Minta BBM Jadi Rp 6.000, Agus Marto: Lihat Kami Menkeu yang Profesional  
Rista Rama Dhany - detikFinance 
 
 Jakarta - Menteri Keuangan Agus Martawardojo betul-betul 'memohon' agar DPR 
menyetujui usulan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi Rp 1.500 menjadi Rp 
6.000 per liter.

Hujan interupsi anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR soal alasan-alasan 
kenaikan harga BBM dibarengi alasan kompensasi Bantuan Langsung Sementara Tunai 
(BLSM) yang 'berbau' pencitraan, membuat Agus Martawardojo seperti memohon.

"Bapak Ibu (Anggota DPR) jangan memandang pemerintah, lihat kami, lihat Menteri 
Keuangan yang dari profesional, bahwa kenaikan BBM perlu selain menyelamatkan 
APBN kita juga akan menyehatkan APBN selanjutnya," kata Agus dalam Rapat Kerja 
dengan Badan Anggaran DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Sabtu (24/3/2012).

Menurut Agus, kenaikan harga BBM ini harus dilakukan untuk menyelamatkan 
defisit anggaran negara kita tidak lebih dari 3%.

"Kenaikan harga minyak dunia ini harus cepat kita respons, pasalnya kalau tidak 
cepat defisit anggaran kita bisa lebih dari 3% bahkan bisa 3,6% di mana 
undang-undang melarang itu sampai terjadi. Bahkan dengan berbagai instrumen 
mulai kenaikan harga, penghematan belanja pemerintah dan sebagainya 
syukur-syukur defisit kita menjadi 2,23%," ungkapnya.

Mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini mengatakan, kalau defisit anggaran lebih 
dari 3%, maka sektor finansial lainnya akan terkena dampak.

"Bisa jadi dunia akan merespons negatif ekonomi kita, Surat Utang Negara (SUN) 
kena, pasar modal kita makin berat, perbankan kita kena, dan membuat ekonomi 
kita berat juga kalau kita tidak merespons cepat kenaikan minyak dunia ini," 
jelasnya.

Ditambahkan Agus, sejak 2001-2012 ini defisit anggaran tidak pernah berada di 
atas 2,5%. "Kalau berbagai langkah ini tidak segera dilakukan ya tadi defisit 
kita tembus 3% lebih dan pemerintah melanggar undang-undang," tandasnya.

Saat ini pemerintah dan Banggar DPR terus melakukan rapat penentuan kenaikan 
harga BBM subsidi Rp 1.500 menjadi Rp 6.000 per liter yang rencananya akan 
dilakukan 1 April 2012.

JAKARTA METRO NEWS
http://jakartametronews.blogspot.com/

Kirim email ke