Rabu, 28 Maret 2012 | 07:38 WIB Kata Dahlan, Jangan Emosional Tanggapi BBM Naik TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menilai, kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi tak mungkin dihindari lagi. Pemerintah juga tak bisa mundur dalam menetapkan kebijakan itu.
Diakui Dahlan, rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi memang menuai banyak kontroversi. Gelombang unjuk rasa di berbagai daerah hingga Ibu Kota dinilai bentuk aspirasi masyarakat yang memang menolak kenaikan. Meski begitu, Dahlan menyayangkan tindakan brutal yang dilayangkan berbagai level masyarakat dalam merespon kenaikan itu. Karenanya, Dahlan meminta masalah yang ada di Indonesia dari tahun ke tahun ini tak usah ditanggapi emosional. "Nggak usah menanggapinya dengan emosional," kata Dahlan di Jakarta, Selasa 27 Maret 2012. Dahlan bahkan menyarankan pemerintah tak boleh mundur dan harus tetap kuat. Masyarakat diminta percaya bahwa segala keputusan pasti ada konsekuensinya. Kementerian BUMN, kata Dahlan, tetap membantu meringankan dampak dari rencana kenaikan harga BBM semaksimal mungkin. Seperti diketahui, Kementerian BUMN menyediakan anggaran di atas Rp 300 miliar untuk 400 pasar murah. Pasar murah perdana akan digelar Rabu 28 Maret di Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat. Pasar murah tersebut akan digelar selama sebulan penuh. Setidaknya, pasar murah dapat menjual kebutuhan rumah tangga masyarakat lebih rendah 30 persen dari harga normal di pasar pada umumnya. Bensin Premium dan Solar direncanakan naik menjadi Rp 6.000/liter. Rencananya akan dilakukan pada 1 April 2012 setelah DPR menyetujui rencana pemerintah melalui rapat paripurna. WDA | ANT Hasyim: Indonesia sebaiknya olah minyak sendiri Rabu, 28 Maret 2012 01:48 WIB | 2116 Views KH. Hasyim Muzadi. (ANTARA) Jakarta (ANTARA News) - Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyatakan, sebaiknya Indonesia mulai mengolah minyak sendiri. "Seandainya minyak mentah Indonesia diolah sendiri, kita tidak akan terombang ambing oleh kenaikan harga minyak," kata Hasyim Muzadi kepada wartawan di Jakarta, Selasa. Menurutnya, keengganan pemerintah Indonesia mengolah minyak mentah sendiri juga menyebabkan Indonesia tidak memperoleh keuntungan apa-apa ketika harga minyak dunia naik. "Karena minyak mentah kita dijual ke luar negeri dalam keadaan mentah, kemudian kita membelinya setelah jadi, maka kita jadi importir minyak kita sendiri. Akhirnya kita tunduk kepada harga minyak dunia," katanya. Namun, katanya, untuk mengolah minyak mentah sendiri membutuhkan keberanian pemerintah Indonesia menghadapi himpitan asing. "Jadi perlu langkah berani dan strategis, tidak teknis kasuistis. Tapi ini sulit karena keberanian bukan kebiasaan pemerintah sekarang," katanya. Disamping itu, katanya, Indonesia saat ini tentu sudah terikat kontrak jual beli yang didikte pihak asing. "Selanjutnya pedagang-pedagang minyak asing di Indonesia tentu tidak senang kalau minyak di Indonesia disubsidi, karena mereka tidak bisa jualan di Indonesia," jelasnya. Lebih lanjut, ia menilai pemerintah saat ini lebih takut kepada pihak asing daripada membela kepentingan rakyatnya sendiri. "Disinilah letaknya, mengapa pihak asing selalu mendesak pemerintah untuk mencabut subsidi. Tentu itu bukan untuk kepentingan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," katanya. Jadi, lanjutnya, pro kontra kenaikan harga BBM adalah ekses yang akan dihadapi bangsa ini setiap saat, dan tentu sangat menguras energi. "Bahkan terpaksa menghadapkan TNI/Polri dengan rakyat, padahal dapur TNI/Polri juga dibahayakan kenaikan BBM," kata Hasyim. Melihat kencangnya himpitan asing ke Indonesia saat ini, kata Hasyim, diyakini pemerintah hampir pasti tidak akan membatalkan kenaikan harga BBM. "Partai yang tidak punya menteri di kabinet dengan mudah bergabung dengan rakyat, namun partai yang punya menteri pasti berkaki dua. Selain tidak mau kehilangan muka di depan rakyat, mereka juga tidak mau kehilangan menteri. Hal ini juga terjadi di DPR," katanya. (S024/Z002) [Non-text portions of this message have been removed]
