Warga Eks Timor-Timur
Pilih Jadi WNI, Hidup Tak Membaik
Sigiranus Marutho Bere | Glori K. Wadrianto | Kamis, 1 Maret 2012 | 11:59 WIB 
 KOMPAS.com/ Sigiranus Marutho Bere Maria Elu (49) warga Eks pengungsi asal 
Districk Oekusi, Timor Leste, yang saat ini menetap di Kampung Pengungsian 
Naen, Kelurahan Tubuhue, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, Rabu (29/2/2012) 
malam, bersama anak-anaknya. 
1
KEFAMENANU, KOMPAS.com - Kehidupan berat yang harus dilalui para eks pengungsi 
Timor-timur yang memilih Indonesia sebagai Tanah Air, bukan baru pertama kali 
terdengar. Meninggalkan Timor Timur untuk kemudian mempertaruhkan nasib mereka 
di Indonesia pun bukanlah pilihan yang mudah bagi mereka. Tak ada jaminan bahwa 
hidup mereka akan lebih baik ketika sudah berada di wilayah Republik Indonesia.

Maria Elu misalnya. Janda berusia 49 tahun ini merupakan warga eks pengungsi 
asal Distrik Oekusi, Timor Leste, yang saat ini menetap di Kampung Pengungsian 
Naen, Kelurahan Tubuhue, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. 
Sejak tahun 2006 lalu, ketika suaminya Yosep Kono meninggal dunia akibat 
terserang kanker ganas, Maria harus berjuang seorang diri menghidupi ketujuh 
anaknya.

Sehari-hari, Maria mendapatkan uang dengan bekerja sebagai tenaga pencuci, atau 
penggarap kebun. Pascamengungsi pada tahun 1999 silam, keluarga Maria memilih 
Indonesia sebagai negara mereka, ketimbang kampung asalnya yang kini menjadi 
negara Timor Leste. Sayang, hingga kini pilihan itu seperti tak berdampak bagi 
hidup mereka. Bahkan tercetus dari bibir Maria, sebagai warga negara Indonesia 
ia merasa ditelantarkan.

“Saya sepertinya tidak diperhatikan oleh Pemerintah. Buktinya, bantuan rumah 
murah dari Kementerian Perumahan Rakyat, saya tidak dikasih. Padahal orang 
seperti saya dengan kondisi rumah yang memprihatinkan ini seharusnya 
diprioritaskan,” kata Maria yang ditemui di rumahnya, Rabu(29/2/2012) kemarin.

Rumah Maria memang hanya beratap ilalang dengan banyak bagian dinding yang 
reot. Itupun bukan rumah miliknya. Maria dan anak-anaknya menumpang dengan sang 
ibu, Filomena Kaunan (73). Usia tua menyebabkan Filomena kini pun menjadi 
tanggungan untuk Maria.

Maria yang hanya tamatan Sekolah Dasar mengaku bahwa panitia pembagian rumah 
murah di Desanya hanya memberikan bantuan kepada kenalan dan sanak saudara 
mereka sendiri. Meskipun kondisi rumah mereka tergolong lebih bagus. Maria 
berharap Kementerian Perumahan Rakyat untuk turun ke lapangan dan memeriksa 
pemanfaatan bantuan tersebut. Maria merasa ada yang direkayasa, bahkan 
dimanipulasi.

“Ini saatnya Pemerintah pusat harus turun ke tempat kami untuk memantau semua 
penggunaan termasuk anggaran agar keadilan bisa ada. Karena bukan hanya saya 
yang tidak dapat bantuan, tetapi masih banyak lagi,” keluh Maria.

Terkait dengan keluhan Maria tersebut, secara terpisah Lurah Tubuhue, Kristanto 
Akoit, Kamis (1/3/2012), mengakui, masih banyak warga di kelurahan Tubuhue yang 
membutuhkan bantuan rumah layak huni. "Kami dari pihak kelurahan sudah 
mengupayakan untuk mengusulkan hal ini ke Pemerintah, baik di daerah maupun 
pusat melalui Musrembang maupun secara langsung kepada dinas terkait," jawab 
Kristanto.

Kristanto mengatakan, pada prinsipnya pembangunan rumah layak huni memang 
dilakukan secara bertahap. "Masih banyak juga warga masyarakat yang tentunya 
bukan hanya di Kelurahan Tubuhue membutuhkan bantuan dan diperhatikan 
Pemerintah," katanya lagi.  "Sedangkan, menyangkut bantuan rumah yang telah 
diterima dan perlu diaudit, saya sebagai Lurah Tubuhue tentunya juga akan 
mendukung, sehingga tata pemerintahan yang baik dapat terwujud,” sambungnya. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke