Pemerintah Ngotot Naikkan Tarif Listrik
TEMPO.CO

TEMPO.CO , Jakarta:Menteri Keuangan Agus Martowardojo berkukuh tarif dasar 
listrik dinaikkan untuk mengantisipasi membengkaknya anggaran. "Bila tidak 
dilakukan, subsidi listrik akan membesar," katanya seusai rapat dengan Dewan 
Perwakilan Rakyat, Kamis, 2 Februari 2012.

Penghematan subsidi, menurut Agus, akan dialokasikan untuk pos kesejahteraan 
rakyat. Lantaran itu, pemerintah berencana menaikkan tarif dasar listrik 
sekitar 10 persen. "Jika kenaikan tidak berjalan, pemerintah dan DPR harus 
mengkaji usulan APBN Perubahan," ujarnya.


Wakil Ketua Badan Anggaran DPR Tamsil Linrung menyatakan pemerintah tidak perlu 
meminta persetujuan Dewan jika ingin menambah subsidi listrik. Sebab, dalam 
Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012, pemerintah sudah 
diberi kesempatan menambah subsidi paling tinggi Rp 10 triliun. Dana itu 
diambil dari sisa anggaran lebih.


Kenaikan tarif listrik diperlukan, menurut Tamsil, setelah subsidi diturunkan 
menjadi Rp 45 triliun tahun ini. Dengan tarif listrik yang sekarang berlaku, 
kata dia, PLN membutuhkan subsidi Rp 65,6 triliun.


Anggota Dewan Energi Nasional, Tumiran, mengatakan dampak kenaikan tarif tidak 
akan memberatkan masyarakat. Kontribusi terhadap inflasi juga diperkirakan 
bakal di bawah 1 persen karena tak terlampau membebani industri.


Menurut dia, listrik hanya menyumbang 10-15 persen dari biaya produksi. 
Kenaikan harga barang juga bisa dihindari apabila industri dapat mengatur 
margin laba dan efisiensi. "Bila listrik naik 10 persen, hanya menambah biaya 
produksi 1 persen," kata Tumiran.


Saat ini, rata-rata tarif dasar listrik Rp 729 per kWh. Bila tarif dinaikkan 10 
persen, akan berubah menjadi Rp 796 per kWh. Hitungan tarif tersebut sudah 
diajukan pemerintah sejak tahun lalu dengan mempertimbangkan beberapa asumsi, 
di antaranya harga minyak mentah Indonesia pada kisaran US$ 90 per barel, nilai 
tukar Rp 8.800 per dolar AS, penjualan listrik 173,8 terawatt dan losses 8,5 
persen.


Wakil Ketua Komisi Keuangan DPR Harry Azhar Azis meminta pemerintah berhemat 
untuk menambal subsidi listrik. Tahun lalu, kata dia, penghematan anggaran 
mencapai Rp 10 triliun. "Karena itu, setiap kementerian dan lembaga harus 
mengajukan program yang akan dipilih untuk dihemat," ucapnya.


Pengamat energi, Kurtubi, meminta pemerintah mengkaji penghematan PLN dari 
konversi bahan bakar minyak ke gas. Ini terkait dengan dua pembangkit PLN di 
Muara Karang dan Muara Tawang, yang direncanakan menggunakan bahan bakar gas.


ANGGRITA DESYANI | GUSTIDHA BUDIARTIE | AYU PRIMA SANDI | DEWI RINA




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke