Roman sejarah karya Putu Oka Sukanta yang diumumkan pada 8 Maret (hari Wanita
Sedunia) hampir pasti bukanlah kebetulan. Di depan mata kita terpampang
sederetan nama-nama perempuan dari mulai alamat-alamat e-mail yang diposting
oleh Putu hingga tiga nama sarjana Perempuan penulis kata pengantar roman
sejarahnya Putu Oka ini.
Memperingati hari Wanita Internasional dengan sebuah buku yang bersifat
literatur dan sejarah sungguh sebuah kado besar dan kehormatan besar bagi hari
Perempuan sedunia. Dan pula buku ini menyinggung soal nasib perempuan korban
peristiwa 65 atau menurut suharto adalah para perempuan yang harus dikorbankan
karna ikut-ikut PKI yang meskipun para"pemimpin Partai sangat sedikit
terlibat", toh, adalah juga dalang G30S menurut Saskia Wieringa dengan sedikit
kehati-hatian.
Perempuan berkata lebih terkontrol dan bahkan lebih rasionil dari para lelaki,
tapi untuk PKI, sekali ini adalah sebuah pukulan besar sebagai korban fitnah
suharto yang sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tapi kita biarkanlah untuk
sementara Saskia mereduksi "dosa PKI" dengan kata "pemimpin Partai sangat
sedikit terlibat" (Siapa ya? hanya ketuanya?. John Roosa pasti sudah tahu).
Kembali ke Putu Oka. Meskipun orang belum membaca roman sejarah Putu yang baru
ini, tapi sudah bisa diduga Putu tidak akan memberikan harapan baru bagi rakyat
Indonesia. Putu tidak akan menyerukan perlawanan dan balas dendam terhadap
musuh-musuh rakyat. Putu hanya protes, minta keadilan, minta pengertian dengan
ratapan ratapannnya dan ratapan Putu untuk abad kita sekarang memang lebih
banyak didengarkan orang, simpati orang dan juga sesuai dengan cita rasa jaman:
kemerosotaan kapitalisme Neoliberal, kebangkitan Oportunisme kanan kiri serta
larisnya demokrasi borjuis kapitalis Neoliberal.
Cerita-cerita tentang pertemuan kembali para pasangan suami istri yang terpisah
akibat terror besar suharto yang kemudian sudah saling tidak cocok dengan
akibat rusaknya atau bubar kembali rumah tangga, perbedaan cara berpikir antara
orang tua dan anak, sudah lama saya atau kita dengar dan sekarang Putu kembali
mencomot tema demikian.
Lantas bagaimana kesimpulan Putu? Tanpa kesimpulan? Sekali lagi, yang pasti
Putu tidak akan mengambil jalan solusi revolusi karna Putu sudah lama
meninggalkan jalan itu dan dia mengambil jalan "berdamai dengan diri sendiri"
tapi tidak sendirian karena selalu mengajak orang ramai mengikuti jalannya
dengan ide-idenya yang tersirat dalam buku dan-tulisannya serta film-film
dokumenter yang dia buat sendiri yang ini lalu menjadi persoalan banyak orang,
persoalan rakyat Indonesia, persoalan revolusi.
Putu tidak mendirikan Partai tapi dia menerbitkan buku-buku dan membuat
film-film dan itu bisa lebih efektif dari sebuah Partai Politik yang tidak
efektif seperti umpamanya PDI-P dan Partai-Partai Sosdem lainnya. Putu
menyebarkan pasifisme, anti revolusi melalui sastra, tulisan-tulisan dan
film-film yang itu lebih efektif dan berpengaruh daripapada Megawati sekalipun
maupun Budiman Sujatmiko.
Apalagi Putu pandai bersekutu dengan Perempuan dan dia pasti adalah seorang
pahlawan bagi banyak perempuan dan menurut Putu, perempuan itu tidak bisa mati
(bacalah buku Putu Oka Sukanta "Bukan Kematian").
Saya bukannya iri pada Putu. Saya tidak berpikir bahwa Putu seorang pengarang
yang berhasil, dia tidak berhasil jadi pengarang Lekra, juga tidak berhasil
jadi pengarang di jamannya yang sekarang dan dia hanya berhasil menerbitkan
banyak buku-bukunya dan untuk itu saya ucapkan sukses sebagai solidaritas
sesama penulis.
ASAHAN.
Kata Saskia E Wieringa tentang ISTANA JIWA
Terjadinya kudeta militer 1965 merupakan titik balik dalam sejarah Indonesia.
Beberapa perwira progresif tapi kurang perhitungan menculik dan membunuh
beberapa jendral angkatan darat. Meskipun pemimpin partai sangat sedikit yang
terlibat, Soeharto menuduh PKI mendalangi kudeta ini. Sebuah kampanye massa
diselenggarakan dengan menggunakan fitnah seksual di mana anggota organisasi
perempuan Gerwani yang progresif, dituduh menyayat-nyayat dan mengebiri para
jenderal sambil telanjang menarikan tarian harum bunga. Ratusan ribu perempuan
sosialis dan laki-laki dibunuh atau dipenjarakan selama bertahun-tahun, bahkan
tanpa proses hukum. Novel ini menggambarkan suasana politik dan sosial pada
bulan-bulan terakhir tahun 1965. Penulis menggambarkan dengan jelas sketsa
penderitaan orang-orang biasa yang tidak menyadari berlangsungnya sebuah
genosida serta penantian yang panjang dari para isteri dan anak-anak yang
menunggu suami-suami dan ayah mereka yang tiba-tiba lenyap tanpa ada proses
hukum atau mereka yang digiring untuk melakukan kerja paksa di Pulau Buru. Saat
pulang ke rumah yang mereka tunggu-tunggu sejak lama malah berubah menjadi
kekecewaan. Novel sejarah ini merupakan penghargaan untuk para perempuan,
anak-anak dan laki-laki biasa yang hidupnya dirusak oleh kekacauan politik yang
tidak mereka ketahui akan tetapi dengan dasyat mempengaruhi kehidupan mereka
hingga saat ini.
Dr.Saskia E Wieringa,Direktur Aletta, Institute for Women's History Amsterdam.
----- Original Message -----
Kata Kate McGregor tentang ISTANA JIWA
Prakata dari Katharine McGregor
Novel ini mengenai bagaimana para wanita mengalami masa transisi ke Periode
Orde Baru Suharto yang kejam. Menceritakan suasana politik yang sengit pada
jaman awal tahun 1960 an dimana Putu Oka Sukanta membawa kita kepada kehidupan
sehari-hari beberapa wanita sebagian istri atau anak untuk mencari posisi di
kehidupan lingkungan sosial sebelum dan sesudah kekerasan berlangsung, dan
bagaimana mereka beradaptasi karena dipenjarakannya para ayah atau para suami
mereka.
Pertama, Maria seorang aktivis mahasiswa dan juga anggota marchingband di
CGMI (Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia). Kehidupan Maria penuh dengan
harapan dan keinginan sebagai seorang mahasiswa kedokteran. Dia dan teman-teman
sebayanya sangat tertarik terhadap politik dan Partai Komunis Indonesia, dan
mereka bekerja untuk melawan gerakan kontra revolusi seperti HMI (Himpunan
Mahasiswa Indonesia). Dikarenakan hal inilah ia dengan cepat diidentifikasi dan
lalu disaring di kampus universitasnya setelah kejadian Gerakan 30 September,
dimana militer dan mahasiswa lainnya menjadi pimpinan untuk menyapu
organisasi-organisasi yg beraliran kiri. Maria melihat dimana kekejaman
memporak-porandakan partai yang ia dan teman-temannya idolakan, bagai
kehilangan sesuatu hal yg terbesar di dalam hidupnya. Ayahnya Bung Rampi yang
juga anggota parlemen dan menulis di Koran Harian Ekonomi yang menganut arus
kiri ditangkap setelah semakin menyebarnya penyapuan sayap kiri. Maria dan
Ibunya, Ibu Suri, meninggalkan rumah keluarganya. Ibu Suri mulai menjual
makanan di pasar dan menerima jahitan untuk mendapatkan cukup uang guna biaya
hidup mereka dan untuk mengirim makanan kepada suami yg di penjara. Setelah
mendapatkan perkerjaan di satu koran Maria ditahan beberapa bulan, lalu
dibebaskan. Karena kemandirian dan rasa tidak ingin memberatkan ibunya , Maria
tidak mau ibunya menjenguknya selama ditahan. Setelah dibebaskan pun ia tidak
sampai hati untuk menceritakan penderitaan yg dialaminya selama di tahanan pada
ibunya. Ia hanya menceritakan betapa baiknya para sesama wanita di tempat
tahanan.
Seperti banyak orang yang percaya akan Partai Komunis Indonesia sejati dan
berharap bahwa Indonesia akan menjadi negara sosialis nantinya, membuat Maria
terus merasa sedih akan kehancuran yang dialami partai khususnya setiap tanggal
23 Mei sebagai hari jadinya partai. Ia kemudian bertemu seseorang yang
mempunyai kepercayaan yang sama dengan dirinya dan terus bekerja untuk
menentang rezim Orde Baru. Ibu Suri disibukkan tuntutan untuk memenuhi
kebutuhan untuk menjenguk suaminya di penjara, dan mengirim makanan yg tidak
saja buat suami tapi juga teman-teman suaminya yg tidak mempunyai kiriman dari
anggota keluarganya. Bung Rampi sebelumnya merupakan tokoh politik yg cukup
disegani yg selalu sibuk dengan dunia politik dan tidak punya waktu buat
keluarganya. Setelah bekerja keras dan bisa menabung Ibu Suri mampu membeli
rumah untuk keluarganya tapi hatinya sedih setelah Bung Rampi keluar dari
penjara dan hanya mengkritik akan rumah itu dan memberikan tuduhan yg
bertubi-tubi padanya mengenai bagaimana ia mampu membeli rumah itu. Maria dan
ibunya mencoba untuk membantu Bung Rampi untuk bisa beradaptasi dengan
kehidupannya setelah keluar dari penjara dengan saran untuk menemui pastor di
gereja lokal yang telah banyak membantu mereka dan psikolog. Tetapi
kecurigannya terhadap agama dan keadaan rezim baru membuatnya membantah segala
hal yang ada di sekelilingnya termasuk keluarganya sendiri. Dengan ketidak
mampuannya beradaptasi dan tidak lagi mampu menghidupi keluarga begitupun
menjadi tokoh yg kuat dia meninggalkan keluarganya.
Karakter utama lainnya adalah Asmi dimana suaminya Mulia adalah seorang
wartawan.. Seperti halnya Buang Rampi, ia juga tidak mempunyai waktu yang
banyak buat istrinya sebelum dipenjarakan dan pada jaman jaya-jayanya Sukarno
ia jarang berbicara di rumah tapi mampu bicara berjam-jam dengan teman-temannya
tentang politik. Ketika suaminya tidak ditangkap seketika itu para istri
teman-temannya mencurigai bahwa dia adalah penghianat. Tapi Asmi membelanya.
Namun ketika akhirnya Mulia dipenjarakan dia bekerja keras untuk membantu
keluarga dan suaminya di penjara, tapi obsesinya di penjara tetap saja
membicarakan tentang politik. Pada suatu pesan yang ia titipkan dari dalam
penjara ia berpesan "Aku nggak perlu kabar tentang keluarga, kirim kabar-kabar
tentang politik saja".
Setelah Fandi, suami Kirtani di penjara, ia harus membela rumahnya dari para
militer yang mau mengambil alih dengan alasan menjadi tempat Pos Keamananan di
lingkungan dan juga untuk kemanaan dirinya dan anak-anknya. Setelah penindasan
di Blitar prajurit militer mencoba lagi untuk mengambil alih rumah Kirtani
tetapi ia dengan beraninya mempertahankan rumahnya dan haknya akan rumah itu di
depan komandan militer. Demikian juga halnya dengan Ivone yang berhasil
mempertahankan rumahnya dari pendudukan militer. Ibu Hwani mengalami hal yang
serupa dimana dia harus mengalami ketegangan dengan para pemuda yg
berteriak-teriak di depan rumahnya "PKI harus diusir dari rumahnya. Jangan ada
orang PKI tinggal di daerah ini. Ini daerah bersih PKI." Kirtani merasa lega
bahwa dia tidak harus mengirimkan makanan lagi ke penjara karena suaminya
dikirim ke Pulau Buru walaupun dia tetap merasa bersalah akan hal itu. Kirtani
merupakan sumber dari segala dukungan yang dibutuhkan para istri dan anggota
keluarga yang terkait dalam kekejaman itu. Walaupun ia berusaha terus menerus
untuk menjauhkan anak-anaknya dari kekerasan, anak perempuannya menyaksikan
penyiksaan di dalam tempat tahanan dan tidak mampu mengerti kenapa pemuda
pemuda yang berdemonstrasi di jalan berteriak-teriak menyebut seseorang bernama
Aidit untuk digantung.
Dalam setiap cerita, karakter-karakter utamanya, Putu Oka Sukanta membuka
bagaimana kemampuan wanita dalam melawan militer dan menahan tanggapan
lingkungan sekitar dan usaha-usaha mereka dalam menghidupi kelurganya. Ia juga
mengingatkan akan keterikan tali solidaritas dan dukungan di antara para wanita
yang mengalami nasib yang sama. Buku ini merupakan kontribusi yg penting
terhadap pemahaman kita mengenai kejadian-kejadian yang terjadi di tahun 1965
karena ketajaman fokusnya terhadap peranan keseharian wanita di dalam keadaan
terjepit di dunia sosial yg didominasi oleh laki-laki. Ia juga memaparkan
kontradiksi antara komitment yang sunguh-sungguh oleh para lelaki terhadap
persamarataan sosial yang dianggap hal yang ideal, di mana pada kehidupan
kesehariannya para istri dilupakan dan dianggap tenaganya, kepintaran dan
kecintaan mereka terhadap suami dan anak perempua hanya sia-sia.
*Dr. Katharine McGregor adalah dosen sejarah Asia Tenggara di Universitas
Melbourne. Dia pernah menulis mengenai politik ingatan tahun 1965 dan
historiografi resmi di Indonesia. Buku pertama adalah Ketika Sejarah
Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia Ketika
Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah
Indonesia Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun
Sejarah Indonesia Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi Militer dalam
Menyusun Sejarah Indonesia Ketika Sejarah Berseragam: Membongkar Ideologi
Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia (Syarikat: Yogyakarta 2008).
----- Original Message -----
Sudah terbit Novel sejarah ISTANA JIWA , Putu Oka Sukanta.
Ada tiga penulis komentar tentang ISTANA JIWA, yaitu Dra. Ratna Hapsari MSi,
Ketua Asosiasi Guru Sejarah se Indonesia, Dr. Katharine McGregor, dosen sejarah
Asia Tenggara di Uni.Merlbourne dan DR. Saskia E. Wieringa. Direktur Aletta,
Institute for Women's History Amsterdam.
Komentar tersebut akan dikirimkan satu persatu.
Komentar Dra. Ratna Hapsari MSI
Novel sejarah yang berlatar belakang kisah dari para peyintas tragedi
kemanusiaan 1965-1966 ini semakin memperjelas potret buram kehidupan yang lahir
akibat konflik politik yang pernah terjadi di bumi ini. Tragedi kemanusiaan
yang telah menuliskan sederet catatan hitam dan menorehkan derita
berkepanjangan bagi sebagian anak bangsa memang masih menyisakan banyak
misteri. Sulitnya kebenaran diungkap disebabkan oleh sedikitnya dokumen yang
ditemukan yang dapat merangkai secara kronologis tentang apa yang sesungguhnya
telah terjadi, maka untuk mengisi kekurangan sumber primer sebenarnya masih
diperlukan lebih banyak tuturan para penyintas sebagai tradisi lisan, yang
dapat mengurangi munculnya beragam versi seperti apa yang tertulis dalam
kebanyakan buku-buku sejarah saat ini.
Tuturan kisah dalam novel ini banyak berkisah tentang perempuan-perempuan
tangguh yang berjuang untuk tetap bertahan hidup di tengah masyarakat yang
telah memberi mereka stigmasi buruk, kondisi ini tentu bukan hal yang mudah
untuk dilakukan. Berjuang untuk terus bertahan hidup, membesarkan anak-anak
yang terpaksa ditinggalkan oleh ayah-ayah mereka, tidak membuat
perempuan-perempuan ini kehilangan orientasi hidup, karena perlakuan
diskriminatif masyarakat tersebut. Dan itulah yang telah mereka lakukan dari
hari demi hari, bulan berganti, tahun berkejaran, telah menenggelamkan mereka
dengan pengorbanan, kerja keras dan dalam ketidakpastian untuk sebuah penantian
serta harapan yang panjang bagi kepulangan suami-suami mereka yang telah
ditangkap sebagai tahanan politik
Ada beberapa hal menarik dalam tuturan kisah dalam novel ini diantaranya
adalah dekonstruksi tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam sebuah
perkawinan. Pertentangan yang selama ini muncul dan didasari oleh adanya system
dan struktur budaya patriarki dimana sering menempatkan perempuan sebagai
subordinat laki-laki tampaknya harus dihilangkan. Oposisi biner yang
menempatkan laki-laki sebagai pencari nafkah, perempuan pengatur rumah tangga,
laki-laki berada di ranah publik dan perempuan untuk semua yang bersifat
domestik, laki-laki selalu lebih rasional dan perempuan emosional, tidak
tergambar sama sekali dalam novel ini. Sebagian dari mereka memang pernah
menjadi anggota organisasi gerakan perempuan yang cukup militan, tetapi medan
juang yang mereka hadapi saat itu lebih keras dari ketika mereka memperjuangkan
kepentingan perempuan secara progresif revolusioner.
Hal menarik lainnya dalam tuturan novel ini, mengajak pembaca untuk dapat
berpikir secara logis tentang dua kutub yang sering dipertentangkan yaitu soal
agama dan ideologi komunis. Benarkah ketika seseorang berada di dalam keyakinan
ideologi tersebut telah menjadikannya atheis ? Soal agama adalah soal keimanan,
dan ideology adalah kumpulan cita-cita dan harapan untuk sesuatu yang lebih
baik. Keduanya akan dapat saling menguatkan untuk sebuah pencapaian, tokoh
Maria dalam novel ini memberikan gambaran yang utuh tentang hal itu. Ia
menjadikan ideologi sebagai roh dalam kehidupannya, dan menyatukannya dengan
agama sebagai keyakinan dalam keimanannya.
Tumbangnya rezim Orde Baru telah membawa perubahan politik negeri ini ke arah
keterbukaan. Pembebasan dan pemulangan para tapol dari kamp-kamp tahanan tak
semuanya berakhir dengan kebahagiaan. Panjangnya masa penantian, doa-doa yang
penuh harapan tak seluruhnya terbalas dengan pertemuan yang menyenangkan.
Tekanan psikologis selama bertahun-tahun menjalani hukuman yang dijatuhkan
tanpa proses pengadilan telah merubah sebagian mereka menjadi orang-orang
dengan kepribadian yang berbeda. Banyak juga dari mereka yang berusaha untuk
membangun kembali harkat kemanusiaannya, dengan integritas dan usaha untuk
mendapatkan kekuatan baru, dan mereka memang berhasil. Tetapi sebagian lainnya
tidak lagi dapat merasakan memiliki otoritas untuk menjadi bagian dari
keluarganya sendiri, bahkan merasa menjadi beban bagi kehidupan anak dan
istrinya karena tak lagi mampu memberikan nafkah. Mereka inilah yang
digolongkan sebagai orang-orang yang tidak mampu bangkit dari keruntuhan sebuah
harga diri , korban tragedi, yang merasa asing berada di tengah-tengah keluarga
yang mencintainya, sehingga memunculkan sebuah konflik batin yang baru. Seperti
yang digambarkan pada tokoh Rampi dalam novel ini.
Selebihnya novel ini sangat layak dan perlu untuk dibaca, terutama oleh para
generasi muda, agar sejarah kelam bangsa ini tidak terulang lagi.