Indonesia Tidak Butuh Pemimpin Loyo!
Maria Natalia | Aloysius Gonsaga Angi Ebo | Selasa, 28 Februari 2012 | 17:29 
WIB 
KOMPAS/HENDRA A SETYAWANFranz Magnis Suseno, SJ. 


JAKARTA, KOMPAS.com — Ahli filsafat dan tokoh agama, Romo Franz Magnis Suseno, 
mengatakan bahwa saat ini negara membutuhkan seorang pemimpin yang berani, 
bukan pemimpin yang loyo dan hanya turut bersedih atas masalah rakyat, tetapi 
tak memberikan solusi. Saat ini, kata dia, pemerintah terlihat tidak berani 
dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, seperti masalah 
pelanggaran hak asasi manusia di masyarakat dan masalah korupsi yang 
merajalela. 

"Bangsa ini tidak butuh pemimpin yang loyo dan lemas. Bagaimana bisa memimpin 
kalau lihat reaksi masyarakat yang bersalah sama-sama menangis, tidak cukup 
itu. Jadi pemimpin yang hanya mengeluh juga tidak cukup. Harus berani bertindak 
dan menawarkan penyelesaian masalah bangsa," ujar Magnis dalam diskusi 
"Meneladani Misi Profetik dalam Kepemimpinan Nasional" di Mega Institute, 
Jakarta, Selasa (28/2/2012). 

Menurutnya, jika pemimpin nasional yang loyo tak dapat diandalkan maka harus 
muncul pemimpin yang bersifat profetik. Artinya, orang yang memiliki sifat 
kepemimpinan tapi berada di luar panggung kekuasaan. Orang-orang yang memiliki 
suara keras untuk mengutarakan aspirasi rakyat dan mengungkapkan kebenaran. 

Kini, kepemimpinan profetik itu belum terlihat karena ada berbagai kepentingan 
yang menginginkan kekuasaan dibandingkan membela kepentingan rakyat. 
"Kepemimpinan profetik adalah mereka yang tidak berkuasa. Mengatakan kebenaran 
terhadap mereka yang berkuasa," lanjutnya. 

Menunggu datangnya pemimpin yang profetik, kata Romo Magnis, Indonesia 
merindukan juga sosok pemimpin seperti Soekarno. Meski tidak banyak 
menyelesaikan masalah negara, kata dia, Soekarno memiliki misi untuk membawa ke 
mana tujuan bangsanya. 

"Soekarno membuat dan mengingatkan semua orang bahwa mereka menjadi rakyat 
Indonesia. Itu yang selalu saya ingat. Di mana pun warga Indonesia berada, 
mereka bangga menjadi bangsa Indonesia, karena Soekarno menanamkan itu. 
Pemimpin harus seperti itu, bukan yang loyo," jelasnya. 

Sementara itu, tokoh senior Partai Golkar, Akbar Tanjung, mengungkapkan, 
pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memikirkan kemaslahatan banyak orang, 
bukan hanya kepentingan pribadi. Namun, sosok pemimpin tersebut sulit ditemukan 
saat ini. 

"Sulit kita mendapatkan pemimpin yang seperti itu dalam kondisi sekarang ini. 
Di situasi politik sekarang ini, politik dimaknai untuk mendapatkan kekuasaan 
dan kekuasaan saat menjadi pimpinan hanya dipakai untuk mencari kekayaan dan 
kehormatan," terangnya. 

Ia mengatakan bahwa saat ini Indonesia kehilangan sosok pemimpin yang dapat 
dijadikan teladan untuk membangun bangsa yang bersih. "Kita membutuhkan 
orang-orang yang menjadi teladan. Kita ingin membangun kehidupan politik yang 
benar sehingga menghasilkan pemimpin yang terpanggil untuk memperbaiki negara 
ini. Itu haruslah pemimpin yang kuat memiliki misi profetik untuk membawa 
kebenaran," pungkas Akbar. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke