Solusi BBM dari Air Seni 
http://www.gatra.com/teknologi/41-ilmu-dan-teknologi/11060-solusi-bbm-dari-air-seni
Monday, 09 April 2012 07:43 

Di tengah gonjang ganjing harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, ada 
kabar mengejutkan dari Belanda. Negeri Kincir Angin itu bersiap menggantikan 
bahan bakar dari minyak bumi (BBM) dengan bahan bakar dari air seni atau urin. 
Kok bisa?

Ya, para ilmuwan Belanda telah berhasil  memanfaatkan kekuatan urin atau air 
seni alias air kencing manusia. Kabarnya pula, hasil penelitian yang dibiayai 
pemerintah Belanda itu amat menjanjikan.

Berita menghebohkan itu dilansir oleh Radio Nederland. para peneliti berasal 
dari Universitas Teknologi Delft dan lembaga penelitian DHV. Mereka 
mengembangkan teknologi pemrosesan urin, dan baru-baru ini berhasil 
mendaftarkan paten temuan tersebut di China, Afrika Selatan, Amerika Serikat, 
dan Eropa. "Kami memproses urin yang dikumpulkan secara konvensional dan 
kimiawi," kata Andreas Glesen, Manajer Inovasi DHV Research.

Menurut Radio Nederland, bahan bakar urin ini telah memasok energi setara 110 
ribu Megawatt di 30 ribu rumah atau seluas satu kota kecil. Jika produksi urin 
ditingkatkan, para periset memprediksi daya yang dipasok bisa digenjot hingga 
lima kali lipat.


Asyiknya, BBU (bahan bakar urin) itu tak hanya bisa dipakai untuk memasak. Ia 
dapat pula digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk menggerakkan mobil 
bertenaga listrik.

Proses mengubah urin menjadi sumber energi alternatif ini cukup sederhana. 
Prinsip dasarnya, urin yang mengandung senyawa amonia dipanaskan secara 
perlahan. Setelah berubah menjadi gas amonia, lalu dimasukkan ke dalam 
generator untuk membangkitkan sel bahan bakar (fuel cell), yang akan digunakan 
untuk memproduksi energi lisrik. 

Asalkan pasokan urin selalu tersedia, maka energi listrik bisa diproduksi 
terus-menerus. Tidak seperti energi yang dikonversi dari angin dan matahari, 
BBU tak bergantung pada kondisi alam. 

Untungnya lagi, bahan sisa pemrosesan urin, berupa asam fosfat, bisa digunakan 
untuk membuat pupuk urea yang tak berbahaya, karena tak mengandung bahan kimia.

Radio Nederland mengumumkan, temuan tersebut akan dibuka untuk para investor. 
Meskipun modal awal cukup tinggi, namun investasi itu diproyeksikan sudah akan 
kembali dalam waktu 8-10 tahun. Jangka waktu tersebut dianggap masih masuk akal 
dan bisa diterima dunia bisnis. 

Nah di Indonesia, mengeluarkan air kencing di tempat publik harus merogoh 
kocek. Bisa jadi nanti berlaku sebaliknya. Kalau Anda ingin kencing, silakan 
jual air seni Anda di pom urin! (HP, dari berbagai sumber)



Cara Amerika Memanfaatkan Urin 
Monday, 09 April 2012 07:41 
Diam-diam Amerika Serikat sudah teknologi mengkonversi urin menjadi bahan bakar 
tak hanya dikembangkan di Belanda dan Inggris, tapi juga di Amerika Serikat. 
Pelopornya adalah Profesor Gerardine Botte dari Universitas Ohio.

Pada tahun 2009,  Botte melihat ada tiga kelemahan dalam bahan bakar fosil. 
Pertama, tidak bisa diperbarui. Kedua, proses eksplorasinya butuh biaya besar. 
Dan ketiga, emisi gasnya terbukti menyebabkan peningkatan pemanasan global.

Botte juga melihat kelemahan bahan bakar hayati (biofuel). Sebab, di masa 
depan, biofuel menyebabkan perebutan antara kebutuhan akan makanan dan bahan 
bakar. Maka, perhatiannya beralih ke energi alternatif yang laon. 

Botte melihat kemungkinan urin menjadi sumber energi masa depan untuk kendaraan 
berbahan bakar hidrogen. Ia menilai, urea adalah zat terbanyak di urin. Urea 
itu merupakan sumber potensial untuk dikonversi jadi hidrogen. 

Botte memanfaatkan teknologi elektrolit untuk menghasilkan hidrogen dari air 
seni. Setiap molekul urin mengandung empat atom hidrogen. Jumlah ini lebih 
banyak dibanding hidrogen yang dikandung air. 

Dalam perhitungannya, mengolah hydrogen dari urin lebih efisien biayanya 
ketimbang dari air. Listrik yang digunakan juga hanya 0,37 volt, sementara dari 
air memerlukan 1,23 volt. 

Urin juga melimpah. Saban hari, setiap orang mengeluarkan urin sebanyak 0,9 
sampai 1,5 liter per hari. Kalikan saja dengan jumlah penduduk dunia yang 
berkisar 7 miliar. Dengan demikian, tersedia 7 miliar liter urin segar setiap 
hari untuk dikonversi menjadi hidrogen.

Kini, Botte tengah difasilitasi Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk 
membuat kendaraan tempur ringan berbahan bakar hidrogen dari urin. “Dengan 
demikian, tentara di lapangan bisa membawa BBM-nya sendiri,” kata Botte 
berkelakar, seperti dikutip Discovery News. 

Botte bukan sekedar guyon. Sebab, bisa jadi medan perang yang sulit, seperti 
gurun atau hutan, membuat kendaraan militer kerap kehabisan bensin. Nah, nanti 
para tentara tinggal menuang tangki mobil militernya dengan air kencing, jalan 
lagi deh! (HP)



Indonesia Harus Segera Kembangkan Energi Alternatif 
Monday, 09 April 2012 07:40 
Jakarta - Kondisi energi utama Indonesia, yang terdiri dari minyak, gas, dan 
batubara, sangat memprihatinkan. Hal ini dikarenakan energi tersebut tidak bisa 
diperbaharui dan stok yang tersedia sudah mulai terbatas. Indonesia harus 
segera beralih ke energi alternatif yang dapat diperbaharui.

"Sumber energi yang kita konsumsi saat ini, sebagian besar merupakan bahan 
bakar fosil yang tidak bisa diperbaharukan. Dalam 23 tahun ke depan, Indonesia 
akan kehabisan minyak bumi bila tidak ditemukan cadangan baru" ujar Direktur 
Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Dr. Ir. Kardaya Warnika 
dalam acara "Home and School Energy Champion 2012", di Taman Mini Indonesia 
Indah, beberapa waktu lalu.

"Kondisi 3 energi utama kita, minyak, gas dan batu bara, memiliki masa depan 
suram. Hanya batubara yang masih agak lama" Kardaya, menambahkan.

Menurutnya, dulu Indonesia dikenal sebagai salah satu negara eksportir minyak, 
namun kini hanya menjadi importir. Gas cadangan kita juga hanya tersisa untuk 
40 tahun.

Handbook of Energy and Economic statistic tahun 2010, menyebutkan bahwa pada 
tahun 2009, sektor rumah tangga mengkonsumsi kebutuhan energi listrik paling 
banyak, baik dari industri, komersial, transportasi, dan sektor lainnya. Total 
kebutuhan mencapai 33.682 barel minyak.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, tidak bisa dibebankan kepada energi utama. 
Kardaya menegaskan, "Indonesia harus mulai beralih ke energi alternatif seperti 
air, sampah, angin, ombak air laut, dan sebagainya.". 

Kardaya juga mengingatkan agar masyarakat mulai melakukan efisiensi energi. 
[WS] 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke