Ref: Rakyat pintar negeri maju, rakyat bodoh atau dibodohkan membuat penguasa 
menjadi kaya raya.

http://makassar.tribunnews.com/2012/03/10/pendidikan-indonesia-untuk-siapa


Pendidikan Indonesia untuk Siapa?
Tribun Timur - Sabtu, 10 Maret 2012 00:35 WITA | 
Pada setting pendidikan formal, apapun jenjangnya, kualitas sang murid manifes 
dengan pemaknaan yang keliru. Mengapa keliru? Kualitas keterdidikan seorang 
siswa harus diukur dengan angka (indeks). Dengan begitu, sang murid akan 
bersikap dan mengambil tindakan apa saja boleh guna menyesuaikan diri dengan 
indeks itu

Bagi suatu negara, pendidikan menjadi salah satu kendaraan yang dapat 
mengantarkan rakyatnya menuju bangsa yang kuat di berbagai lini kehidupan. Pada 
saat yang sama, pendidikan juga menjadi ruang ilmiah tempat mencari solusi 
sekaligus penemu solusi atas penyakit-penyakit sosial, misalnya kekerasan, 
terutama di negara yang didominasi warga yang terbelakang secara ekonomi, 
karena bagaimanapun, kemakmuran (baca: ekonomi) adalah satu di antara beberapa 
alasan terjadi atau tidaknya penyakit-penyakit itu. Menyadari besarnya peran 
pendidikan untuk memperkuat daya saing bangsa, negara-negara di dunia tak 
tanggung-tanggung dalam menyediakan pengganggaran demi penyelenggaraan dan 
sistem edukasi yang lebih baik, entah itu negara maju atau berkembang.

Pemerintah RI menganggarkan 20 persen budget dari APBN dan APBD untuk 
penyelenggaraan pendidikan termasuk untuk gaji guru, dana alokasi pendidikan di 
luar gaji, tunjangan gaji guru dan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Bila 
dihitung-hitung, dari 20 persen anggaran pendidikan itu, 80 persen terpakai 
untuk untuk gaji, tunjangan, dan alokasi tersebut. Tengoklah tetangga kita 
Malaysia. Sebagai perbandingan, di negara yang jumlah penduduknya delapan kali 
lebih kecil dibanding penduduk Indonesia itu, jumlah anggaran pendidikannya 
(data tahun 2010) mencapai 25,52 miliar ringgit atau sekitar Rp75 triliun. Ini 
tidak termasuk gaji guru. Besaran muatan itu tentu saja adalah bukti bahwa 
urusan pendidikan bukanlah anak tiri dan main-main dalam rumah tangga negara. 
Namun, halnya akan beda jika kita membicarakan rumah tangga Ibu Pertiwi. 
Persoalan pendidikan di negeri ini bukanlah persoalan "kemarin sore". Lihat 
saja, penelantarananak usia sekolah, biaya pendidikan yang ogah memihak siswa 
tak mampu, dan kasus putus sekolah belum mendapat prioritas penyelesaian bahkan 
menjelang usia 67 tahun indonesia merdeka. 

Puluhan triliun rupiah dialokasikan tiap tahun anggaran namun kualitas yang 
membanggakan tak kunjung diperoleh. Pula, anggaran itu senyatanya kurang 
mengakomodasi kebutuhan pendidikan anak-anak dari kalangan akar rumput. 
Pendidikan yang mahal memaksa mereka lebih memilih "bersekolah" di belantara 
jalan raya. Yang lebih menyedihkan, pembangunan dan pemberian fasilitas bagi 
wakil rakyat yang seharusnya memikirkan nasib orang kecil digencarkan saat 
bangunan sekolah bocor dan roboh di mana-mana  sehingga para siswa harus 
mengalah belajar di tempat yang tak layak. Yang ada, pemerintah justru 
menggalakkan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dan Rintisan Sekolah Bertaraf 
Internasional (RSBI) yang pada hakikatnya justru mengabaikan wawasan kebangsaan 
dan menguntungkan asing. Sebentuk diskriminasi ini sangat bertentangan dengan 
amanat UUD 1945 pasal 31 ayat 2. Alhasil jurang yang memisahkan para siswa kaya 
dan miskin kian lebar. 

Kualitas Guru

Imbas dari perlakuan yang cenderung abai atas nasib pendidikan juga menyapu 
para tenaga pendidik. Dari 2,92 juta guru, hanya  51,31 persen atau 1,5 juta 
yang berpendidikan minimal S1, selebihnya belum berpendidikan S1. Selain 
jenjang pendidikan yang belum memadai, kompetensi guru juga masih bermasalah. 
Saat dilakukan tes terhadap guru semua bidang studi, rata-rata tak sampai 50 
persen soal yang bisa dikerjakan. Tidak ada guru yang meraih nilai 80, bahkan 
ada guru yang meraih nilai terendah, 1. Menurut Ketua Umum Pengurus Besar 
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), pemerintah mengakui memang tidak 
pernah menyelenggarakn pelatihan dan pendidikan yang seharusnya secara periodik 
diadakan demi meningkatkan kompetensi guru. 

Hal lain, tenaga pendidik di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia ini tak 
lepas dari komoditi politik para penggila kekuasaan. Jumlah 2,92 juta kepala 
itu dipandang sebagai kekuatan politik yang besar. Karena itu, dalam kebijakan 
soal guru, kepentingan politik bermain yang ujung-ujungnya demi mendongkrak 
citra "penggede" di pusat dan daerah serta partai politik di DPR.Mantan anggota 
komisi X DPR, Heri Akhmadi mengatakan, sebagian anggaran pendidikan tersedot 
untuk gaji dan tunjangan guru. Di tahun 2011, tercatat sekitar 56 persen 
anggaran pendidikan nasional untuk gaji dan tunjangan guru. Yang 
dititikberatkan adalah kesejahteraan mereka, sementara kualitas mereka 
tertinggal. (Kompas 7 Maret 2012)

Belukaran pola pikir yang sebagian besar dianut dalam psikologi pengguruan kita 
adalah dijadikannya profesi guru sebagai mata pencaharian sehingga banyak 
dibidik keluaran pendidikan tinggi secara terburu-buru tanpa mempertimbangkan 
kualitas personal. Ini kemudian membuat pola pikir kewajiban mendidik telah 
teredusir ke wilayah strategi bertahan hidup. Tendensi ini semakin menjadi-jadi 
usai pemerintah menetapkan kebijakan tunjangan sertifikasi bagi para guru. 
Itulah mengapa penulis berani mengatakan ruh mendidik "dari hati" belum dianut 
oleh semua pahlawan tanpa tanda jasa negeri ini. 
Bilamana di runut hingga ke akar masalahnya, Anda kemungkinan akan sepakat 
dengan saya bahwa pola pikir seperti itu berasal dan berawal dari sistem 
pendidikan yang membimbing siswa menjadi orang-orang pragmatis.   Namun, 
tulisan ini tidak bermaksud menyerang dan meyalahkan tenaga pendidik karena 
kualitas mereka yang masih rendah. Tapi sebaliknya guru mesti tersadarkan sebab 
bagaimanapun kualitas mereka menentukan mutu siswa yang mereka didik.

 Seputar Sistem

"Mengajari anak-anak berhitung memang bagus, tapi yang terbaik adalah mengajari 
mereka apa yang perlu diperhitungkan". Ungkapan Bob Talbert menyadarkan kita 
betapa tidak efektifnya sistem pendidikan kolonial yang dianut selama ini. 
Sistem semestinya mengajarkan siswa bagaimana cara berpikir yang baik dan 
benar, bukan mengajarkan mereka untuk mendapat skor penuh. 
Pada setting pendidikan formal, apapun jenjangnya, kualitas sang murid manifes 
dengan pemaknaan yang keliru. Mengapa keliru? Kualitas keterdidikan seorang 
siswa harus diukur dengan angka (indeks). Dengan begitu, sang murid akan 
bersikap dan mengambil tindakan apa saja boleh guna menyesuaikan diri dengan 
indeks itu. Yang lebih parah lagi, anak pintar selalu terasosiasi dengan mereka 
yang meraih angka penuh pada setiap mata pelajaran yang diajarkan. Maka praktis 
seorang siswa akan terus merasa butuh untuk angka penuh itu.  Mentalitas 
seperti ini tiap tahun selalu memakan korban saat Ujian Nasional (UN) 
diselenggarakan. Kecurangan demi kecurangan dijadikan solusi untuk mencapai 
target indeks yang dipatok. Para siswa menjadi korban pengajaran yang 
mementingkan kuantitas (nilai) daripada kualitas (mutu humanitas). Seperti 
halnya SBI dan RSBI terhadap pasal 31 ayat 1 UUD 1945, sistem yang enggan 
memihak kualitas murid berseberangan dengan tujuan pencerdasan kehidupan 
bangsa. 

Jangan heran bila di negeri ini banyak koruptor yang pada dasarnya adalah 
manusia yang pandai bermain-main angka. Pendidikan yang menuhankan tingginya 
capaian indeksikal hanya melahirkan manusia-manusia yang mengukur kesuksesan 
mereka dengan uang dan kekuasaan. Mereka tiba-tiba buta saat diperhadapkan pada 
ketimpangan-ketimpangan sosial. Alih-alih mencari solusi, mereka justru saling 
lempar tanggung jawab lalu mencari alasan untuk membenarkan diri. 

Akhirnya, kita mesti mengajukan pertanyaan yang paling tidak kita sendiri yang 
menjawabnya. Pendidikan di negeri ini sebenarnya untuk siapa? Apakah untuk para 
penggila kekuasaan, untuk para lulusan pendidikan tinggi yang mengejar 
penghasilan, ataukah anak negeri yang tak terjamah pendidikan dasar? Pada 
kenyataannya, bangsa ini sekarang tidak mampu menentukan arah pendidikannya.***
  
Oleh;
Andi Syurganda
Mahasiswa Universitas Negeri Makassar


Penulis : Aldy
Editor : Aldy
Sumber : Tribun Timur


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke