Bisnis Sekolah Bisnis
Penulis : Falik Rusdayanto*
http://www.sinarharapan.co.id/content/read/bisnis-sekolah-bisnis/

Fenomena terus meningkatnya pengangguran intelektual di negeri ini dimanfaatkan 
sejumlah lembaga pendidikan untuk menggelar jurusan wirausaha/bisnis.
Tak heran jika bisnis sekolah kewirausahaan (bisnis) kian marak. PPM School of 
Management misalnya, sejak 2005 mengembangkan sekolah tinggi manajemen yang 
berorientasi mencetak manajer-manajer muda serta wirausahawan muda.

Contoh lainnya adalah Ciputra Entrepreneurship School (CES) yang menawarkan 
pembentukan sikap dan perilaku wirausaha melalui serangkaian sistem mentoring. 
Bekal materi pengetahuan bisnis, cara menggali dan mengungkap nilai-nilai 
bisnis, serta berbagai spirit bisnis yang terus ditiupkan, CES berkomitmen 
mencetak wirausahawan-wirausahawan tangguh.

Pun demikian dengan Center for Entrepreneurship Development, Prasetiya Mulya 
Business School (PMBS), yang sejak 2005 membuka program sarjana (S-1) Bisnis, 
setelah sebelumnya bertahun-tahun membuka Program S-2 (Magister Manajemen).

Dengan hadirnya program ini, pelajar Indonesia yang ingin mengenal lebih jauh 
sekolah bisnis tidak perlu pergi ke luar negeri. Di sini, para mahasiswa diberi 
pengetahuan kuat dan keterampilan untuk menjawab tantangan di dunia bisnis.

Maraknya sekolah kewirausahaan tampak hendak menegaskan wirausahawan itu bisa 
dididik, bukan dilahirkan sebagaimana selama ini dipahami sebagian kalangan. 
Wacana apakah wirausahawan itu dididik atau dilahirkan sudah lama berkembang di 
jagat bisnis.

Darah Pengusaha

Mari kita lihat hasil penelitian berikut. Mc Slelland  pada 1961 telah 
melakukan riset di Amerika Serikat yang hasilnya menunjukkan 50 persen 
pengusaha yang dijadikan  sampel penelitiannya adalah mereka yang dilahirkan 
keluarga pengusaha juga.

Penelitian yang dilakukan Sulasmi (1989) terhadap 22 pengusaha wanita di 
Bandung juga menunjukkan sekitar 55 persen pengusaha tersebut memiliki keluarga 
pengusaha (orang tua, suami, atau saudara pengusaha). Keluarga Bakrie, Kalla, 
dan Aksa adalah contoh populer betapa dari sebuah keluarga yang kuat kultur 
bisnisnya akan sangat mungkin terlahir entrepreneur hebat.

Sementara penelitian yang dilakukan Mutmainah (2001) atas delapan pengusaha 
paling sukses di Pangandaran menunjukkan mereka memulai usaha karena 
keterpaksaan. Tak sedikit kisah sukses entrepreneur lantaran diawali kemiskinan.

Thomas Sugiarto adalah salah satu dari deretan kelompok ini. Kepahitan hidup 
dapat memberi energi luar biasa untuk seseorang berjuang mengubah nasib lebih 
baik. Visi itulah yang akan menggerakkannya untuk bekerja keras tanpa lelah, 
mencari peluang tanpa malu hingga akhirnya sukses menghampirinya.

Pada kategori yang ketiga, menurut Muhandri (2002), adalah kelompok pengusaha 
yang umumnya memiliki tingkat pendidikan tinggi. Orang yang masuk dalam 
kategori ini memang mempersiapkan diri untuk menjadi wirausahawan, dengan 
banyak mempelajari keilmuwan (akademik) yang berkaitan dengan dunia usaha.

Dalam kategori ini terdapat pengusaha yang langsung memulai usaha (merasa cukup 
dengan dasar-dasar keilmuwan yang dimiliki) dan ada yang bekerja terlebih 
dahulu untuk memahami dunia usaha secara riil.

Bisa Didapat

Mencermati tiga kategori di atas, kita mendapatkan gambaran bahwa jiwa 
entrepreneur itu bisa didapat dengan berbagai cara. Setidaknya ini bisa 
mematahkan pandangan yang selama ini masih diyakini sebagian kalangan bahwa 
seorang entrepreneur itu dilahirkan dari keluarga dengan kultur bisnis kuat.

Sebaliknya, seorang entrepreneur sangat mungkin dimunculkan melalui berbagai 
kondisi (lewat pendidikan hingga keterpaksaan), meski ia tidak dilahirkan dalam 
keluarga dengan kultur bisnis kuat.

Namun, yang belum dapat dipatahkan adalah kenyataan mayoritas pengusaha yang 
sukses ternyata berasal dari keluarga dengan tradisi yang kuat di bidang usaha 
(bisnis). Dengan demikian dapat digarisbawahi bahwa kultur (budaya) 
berwirausaha suatu keluarga atau suku, atau bahkan bangsa sangat berpengaruh 
terhadap kemunculan kelas wirausahawan baru yang tangguh.

Namun ada satu catatan yang perlu diperhatikan, kultur tersebut tidak dapat 
ditanamkan dalam sekejap. Sangat mungkin para orang tua pebisnis memang sejak 
dini telah menanamkan jiwa wirausaha kepada anak-anak.

Secara komunal, kultur beberapa suku di Indonesia memang mengagungkan profesi 
wirausaha sehingga banyak wirausahawan tangguh berasal dari suku tersebut. 
Namun tak bisa dipungkiri, secara umum kultur masyarakat Indonesia lebih 
mengutamakan profesi yang relatif ”tanpa risiko” (misalnya menjadi pegawai 
negeri atau swasta).

Menilik pentingnya membangun kelas wirausahawan, pemerintah perlu menyusun 
suatu program untuk menanamkan budaya wirausaha di kalangan generasi muda kita. 
Hal itu penting sebagai salah satu solusi guna membantu menyelamatkan 
perekonomian masyarakat di masa depan.

Karena tidak semua orang tua bisa kita harapkan mampu dan mau berupaya 
menanamkan budaya wirausaha kepada anak-anaknya maka penting bagi pemerintah 
untuk menanamkan budaya wirausaha tersebut  dengan sasaran para siswa sekolah 
khususnya, dan masyarakat pada umumnya.

Tentulah usaha itu tidak mudah, tetapi ada baiknya kita belajar pada 
keberhasilan program keluarga berencana (KB) semasa Orde Baru, yang semula 
dianggap mustahil, ternyata dapat dilaksanakan dengan baik.

Selain itu akan lebih baik lagi usaha menciptakan wirausaha baru yang tangguh 
tersebut digalang untuk kalangan lulusan perguruan tinggi yang telah memiliki 
dasar keilmuwan dan intelektualitas yang tinggi.

Ini karena ke depan persaingan usaha di era globalisasi menuntut kemampuan 
seorang wirausahawan dengan kemampuan tinggi.  Untuk itulah berdirinya 
sekolah-sekolah kewirausahaan menemukan argumentasi yang sangat jelas.

Pola Inkubasi Bisnis

Salah satu pola pengembangan wirausaha yang tangguh dan unggul adalah dengan 
memberikan  pembinaan dan pendampingan melalui apa yang disebut inkubasi 
bisnis. Beberapa perguruan tinggi melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian 
Masyarakat (LPPM)-nya maupun Departemen Teknis telah mengembangkan pola 
inkubasi bisnis ini.

Para tenant (unit bisnis binaan) diberikan kesempatan untuk dibina dalam 
periode waktu tertentu. Para tenant diberikan bantuan pendidikan, pelatihan, 
dan magang yang didukung fasilitas/akses teknologi, manajemen, pasar, modal, 
serta informasi. Pada sisi inilah kita menemukan argumentasi bahwa entrepreneur 
itu bisa dididik, bukan semata-mata dilahirkan.

*Penulis adalah Direktur Golden Institute Jakarta, Alumnus Universitas 
Chulalongkorn, Thailand.

Kirim email ke