http://jurnaltoddoppuli.wordpress.com/2012/03/14/bahaya-industri-agama/


Bahaya Industri Agama

Thursday, 08 March 2012 18:37



Satu dekade yang lalu, Inul Daratista digugat ramai-ramai oleh massa berjubah 
agama hingga sampai ke Majlis Ulama Indonesia.Gara-gara “pengeboran Inul” 
muncul H. Rhoma Irama di garis depan, dan sejumlah Ulama yang mendatangi DPR 
agar segera disahkan UU Anti Pornografi. Rupanya massa pedangdut lebih memihak 
Inul daripada Bang Haji, bukan karena fatwa keagamaannya, namun soal kejujuran 
beragama. Inul lebih jujur, karena dia “ngebor” semata mencari uang di Jakarta. 
Tetapi Raja Dangdut itu menggunakan lambang-lambang dakwah dibalik industri 
musikalnya, yang sangat tipis batasannya, apakah berdakwah melalui musik atau 
membangun industri musik dengan merek dakwah?

 Dalam waktu bersamaan, kiai dan budayawan, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) membuat 
lukisan heboh.  Melukis lingkaran majlis dzikir, ditengahnya ada perempuan 
sedang mengebor gaya Inul Daratista.  Suatu kritik spiritual yang luar biasa 
dalam kanvas itu, betapa banyaknya majlis dzikir yang tak lebih dari tirai bagi 
syahwat para pelakunya. Mereka kehilangan Allah Swt, ketika berdzikir, malah 
perpektif nafsunya yang muncul dalam ritualnya.

 Ketidakjujuran seringkali menguatkan politisasi agama dan menciptakan 
tuhan-tuhan semu yang menjanjikan birahi instan, untuk sekadar melupakan 
problema sosial, ekonomi dan politik pada publik, adalah bentuk pelarian yang 
sungguh memuakkan. Belakangan malah muncul gerakan bisnis bernuansa spiritual, 
kecerdasan spiritual, sedekah berlipat duniawi, pelatihan-pelatihan 
pengembangan SDM bernuansa spiritual,  agar mendapatkan dua pundi-pundi 
sekaligus, mati masuk syurga, sekaligus dapat untung duniawi.  Gerakan yang 
justru menimbulkan pembusukan esensi agama itu sendiri.

 Mengapa? Karena terjadi transaksi “gaya hidup beragama”, sebagai jawaban 
instan atas peluang-peluang material di celah-celah spiritual yang kososng. 
Hasilnya adalah status baru dalam kehidupan sosial modern, sosok manusia dengan 
gaya hidup modern, namun tetap religius dengan mainstream agar dipandang 
sebagai manusia yang dekat dengan Tuhan. Padahal ajaran agama, sama sekali 
tidak mentolerir cara beragama yang riya’ dan hipokrit seperti itu.

 Kasus-kasus penyimpangan atas nama agama, atau yang kebetulan dilakukan tokoh 
yang berlatar agama, mengingatkan kita betapa bahaya bendera-bendera agama 
dikibarkan untuk kepentingan industri ekonomi dan politik. Lebih-lebih ketika 
ummat terpedaya oleh kelatahan budaya, bahwa setiap yang didukung oleh 
mayoritas itu memiliki kebenaran mutlak, dan yang minoritas itu tidak lebih 
dari buih sampah yang batil. Padahal kebenaran bisa didukung mayoritas, dan 
bisa didukung hanya minoritas. Begitu juga sebaliknya, kebatilan.

 Jika kita survey di seluruh negeri ini, merk-merk dagang dan merk “politik” 
dengan bernuansa serba religius, jumlahnya hampir ratusan. Karena menurut teori 
marketing, sebuah produk yang bisa melekat secara emosional setara agama, maka 
produk itu benar-benar sukses di pasar. Inilah yang menarik proyek “berhala 
bisnis” yang dijadikan lahan industri siapa pun yang ingin memaksa Tuhan 
menuruti selera nafsunya.

Karena komoditas manusia modern telah melampaui takarannya, maka perkembangan 
industri muncul dengan eksploitasi apa pun yang untuk membangun kapitalisasi 
dengan segala cara. Bahkan, konsumsi-konsumsi psikhologis yang maniak terhadap 
kekerasan, bisa dijadikan lahan bisnis kekerasan, dan berujung industri perang. 
Konsumsi hedonikal, bisa menyeret maniak kebinatangan manusia untuk dijadikan 
obyek potensial untuk industri syahwat, pemuasan perut, dan emosi status 
sosial, maupun mimpi semunya.

Kekerasan, kebuasan dan kebinatangan, akan terus tumpang tindih saling 
berkelindan dalam gerakan peradaban yang destruktif.  Agama dan simbol 
spititual menjadi sasaran paling potensial untuk dijadikan legitimator atas 
usaha-usaha syahwatiah tersebut, dan sangat berbahaya jika masuk dalam bursa 
pasar, sebagai spirit  dari satu sisi dua mata uang globalisasi. 

Agama mana pun ketika tampil dalam konstruksi verbal, formal, dan simbolik, 
selalu berujung keruntuhan historinya, karena kepentingan berebut penguasaan 
simbol-simbol agama tidak pernah muncul sebagai kekuatan sejarah, kecuali 
sekadar buih-buih yang hebat yang menghempaskan dirinya sendiri dalam 
kebudayaan yang hampa, tanpa moral. Sehina mereka yang memperdagangkan akhirat 
untuk kepentingan dunianya, atau sehina mereka yang berbisnis dengan Tuhan, 
karena memaksakan nafsunya untuk mengukur kriteria keabsahan Ilahi dibalik 
sukses dan gagalnya urusan duniawi.

Kisah sedih yang berulang

 Dalam kultur “amaliah publik” (awam) di bawah, tentu lebih banyak lagi  
munculnya instanisme religious untuk mengukur derajat kesucian tokoh atau 
pemimpin agama.  Hal ini ditandai maraknya dunia magic dan hal-hal luar biasa 
yang dilatari kultur spiritual seseorang, lalu dijadikan ukuran status 
kesucian, manakala instanisme duniawi bisa diproduksi oleh kekuatan 
spiritualnya. Inilah bentuk-bentuk  pembebasan semu penuh tipudaya (ghurur) 
yang tidak membebaskan belenggu ketololan bangsa, khususnya umat beragama.

Kisah sedih soal manipulasi keagamaan, cabulisme, dan munculnya 
kepalsuan-kepalsuan spiritual, senantiasa berulang dalam kehidupan kita, 
terutama ketika depressi ekonomi dan politik menjadi kabut yang tidak 
menumbuhkan semangat dan harapan, maka spontanitas emosi sosial selalu 
bersemburat tanpa kendali, bahkan dalam pelarian spiritualnya. Lembaga-lembaga 
agama, pemerintah dan institusi pendidikan sangat bertanggungjawab atas 
keberlangsungan kekuatan moral dalam beragama. Karena, dalam Islam, institusi 
itu mana pun, baik pemerintahan maupun Ormas, lembaga pendidikan,  dibangun 
justru untuk menegakkan agama. Bukan sebaliknya, agama dijadikan lahan 
formalisasi, bagi kepentingan ekonomi dan politik,  yang berujung perebutan 
hegemoni konflik.Agama bukanlah hiburan spiritual yang dipertontonkan. 
Spiritualitas agama bukan menjadi pintu gerbang bagi para pemburu harta karun, 
apalagi untuk membangun piramida tahta. Jika memegang amanah agama ini seperti 
memegang bara, janganlah memilih salju duniawi melalui jubah agama. Karena anda 
akan sulit membedakan, mana nafsu menghadap Allah Swt, dan mana cinta kepada 
Allah Swt. *****



M. Luqman Hakim, Ph D

Dimuat di majalah GATRA edisi 16 / XVIII 29 Peb 2012


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke