http://www.gatra.com/nasional-cp/1-nasional/11044-sby-bukan-ragu-tapi-santun
SBY Bukan Ragu, Tapi Santun 
Sunday, 08 April 2012 13:43 
 
Jakarta - Partai Demokrat membantah Ketua Dewan Pembina partai itu, Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono, bersikap ragu-ragu dalam mengeluarkan Partai Keadilan 
Sejahtera (PKS) dari koalisi Sekretariat Gabungan (Setgab), akibat sikapnya 
yang tidak sejalan dengan partai koalisi berkaitan dengan rencana kenaikan 
bahan bakar minyak (BBM) di parlemen.



"Presiden SBY bukan peragu, tapi beliau lebih mempertimbangkan kesantunan 
politik dan menghormati partai koalisi, sehingga berhati-hati untuk 
mengeluarkan pernyataan," kilah Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Divisi 
Komunikasi Partai Demokrat (PD), Hinca Panjaitan, dalam diskusi "Koalisi Rasa 
Oposisi", di Warung Daun Cikini, Jakarta, Sabtu (7/4).

Menurutnya, belum diputuskannya nasib PKS di Koalisi Setgab karena SBY tengah 
melakukan pemetaan politik, guna memutuskan PKS tetap dalam koalisi atau 
oposisi.

Selain itu, Partai Demokrat sangat hati-hati dalam membaca peta politik, 
sehingga pembacaan itu harus benar yang nantinya akan diputuskan presiden 
karena dia yang mempunyai wewenang.

"Soal panggung ada di tangan presiden, tentu dia bercakap-cakap dengan anggota 
koalisi. PKS tidak pernah didzalimi, dia mengambil jalan sendiri, yang kemudian 
berdasarkan kontrak politiknya tidak dilakukan," tegasnya.

Dijelaskan, selain melakukan pemetaan politik untuk memutuskan nasib PKS, 
Presiden SBY juga tengah melakukan kajian komprehensip. Jika dari hasil 
pemetaan politik dan kajian komprehensif mengharuskan PKS dikeluarkan dari 
koalisi, Partai Demokrat tidak akan meminta Presiden SBY mereshuffle menteri 
dari PKS di Kabinet Indonesia Jilid II.

"Bila PKS keluar dari koalisi, PD tidak akan meminta jatah menteri dan 
menyerahkan sepenuhnya kepada Presiden SBY," ujarnya.

Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Ary Dwipayana 
mengutarakan, perilaku politik Partai Golkar dan PKS sama saja. "Jadi tidak ada 
jaminan bahwa Partai Golkar tidak akan membelot dari kebijakan pemerintah," 
imbuhnya.

Menurutnya, selama 2,5 tahun pemerintahan SBY, tidak ada jaminan bahwa Partai 
Golkar akan tetap mendukung kebijakan pemerintah. "Presiden SBY akan tetap 
mempertahankan PKS untuk menjaga keseimbangan partai koalisi," ujar Ary 
memprediksi. [IS]


Senin, 09 April 2012 | 08:31 WIB
Pesan Pendek SBY Sebelum Mendepak PKS


TEMPO.CO, Jakarta - Diam-diam, sebelum mendepak Partai Keadilan Sejahtera dari 
Sekretariat Gabungan Partai Politik Pendukung Pemerintah, Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono mengirim pesan pendek kepada Hilmy Aminuddin. "Ustad, saya 
mau salat istikharah dulu," demikian isi pesan Presiden kepada Ketua Majelis 
Syura Partai Keadilan Sejahtera itu.

Sabtu dinihari dua pekan lalu itu, Fraksi PKS ikut menolak kenaikan harga bahan 
bakar minyak dalam Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat. Sikap itu 
berseberangan dengan koalisi pemerintah, tempat PKS juga bergabung. Pada 
kabinet Yudhoyono, partai itu memperoleh jatah tiga kursi menteri.

Laporan majalah Tempo pekan ini mengungkapkan seorang politikus PKS 
menceritakan hilir-mudik pesan pendek antara Hilmy dan Yudhoyono pada Sabtu 
malam setelah rapat paripurna. Menurut dia, Hilmy paham Yudhoyono sedang 
membicarakan nasib koalisi. Dengan salat istikharah--salat memohon petunjuk 
untuk menentukan pilihan yang sulit--Yudhoyono ingin memantapkan hatinya untuk 
mendepak atau tidak PKS dari koalisi. Hilmy membalas pesan Ketua Dewan Pembina 
Demokrat itu, "Silakan."

Keesokan harinya, Yudhoyono menemui pengurus Partai Demokrat di Kramat 
Raya--markas partai. Menurut Syariefuddin Hasan, anggota Dewan Pembina Demokrat 
yang juga Menteri Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah, Yudhoyono meminta 
tanggapan kader soal sikap PKS yang menyeleweng dari koalisi. "Semua ingin PKS 
keluar," kata Syarief. Mendengarkan kadernya berkeluh-kesah, Ketua Dewan 
Pembina Demokrat itu manggut-manggut. 

Niat mendepak PKS dari koalisi itu makin tebal pada Selasa pekan lalu, atau 
tiga hari setelah pertemuan di Kramat Raya. Minus PKS, Yudhoyono mengumpulkan 
semua ketua umum partai koalisi, yakni Anas Urbaningrum dari Demokrat, 
Suryadharma Ali (Partai Persatuan Pembangunan), Aburizal Bakrie (Partai 
Golkar), Muhaimin Iskandar (Partai Kebangkitan Bangsa), dan Hatta Rajasa 
(Partai Amanat Nasional), di rumahnya di Puri Cikeas, Bogor.

Selain mereka, ada Syarief Hasan serta Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan 
Keamanan Djoko Suyanto. Menurut Syarief, dalam pertemuan itu, Yudhoyono 
membagikan selembar kertas berisi kontrak politik yang diteken pada 23 Mei 
2011--setelah pembelotan PKS dan Golkar dalam sidang paripurna angket mafia 
pajak.

Kecuali Djoko Suyanto, setelah membaca dengan cermat delapan poin kesepakatan 
yang tertera di atas kertas itu, semua orang yang ada di ruangan bergantian 
bicara. "Kesimpulannya, PKS melanggar kontrak koalisi," ujar Syarief, yang juga 
Sekretaris Sekretariat Gabungan Partai Koalisi. Sesuai dengan poin kelima 
kontrak, kata Syarief, PKS wajib mundur dari koalisi. Bila tak mundur, 
keberadaannya di Sekretariat Gabungan pun dianggap tamat.

Seorang sumber berkata, di Cikeas malam itu, Yudhoyono geram terhadap sikap 
PKS. Termasuk pada saat pengambilan keputusan mengenai perkara Bank Century, 
sudah tiga kali PKS berseberangan dengan pemerintah. Pengurangan jatah menteri 
PKS dari empat menjadi tiga kursi pada perombakan kabinet Oktober tahun lalu 
merupakan hukuman Yudhoyono. Sebelum partai ini melunak, ketika itu Yudhoyono 
bahkan berniat mengeluarkan PKS dari koalisi. (Selengkapnya baca majalah Tempo: 
Talak Tiga Setelah Minyak)

ANTON SEPTIAN






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke