FPI Dibiarkan, Jajang C Noer Kritik Pemerintah
Fabian Januarius Kuwado | Tri Wahono
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Jajang C Noer

JAKARTA, KOMPAS.com  Wacana pembubaran Front Pembela Islam (FPI) oleh massa 
yang mengatasnamakan Gerakan Indonesia Tanpa FPI di Bundaran HI, Jakarta Pusat, 
menarik minat masyarakat untuk bergabung dalam aksi tersebut, tak terkecuali 
seniman senior, Jajang C Noer.

"Ada imbauan Indonesia damai tanpa FPI di sini, ya saya ikut," ujarnya kepada 
Kompas.com saat unjuk rasa tengah berlangsung, Selasa (14/2/2012).

Ia menyesalkan tindakan ormas tersebut yang kerap menyertakan kekerasan dalam 
beberapa aksinya, padahal organisasi tersebut berlatar belakang agama. "Mereka 
suka sembarangan, main hakim sendiri, seharusnya mereka introspeksilah," 
lanjutnya.

Wanita yang aktif terlibat dalam dunia teater tersebut mengaku memiliki 
pengalaman langsung terhadap aksi kekerasan yang dilakukan FPI. Saat ia dan 
massa dari Forum Kerukunan Antarumat Beragama mengadakan aksi serupa di Monumen 
Nasional, Minggu (1/6/20111) lalu.

"Itu ibu-ibu dipukulin pakai apa tahu, kita semua kabur-kaburan," ujarnya.

Meski kerap memakai kekerasan, Jajang C Noer juga menyesalkan pemerintah yang 
terkesan lambat dalam bereaksi terhadap ulah FPI tersebut. "Lihat aja, 
pemerintah enggak bisa ngapa-ngapain, polisi hanya berjaga saja," lanjutnya.

Meski demikian, ia mengaku tetap optimistis terhadap perdamaian di Indonesia. 
Sebelumnya diberitakan, massa yang mengatasnamakan Gerakan Indonesia Tanpa FPI 
tengah melakukan unjuk rasa di Bundaran HI, Jakarta. Dalam aksi tersebut, massa 
menolak keberadaan FPI yang kerap melakukan kekerasan di Tanah Air.

Aksi tersebut berakhir sekitar pukul 18.00 WIB dengan tertib. Setidaknya lima 
orang ditangkap dalam aksi tersebut. Satu di antaranya diketahui bernama Bandi, 
salah seorang peserta unjuk rasa, sementara empat lainnya tak dikenal dan 
diduga provokator.


FPI Lahir Setelah Reformasi Bergulir
TEMPO.CO 15 Feb 2012
TEMPO.CO, Jakarta - Front Pembela Islam (FPI) cenderung identik dengan 
kekerasan. Akibatnya, muncul penolakan di berbagai daerah. Paling anyar, 
penolakan warga Dayak di Palangkaraya, Kalimantan Tengah atas niat pendirian 
cabang FPI Kalimantan Tengah, Sabtu 11 Februari 2012. Bagaimana awal mula 
berdirinya FPI pimpinan Rizieq Syihab?


FPI lahir dalam suasana reformasi. Sekitar tiga bulan setelah Presiden RI ke-2 
Soeharto lengser, organisasi wadah kerjasama ulama dan umat itu didirikan 
secara resmi tepatnya 17 Agustus 1998. Tujuannya, mengajak umat pada kebaikan 
dan mencegah kesesatan.


Ratusan habib, ulama, mubalig, kiai, dan santri dari Jakarta, Bogor, Tangerang, 
dan Bekasi hadir dalam deklarasi pendirian FPI. Di Halaman Pondok Pesantren 
Al-Um, Kampung Utan, Cempaka Putih, Ciputat, Tangerang, Banten, kala itu penuh 
sesak.


Pada saat terbentuk, ulama dan habib sepuh memilih Rizieq Syihab menjadi Ketua. 
Menurut Sumber Tempo, ia dinilai muda, lugu, dan tidak punya afiliansi politik. 
Ilmu agama Rizieq juga dianggap masih segar karena ia baru lulus sekolah di 
Riyadh, Arab Saudi.


Meski menjabat sebagai ketua, Rizieq tak otomatis mendominasi FPI. Di dalam 
organisasi, Rizieq menangani urusan masjid. Adapun habib sepuh mengurus 
hubungan dengan pihak luar. Namun, pasca rusuh Ketapang, November 1998, peran 
Rizieq semakin menonjol dan mendominasi. Sejak itulah, FPI berkembang di bawah 
kendali Rizieq.


Di bawah Rizieq, FPI terus meluaskan pengaruhnya ke beberapa wilayah di tanah 
air. Namun, aksi mereka yang identik dengan kekerasan membuat sejumlah daerah 
melancarkan aksi penolakan. Aksi penolakan paling anyar dilakukan ratusan warga 
Dayak. Mereka menghadang rombongan FPI di Bandara Cilik Riwut untuk mencegah 
pendirian cabang FPI di Kalimantan Tengah.

DIOLAH DARI BERBAGAI SUMBER | RINA W

Kirim email ke