburan uang negara. Ini 
juga menunjukkan ketamakan mereka, lantaran banyak rakyat miskin yang 
membutuhkan uluran negara.

Kirim email ke