Sebagai pelengkap Info bisa dilihat yang dikatakan upacara “kepala suku Asmat 
Masuk Islam” dengan click pada situs di bawah ini :

http://www.republika.co.id/berita/video/umat/12/02/25/lzwvnh-alhamdulillah-kepala-suku-asmat-ucapkan-syahadat

From: Richard Somawinata 
Sent: Saturday, March 17, 2012 3:09 AM
To: mediacare 
Subject: [mediacare] Klarifikasi Uskup Agats-Asmat ttg Kepala Suku Masuk Islam

  



Sekedar meneruskan informasi saja !!!aep.


Nomor : 49.020.00.05 
Lamp.  : - 
Hal       : Klarifikasi dan Himbauan Pemberitaan :
              “Kepala Suku Besar Asmat Masuk Islam”




Kepada Yth.
Pimpinan Majelis Ulama Islam Asmat
Kepala Penyelenggara Islam Kantor Kementrian Agama Kab. Asmat
Di
Agats – Asmat.


Dengan hormat,

Menyimak pemberitaan yang dibuat oleh saudara-saudari muslim lewat media maya 
(dakwatuna.com; Arrahmah.com) mau pun media cetak (Bantenpost; Republika)  dan 
elektronik (TVRI) tentang “Kepala Suku Besar Asmat Masuk Islam” sungguh 
disayangkan karena  tidak benar. Mungkin ada benarnya bahwa ada orang Asmat 
dari Kampung Per bersama keluarganya sebagaimana diberitakan masuk Islam, 
tetapi bahwa dia adalah seorang kepala suku besar Asmat sungguh suatu 
kekeliruan atau kesalahan. Pemberitaan sensasional yang keliru atau salah ini 
langsung mau pun tidak langsung memiliki dampak religius, social dan kultural 
dalam kehidupan bersama di Asmat. 

Menyadari semua itu maka kami sebagai Uskup Keuskupan Agats yang adalah 
Pemimpin Tertinggi Gereja Keuskupan Agats – Asmat ingin menyampaikan beberapa 
klarifikasi dan harapan atau himbauan kepada kita semua khususnya MUI Asmat dan 
Kepala Penyelenggara Islam Kantor Kementrian Agama Kab. Asmat, demi terciptanya 
kerukunan, toleransi dan persaudaraan sejati dalam hidup bersama di tanah Asmat 
ini. Semoga klarifikasi dan himbauan ini menjadi masukan dan pertimbangan yang 
membantu kita semua dalam membangun komunikasi yang lebih benar dan objektif.


1.        Klarifikasi : “Kepala Suku Besar Asmat”

-          Pengakuan atau gelar Kepala Suku Besar Asmat yang diberikan kepada 
Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) tidak benar. Pernyataan atau 
pemberitaan itu adalah sebuah kebohongan public karena tidak pernah terjadi dan 
tidak pernah ada dalam kebudayaan suku Asmat sampai dengan saat ini. Gelar 
kepala suku hanya diberikan, berlaku dan terbatas dalam satu rumpun saja. 
Kepala suku ini pun bersifat warisan – diturunkan dari leluhur – ayah pada 
garis lurus dan langsung. Secara structural adat / budaya Asmat, yang ada dan 
diakui adalah Kepala Perang dan bukan Kepala Suku apalagi Kepala Suku Besar 
Asmat. Kepala suku itu ada tetapi bersifat local dan terbatas; artinya tidak 
diakui dan berlaku untuk seluruh Asmat. Untuk saudara Sinansius, ia adalah 
warga biasa seperti saudara dan saudari lain yang ditinggal di kampung Peer, 
Distrik Agats. Dalam struktur social dan budaya/adat, dia tidak memiliki 
posisi, kedudukan atau pun jabatan (kekuasaan) apa pun. Bahwa media kemudian 
memberitakan dia sebagai Kepala Suku Besar Asmat, adalah bentuk kebohongan 
belaka.

-          Setelah dicermati dengan saksama dan berdasarkan document resmi 
gereja Katolik Keuskupan Agats – Asmat, saudara Sinansius Kayimter (Umar 
Abdullah Kayimter) adalah warga biasa yang lahir di Per tanggal 13 Desember 
1962 dan dibaptis dalam Gereja Katolik pada tanggal 31 Januari 1963 di Per oleh 
Pastor Miller, OSC. Sebagai saksi pembaptisan waktu itu adalah bapak Mikael 
Apakci. Data kelahiran dan baptisan ini tercatat dalam buku Baptis Paroki Ewer 
No. LB. IV. 5988, tahun 1963.

-          Perlu diketahui pula bahwa dewasa ini masyarakat mengenal yang 
namanya ketua LMAA (Lembaga Masyarkat Adat Asmat). LMAA ini diakui bersama baik 
oleh masyarakat adat maupun pemerintah  yang diketuai oleh Bapak Yuvensius 
Alvons Biakai, BA. SH. Jabatan ini ia emban sebelum menjadi bupati sampai 
sekarang ketika ia dipilih dan menjabat sebagai Bupati Asmat dalam periode 
kedua berjalan. 

-          Kami sangat menyesal dan menyayangkan berita yang sensasional itu. 
Berita ini hemat kami sangat tendensius dan provokatif, dimana dengan 
mengatakan bahwa Kepala Suku Besar Asmat masuk Islam seolah-olah semua orang 
Asmat telah masuk atau menjadi islam. Kami mau mengatakan bahwa berita soal 
Sinansius dan keluarganya menjadi Islam mungkin benar tetapi bahwa dia seorang 
Kepala Suku Besar Asmat adalah suatu yang tidak benar, tidak objektif dan 
merupakan suatu kebohongan public yang direkayasa oleh orang tertentu, kelompok 
tertentu dan media yang memberitakannya. 

-          Tanpa kita sadari bahwa dampak dari pemberitaan yang tidak objektif 
ini dapat menciptakan keresahan dan konflik internal – konflik saudara – 
konflik keluarga antara masyarakat di kampung Per maupun kampung lain yang ada 
di Asmat ini. 

2.      Himbauan Bersama

-          Kami mengharapkan agar pimpinan MUI dan Ketua Penyelenggara Agama 
Islam di Kantor Kementrian Agama Islam Kab. Asmat bisa meneruskan dan 
mengklarifikasi berita ini kepada sumber-sumber media on line sebagaimana 
beberapa Website dan Koran yang telah membuat pemberitaan yang tidak benar itu. 
Intinya bahwa Sinansius Kayimter (Umar Abdullah Kayimter) yang telah menjadi 
islam setelah melalui upacara pengukuhan pada tanggal 19 Pebruari 2012 di 
Masjid Darussalam, Jati Bening – Bekasi, Jawa Barat dengan didampingi oleh 
ustadz Fadhlan Garamatan dan Imam Masjid Istiqlal – Ali Hanayiah, sesungguhnya 
bukan Kepala Suku Besar Asmat. Yang bersangkutan hanyalah masyarakat biasa di 
kampung Per distrik Agats, Kabupaten Asmat.

-          Kami meminta kepada saudara-saudari muslimin dan muslimah agar tetap 
menjaga toleransi, kerukunan dan persaudaraan antara umat beragama dan 
masyarakat di Asmat dengan menyampaikan, menyiarkan, mengajarkan, memberitakan 
segala sesuatu dan khususnya berkaitan dengan agama atau iman kepercayaan yang 
bersentuhan dengan agama atau kepercayaan lain secara objektif dan akurat. 
Jangan kita hanya menyebarkan berita bersifat isapan jempol, sensasional dan 
tendensius yang bisa berdampak pada disharmonitas dan konflik sosial di 
kalangan masyarakat Asmat dan Papua pada umumnya.

-          Perlu diketahui dan disadari bersama bahwa semua masyarakat di Asmat 
telah memiliki iman dan menganut agama atau kepercayaan tertentu (tidak ada 
yang khafir). Untuk itu mari kita saling menghargai dan mendukung satu sama 
lain dalam ranah hidup bersama dengan  semangat persaudaraan dan toleransi.

Demikian klarifikasi dan himbauan dari kami Uskup Keuskupan Agats (Pemimpin 
Gereja Katolik Agats-Asmat) semoga dapat menjadi masukan dan pertimbangan bagi 
kita semua. Atas perhatian dan tanggapan baik dari semua pihak saya sampaikan 
banyak terima kasih.

Agats, 9 Maret 2012

Hormat kami,




† Mgr. Aloysius Murwito, OFM
Uskup Keuskupan Agats

Tembusan kepada Yth.

1.       Bupati Kab. Asmat di Agats
2.       Sekda Kab. Asmat di Agats
3.       Ketua DPRD Kab. Asmat di Agats  
4.       Kepala Kantor Kementrian Agama Asmat di Agats 
5.       Kepala Kantor Kesbang Asmat di Agats
6.       Ketua  LMAA di Agats 
7.       Kapolres Asmat di Agats
8.       Periwira Penghubung Kodim Asmat di Agats
9.       Umat Paroki Ewer (Ewer, Yepem, Peer, Uwus)
10.   Gereja-gereja Kristen di Asmat
11.   Para Pastor se-Keuskupan Agats-Asmat di Agats
12.   File 











[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke