Pilgub DKI Jakarta
Ada Upaya Sistematis Jegal Calon Independen
Kamis, 1 Maret 2012 | 21:01

 [JAKARTA] Proses Pilkada DKI Jakarta kini memasuki tahap verifikasi untuk 
calon gubernur (cagub) independen. 

Namun, pada tahap ini, permainan kasar dan tidak jujur mulai muncul, dengan 
target menjegal calon independen yang potensial.   

Koordinator Lingkar Madani Indonesia (Lima), Ray Rangkuti kepada pers di 
Jakarta, Kamis (1/3), mengatakan, salah satu isu yang dilontarkan adalah kartu 
tanda penduduk (KTP) palsu cagub independen.   

“Ini bagian dari pembunuhan kharakter cagub independen yang potensial. Dan ini 
juga menunjukkan parpol-parpol tidak punya jago yang mantap untuk disandingkan 
dengan calon independen,” katanya.   

Ray juga mempertanyakan sikap Panwas Pilkada DKI yang cenderung over acting dan 
bukannya menyelesaikan tahapan verifikasi yang tengah berjalan.   

“Kita heran, Panwas bisa keluarkan angka-angka seperti itu, dari mana. 
Sementara, prosesnya (verifikas, Redi) sedang berjalan. Jangan-jangan ini 
bagian daripada skenario untuk mendiskualifikasi cagub independen yang 
potensial,” kata Ray.   

Ray menyebut duet Faisal Basri-Biem Benyamin adalah cagub yang tengah diincar, 
karena setiap hari pendukung pasangan ini terus bertambah. ”Dari berbagai 
survei, dukungan terhadap duet Faisal Basri-Biem Benyamin, terus naik. Foke 
saja yang naik turun. Saya kira, peluang Faisal-Biem cukup menjanjikan. Tinggal 
apakah bisa lolos verifikasi. Di sinilah kami melihat ada upaya menjegal,” 
tegas dia.   

Saat ini, kata Ray, tingkat kepercayaan publik terhadap parpol, melorot 
drastis. Apalagi proses penetapan cagub dari parpol sangatlah pragmatis.   

“Kalau tidak ada uang, jangan harap bisa lolos sebagai calon  yang dijagokan 
partai. Bisa dibayangkan, bagaimana nanti kalau benar-benar terpilih menjadi 
gubernur, kandidat itu mikirnya bagaimana membalikan modal,” ungkapnya.   

Pandangan senada diungkapkan pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), 
Iberamsjah. Menurut dia, untuk mendapat restu parpol sebagai cagub, perlu modal 
besar. Apalagi untuk DKI yang menjadi barometer Indonesia.   

“Kalau enggak sediakan dana besar, enggak bisa membayar mahar politiknya. 
Inilah pragmatisme di parpol yang membuat publik tidak respek,’’ tuturnya.   

Seharusnya, tutur Iberamsjah, rekruitmen terhadap bakal calon kepala daerah, 
mengacu kepada aspirasi masyarakat.  “Sayangnya, parpol lebih melirik isi 
kantong si calon, daripada mendengarkan apa maunya masyarakat,” ucapnya. [L-8]


 
Anggap Pilkades Curang, Massa Duduki Kantor Desa 
M Agus Fauzul Hakim | Kistyarini | Jumat, 2 Maret 2012 | 08:08 WIB 
 Kompas.com/M.Agus Fauzul Hakim Massa berunjukrasa sebagai buntut kecurangan 
Pilkades Desa Banyakan, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Kamis 
(1/3/2012)petang. 

KEDIRI, KOMPAS.com - Ratusan warga Desa Banyakan, Kecamatan Banyakan, Kabupaten 
Kediri, Jawa Timur menduduki kantor desa setempat, Kamis (1/3/2012) petang. 
Mereka menuntut diulangnya pemilihan kepala desa (pilkades) yang berlangsung 
pada sehari sebelumnya. 

Massa mengawali aksinya dengan berkonvoi lalu menutup akses jalan desa 
setempat. Sesampainya di kantor desa, massa membentangkan berbagai macam 
spanduk yang berisi hujatan kepada panitia pilkades. Bahkan, massa juga 
membakar ban bekas serta menurunkan bendera Merah Putih hingga setengah tiang. 

Koordinator aksi, Heru Saputro mengatakan, massa merasa kecewa dengan 
pelaksanaan pilkades yang dianggap sarat kecurangan. Terlebih adanya perbedaan 
antara jumlah pemilih yang memilih dan hasil perhitungan surat suara. " 
Indikasi kecurangannya telah ada. Dari jumlah daftar hadir ada 4.417. Namun 
setelah dihitung ada kelebihan 25 surat suara. Kami minta agar diulang," 
katanya. 

Dalam pemilihan dan pemungutan suara yang berlangsung Rabu (29/1/2012), ada 
empat calon kepala desa yang bertarung, yaitu Sapto Aji Wibowo, nomor urut 1 
dengan perolehan suara 116; Tri Joko Mandala Bakti, urut 2, jumlah suara 1.661; 
serta Agung Sutrisno, nomor urut 3 dengan jumlah suara 1898; serta Subagio, 
nomor urut 4 dengan perolehan 607 suara. 

Sebelumnya perwakilan massa juga melayangkan nota protes berisi penolakan hasil 
pemilihan dan pemungutan suara kepada Panitia Pilkades, kepolisian, Bupati 
Kediri, Ketua DPRD Kediri. Nota protes tersebut sekaligus meminta digelarnya 
pemilihan ulang serta penggantian panitia. 

Sementara itu hingga aksi berakhir, massa harus menahan kecewa karena tidak 
satupun panitia Pilkades yang menemuinya. Bahkan, juga tidak nampak satupun 
aparat polisi yang mengamankan aksi. Massa akhirnya membubarkan diri dan 
mengancam melanjutkan aksinya esok hari. 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke