http://www.sufinews.com/index.php/Pengajian/jangan-jual-agama-dengan-kekuasaan.sufi

Jangan Jual Agama Dengan Kekuasaan 
Monday, 13 February 2012 16:36 
Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany (19 Ramadhan, tahun 545, H. di Pesantrennya)


Siapa yang rela pada akhirat, ia menjadi yang utama. Siapa yang rela dengan 
sedikit ia mendapatkan banyak. Siapa rela dengan kerendahan, kemuliaan bakal 
tiba. Ridholah dengan ketakpunyaan hingga perkaranya berbalik pada anda dari 
kadar kerendahan dan rela dengannya, maka Allah Azza wa-Jalla menaikkan 
dirinya, Dia Yang Maha Kuasa atas segalanya. Disanalah anda meraih tawadhu’ dan 
adab yang bagus mendekati anda. Sedangkan takabur dan su’ul adab menjauhi 
dirimu. Taat membuatmu baik dan mendekatimu, sedangkan maksiat menjauhi dan 
merusakmu. 

Anak-anak sekalian…. Jangan engkau jual agama dengan buah tin. Jangan engkau 
jual agamamu dengan buah tin para penguasa, para raja dan orang-orang kaya 
serta dengan memakan barang haram. Jika kalian makan melalui agamamu, hatimu 
menghitam. Bagaimana tidak menghitam sedang anda menyembah makhluk?

Wahai yang terhina… Bila saja di hatimu ada cahaya, pasti anda memisahkan mana 
yang haram, syubhat, mubah dan antara yang hitam di hati, melalui cahayaNya, 
dan antara mana yang mendekat pada hatimu dan menjauh dari hatimu. Hai si 
bodoh, aku tidak tahu kecuali usaha dan tawakkal pada Allah Azza wa-Jalla. 
Meraih melalui usaha, di awal iman, kemudian meraih dari Allah Azza wa-Jalla 
setelah tersingkapnya merantara antara dirimu dengan DiriNya. Bila hati kuat ia 
meraih dari Allah Azza wa-Jalla dari tangan makhluk atas perintah Allah azza 
wa-Jalla.

Adapun arti ucapanku, “hilangnya perantara” adalah keterpakuan hati pada 
perantara dan kemusyrikan ketika menjalankan perintah Allah Azza wa-Jalla, tuli 
dari pujian, cacian, dan penerimaan serta penolakan mereka. Ketika diberi ia 
hanya melihat tindakan Allah azza wa-Jalla, begitu juga jika gagal. Kaum sufi 
itu harus bias tuli, bisu dan buta dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla. 
Tidak ada yang di sisi mereka kecuali Dialah Sang Penolong, Dia yang 
merendahkan, memberi, mencegah bahaya yang menimpa mereka, dan memberi manfaat 
pada mereka.

Di sisi mereka hanya ada isi tanpa kulit, bening di atas bening, bagus di atas 
yang bagus. Semua makhluk keluar dari hati mereka. Tak ada yang tersisa selain 
Allah Azza wa-Jalla. Hanya ada dzikir yang rahasia padaNya, bukan pada yang 
lian. Ya Allah limpahi kami rizki pengetahuan tentangMu.

Hati-hati, anda telah menyangka dan merasa mampu membuka dirimu. Kalau tidak 
ada hambatan hukum, pasti aku datangi anda dan aku cela hai si munafik. Jangan 
khawatir posisi utamamu bersamaku, karena aku tidak malu kecuali hanya kepada 
Allah Azza wa-Jalla, aku tidak malu kecuali pada hamba-hambaNya yang saleh.

Sang hamba ketika mengenal Allah Azza wa-Jalla, makhluk-makhluk berguguran dari 
hatinya sebagaimana gugurnya daun-daun kering dari pohon. Yang tersisa sudah 
tiada lagi makhluk secara total, hati dan batinnya buta dari pandangan pada 
mereka, tuli dari mendengar ucapan mereka. Bila jiwa telah tenteram, maka 
selamatlah dalam menjaga badan, kemudian hati pergi menuju Allah Azza wa-Jalla, 
mencari yang dari sisiNya, kemudian turun ke dunia, sehingga bisa mengatur 
nafsu yang tegak dengan kemaslahatannya. Inilah tindakan dan cipta Allah Azza 
wa-Jalla pada para penempuhNya, ketika dunia dating pada mereka untuk memenuhi 
bagiannya dalam rupa orang tua yang penuh uban nan buruk rupa, lalu memberikan 
bagiannya, lalu dunia menjadi pembantunya, dan tak mengambilnya kecuali 
mengambil bagiannya saja, dan sama sekali tidak menoleh padanya.

Anak-anak sekalian… Kosongkan hatimu hanya bagi Tuhanmu Azza wa-Jalla, dan 
sibukkan badanmu serta nafsumu untuk keluarga, lalu anda menjalankan 
perintahNya, bekerja untuk mereka dengan tindakanNya.

Diam di hadapan Allah Azza wa-Jalla, tidak bertanya padaNya dengan penuh sabar 
dan ridho lebih utama ketimbang berdoa, meminta dan memohon. Hapuskan ilmumu 
pada IlmuNya, serahkan pengaturanmu pada pengaturanNya, putuslah hasratmu 
bertambat pada hasratNya. Singkirkan akalmu ketika takdir dan ketentuanNya 
tiba. Lakukan itu semuanya bila anda menghendakiNya sebagai Tuhan, Penolong dan 
Tempat berserah diri.

Diamlah di hadapanNya bila anda ingin wushul (sampai) padaNya. Kehendak dan 
cita orang beriman menyatu, hingga tidak memiliki lintasan sedikit pun kecuali 
lintasan yang datang dari Allah Azza wa-Jalla di hatinya. Ia mendekam di pintu 
TuhanNya Azza wa-Jalla. Bila ma’rifatnya mandiri, Allah membukakan pintu di 
hadapanNya, lalu dibalik itu, ia melihat sesuatu yang tak mampu diungkapkan 
dalam lintas hatinya dan isyarat, sebuah kalam yang tersembunyi dalam batin, 
senantiasa fana’ dari diri dan hawa nafsunya serta akhlak tercelanya, bahkan 
fana’ dari semua makhluk, dalam suasana penuh pemaafan, kebagusan dan 
kenikmatan. Dia menjadi objek dari tindakanNya seperti Ashabul Kahfi. Allah 
Azza wa-Jalla berfirman: 

“Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi 18)

Dengarkan ini hai anak-anakku, imanilah dan jangan engkau dustakan. Jangan 
sampai dirimu terhalang kebajikan dari berbagai arah.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke