Anis Baswedan: Pemimpin Sekarang Lebih Suka Meratap
M Agus Fauzul Hakim | Tri Wahono

M. AGUS FAUZUL HAKIMAnies Baswedan, saat memberikan paparan pada Halaqoh Majlis 
Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP), di Kediri, Jawa Timur, Rabu 
(22/2/2012).

KEDIRI, KOMPAS.com  Mental pemimpin negeri saat ini jauh dari optimisme, bahkan 
kepada masyarakat cenderung memberi ratapan daripada harapan. Dibutuhkan figur 
pemimpin yang mempunyai integritas dan mampu mengantisipasi perubahan untuk 
membawa bangsa menuju kejayaan.

Hal tersebut disampaikan oleh Anies Baswedan saat memberikan paparannya di 
hadapan para peserta Halaqoh Nasional Ulama Partai Persatuan Pembangunan (PPP), 
di Hotel Bukit Daun, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Rabu (22/2/2012) malam.

"Pemimpin saat ini lebih banyak hadir di masyarakat dengan ratapan, bukan 
harapan," kata Anis. Dalam kegiatan yang bertemakan "Menatap Tantangan, 
Menimbang Kepemimpinan Nasional" ini, Anies mengingatkan pentingnya 
mengembalikan rasa optimisme dan memberi pesan positif kepada bangsa Indonesia.

Rektor Universitas Paramadina ini mencontohkan, para pemimpin sebelum maupun 
pada awal kemerdekaan dihadapkan situasi bangsa yang penuh dengan 
keterbelakangan, kemiskinan, maupun masalah keamanan. Namun, dengan kondisi 
tersebut, para pemimpin itu dapat membawa republik ini menuju perubahan.

Ia menggarisbawahi, para pemimpin masa prakemerdekaan itu dapat keluar dari 
keterpurukan dengan hadir di masyarakat dengan pandangan optimistis dan 
integritas yang tinggi. Meskipun dalam situasi yang negatif, pesan-pesannya 
mampu didengar di segala penjuru negeri dan mampu menggerakkan gelora rakyat 
untuk berubah.

"Karena mereka tidak melihat republik sebagai mata pencaharian, mereka tidak 
melihat posisinya di politik, pemerintahan, sebagai kesempatan mengeruk 
kekuasaan, ekonomi. Tapi mereka melihatnya sebagai kepentingan bangsa 
Indonesia," tandasnya.

Sebagai dampak hilangnya optimisme itu, lanjut pencetus gerakan "Indonesia 
Mengajar" ini, adalah ketertinggalan bangsa Indonesia dalam tataran dunia 
global. Hal itu terjadi bukan hanya akibat tergerus arus globalisasi maupun 
ketidakmampuan, melainkan kegagalan dalam mengantisipasi perubahan yang akan 
datang.

"Saat ini, kalau kita melihat perspektif ke depan, mengantisipasi yang akan 
datang, kita seharusnya menjadi bangsa yang besar," ujarnya.

Kirim email ke