Tidak Mampu Tangani Geng Motor, Bubarkan Saja Polri
Rabu, 18 April 2012 | 7:44

 Tjahjo Kumolo [google] [DENPASAR]  Sekjen DPP PDI-P Tjahjo Kumolo  mengatakan, 
aksi geng motor yang semakin meresahkan masyarakat menimbulkan keprihatinan 
dari  berbagai pihak.

Karena itu, Polri sebagai aparat keamanan dan penegak hukum  harus cepat 
mengambil tindakan. Sebab, aksi geng motor ini sudah keterlaluan dan harus 
secepatnya ditangani.

“Saya kira melibatkan  aparat lain seperti TNI dalam memberantas geng motor 
belum perlu. Beri kesempatan kepada Polri untuk menangani sesuai dengan tugas 
pokoknya,” tegas Tjahjo Kumolo kepada wartawan saat mendampingi Ketua Umum DPP 
PDI-P Megawati Soekarnoputri di sela-sela peresmian gedung baru Dewan Pimpinan 
Daerah ( DPD)  PDI-P Bali di Denpasar, Selasa (17/4).

Tjahjo Kumolo mengatakan, negara ini negara yang bukan rimba belantara dan ada 
aturannya, sehingga  ada aparat penegak hukum yang harus menjaga ketertiban 
masyarakat.

Untuk itu, wajib hukumnya bagi pemerintah  menjaga ketertiban dan keselamatan 
masyarakat.  Merajalelanya kekerasan geng motor, menurutnya   akibat lambannya 
aparat kepolisian.

“Kami mencermati kalau aparat, dalam hal ini polisi, seperti membiarkan begitu 
saja dan  tidak cepat tanggap. Ini kan urusan kecil, kenapa polisi kok tidak 
bisa.  Kalau urusan kecil ini saja polisi tidak sanggup, bubarkan  saja 
kepolisian,” tegas Tjahjo.

Ditanya mengenai perlunya aparat TNI untuk ikut terlibat menyelesaikan kasus 
geng motor, politikus PDI-P ini mengatakan tidak setuju. Sebab, kasus geng 
motor adalah  merupakan kasus kriminal yang terjadi  di masyarakat, sehingga 
dalam penanganan  cukup polisi yang menyelesaikannya.

“Kalau kasus geng motor saya kira TNI tidak perlu ikut turun. Kacuali  
penembakan gelap yang terjadi beberapa kali di Papua selama 9 tahun terakhir, 
TNI baru perlu ikut campur karena polisi tidak pernah mampu menyelesaikan 
kasusnya,” paparnya.[137]



Geng Motor
Polri Tak Tahu Perkembangan Penyidikan Internal TNI
Sabrina Asril | Hertanto Soebijoto | Selasa, 17 April 2012 | 13:08 WIB
 KOMPAS/JITET KOESTANA Ilustrasi


JAKARTA, KOMPAS.com - Penyidik kepolisian kini bekerja sama dengan Polisi 
Militer (POM) TNI dalam menelusuri dugaan keterlibatan oknum TNI dalam aksi 
kekerasan geng motor yang terjadi di Jakarta. Namun, polisi tidak tahu menahu 
sudah sejauh mana perkembangan penyidikan internal TNI.

"Saya nggak tahu persis apa yang dilakukan POM TNI AL dan POM TNI," ungkap 
Kabareskrim Polri, Komisaris Jenderal Sutarman, usai meresmikan pembukaan gerai 
pelayanan INAFIS Card di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Selasa (17/4/2012).

Menurut Sutarman, unsur POM TNI dilibatkan mulai dari penyelidikan. "Sampai 
ditemukan fakta kalau orang sipil pasti akan kami tindak, tapi kalau TNI pasti 
kami serahkan ke POM TNI. TNI tunduk pada hukum militer," ucap Sutarman.

Untuk pemeriksaan selanjutnya, lanjut Sutarman, POM TNI yang akan memeriksa 
oknum TNI itu. Kepolisian, diakui Sutarman, tidak memiliki kewenangan tersebut.

"Pemeriksaannya kalau TNI bukan kami, harus dari TNI. Kami tidak punya 
kewenangan untuk melakukan pemeriksaan," ujarnya.

Harus POM karena TNI tunduk pada hukum militer. Kendati memiliki kewenangan 
sempit dalam menelusuri dugaan keterlibatan oknum TNI, Sutarman memastikan 
bahwa proses hukum tetap akan dilakukan.

"Siapa pun yang melakukan tentu ada hukum yang harus ditegakkan. Geng motor 
kalau sudah lakukan kejahatan, kami akan tegakkan hukum," kata mantan Kapolda 
Metro Jaya ini.

Serangkaian aksi geng motor itu bermula dari tewasnya Kelasi Arifin, staf 
khusus Panglima Armada Kawasan Barat (Armabar) TNI AL, pada tanggal 31 Maret 
2012 di Jalan Benyamin Sueb, Pademangan, Jakarta Utara.

Setelah itu aksi balas dendam dilakukan atas tewasnya Arifin pada tanggal 7 
April 2012 di SPBU Shell Jalan Danau Sunter Utara, Jakarta Utara dan pada 
tanggal 8 April 2012 di Jalan Benyamin Sueb, Kemayoran, Jakarta Pusat. Satu 
orang tewas dalam peristiwa tersebut yakni Soleh.

Sepekan kemudian, aksi serupa kembali terjadi di delapan lokasi di Jakarta 
Utara dan Jakarta Pusat pada tanggal 13 April 2012. Sekitar 200 orang pria 
berbadan tegap yang mengendarai sepeda motor melakukan konvoi dan menyerang 
para pemuda mulai dari Tanjung Priok-Warakas-Salemba Raya-Pramuka. Satu orang 
tewas yakni Anggi Darmawan. Sudah ada belasan orang terluka akibat ulah brutal 
kelompok ini.

Polisi masih menelusuri para pelaku dari rangkaian peristiwa itu. Saksi mata di 
lokasi kejadian menuturkan bahwa para pelaku berambut cepak dan berbadan tegap. 
Intonasi suara saat membentak para korban juga sangat tegas. Dugaan ini 
diperkuat dengan rekaman kamera CCTV di Circle K SPBU Shell Sunter. Di sana, 
ada beberapa orang yang mukanya terlihat jelas. Mereka berambut cepak dan 
memakai kaos ketat warna biru tua.
http://www.suarapembaruan.com/home/tidak-mampu-tangani-geng-motor-bubarkan-saja-polri/19200


Tujuh Anggota Geng Motor Tersangka Penganiaya
Tuesday, 17 April 2012 02:27
0 Komentar

Makassar - Penyidik Polrestabes Makassar menetapkan tujuh dari 12 orang 
tersangka pelaku penganiayaan hingga tewas terhadap mahasiswa Universitas 
Negeri Makassar (UNM), Ibrahim, oleh geng motor di Makassar.

"Kami masih melakukan penyelidikan dan penyidikan terkait kasus ini, dan untuk 
sementara kami sudah menetapkan tujuh orang tersangka kasus penganiayaan ini," 
ujar Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Erwin Triwanto di Makassar, Minggu 
(15/4).

Ia mengatakan, ke-12 pelaku geng motor yang sudah diamankan, masing-masing 
berinisial RJ (26), Ag (18), Syu (18), Tak (11), An (15), Ad (19), As (16), IS 
(19), Sy (17), An (18), De (20), dan Af (16).

Sedangkan tujuh di antaranya yang ditetapkan sebagai tersangka karena telah 
melakukan penganiayaan hingga menghilangkan nyawa korban, masing-masing Tak 
(11), An (15), As (16), De (20), Sy (17) dan RJ (26).

Para pelaku pengeroyokan ini sudah dijebloskan ke dalam sel tahanan Polrestabes 
Makassar, sambil menunggu hasil penyidikan lainnya kepada rekan pelaku.

"Untuk beberapa pelaku lainnya yang belum ditetapkan sebagai tersangka masih 
harus menjalani pemeriksaan secara intensif dan jika semua unsur-unsur 
terbukti, maka tidak menutup kemungkinan pelakunya masih akan bertambah terus," 
katanya.

Dari pengeroyokan itu, polisi menerima dua versi yakni dari pihak korban dan 
pelaku. Dari pihak korban, mereka dibuntuti geng motor setelah keluar dari 
Hotel Horison, Jalan Jenderal Sudirman, menuju rumahnya di Jalan Bontomene 
bersama 12 rekannya.

Korban, yang merupakan aktivis Pemuda Pancasila itu, baru saja menghadiri 
kegiatan pelantikan pelajar-mahasiswa Pemuda Pancasila (PP) di Hotel Horison, 
Makassar.

"Korban setelah keluar dari hotel, diikuti 10 motor yang ditumpangi secara 
berboncengan, dan diduga pelaku pengeroyokan. Korban juga bersama dengan 
rekannya yang lain dengan enam sepeda motor, tetapi tidak diketahui kenapa 
korban langsung jatuh dan dikeroyok," katanya.

Setelah terjatuh, lanjut mantan Direktur Intelkam Polda Sulselbar ini, korban 
kemudian dipukuli dengan menggunakan balok dan batu. Di punggung korban juga 
ditemukan anak panah tertancap.

Sedangkan versi lain dari pelaku menyebutkan, provokasi awal telah dilakukan 
oleh korban yang tidak diterima baik oleh dirinya bersama rekan-rekannya yang 
lain.

Korban bersama rekannya sempat menyalip rombongan geng motor ini kemudian 
langsung dikejar dari Jalan Jend Sudirman hingga ke Jalan Sungai Saddang 
Makassar.

Atas kejadian itu, polisi kemudian menyita sejumlah barang bukti yang digunakan 
para pekaku yakni dua katepel, tiga anak panah, serta balok kayu. [TMA, Ant]




Nono Sampono: "Aksi Balas Dendam Harus Jadi Catatan Panglima"
Sabrina Asril | A. Wisnubrata | Rabu, 18 April 2012 | 09:13 WIB
 KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Calon Wakil Gubernur yang diusung Partai 
Golkar Nono Sampono hadir dalam acara deklarasi pasangan Calon Gubernur dan 
Wakil Gubernur dari Partai Golkar di Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Kamis 
(8/3/2012).


JAKARTA, KOMPAS.com - Letnan Jenderal (Purn) Nono Sampono mengecam aksi balas 
dendam yang dilakukan geng motor di beberapa tempat di Jakarta beberapa hari 
lalu. Ia menilai dugaan keterlibatan oknum TNI dalam peristiwa tersebut harus 
menjadi catatan bagi Panglima TNI dan para komandan marinir.

"Mungkin dia (oknum TNI) solider terhadap korban temannya dan melakukan 
tindakan itu. Ini harus jadi catatan penting bagi panglima komandan, harus ada 
penegakan hukum," ungkap Nono kepada Kompas.com, Rabu (18/4/2012).

Ia menilai jika benar memang geng motor itu adalah oknum TNI, instansi TNI 
harus terbuka menjelaskannya kepada masyarakat. "Selain itu, kalau itu benar 
TNI, saya rasa ada masalah dalam pengawasan mereka. Bagaimana bisa mereka 
meninggalkan markas dengan berbondong-bondong banyak seperti itu. Komandannya 
harus lebih ketat mengawasi," tukas Nono.

Ia pun meminta aparat kepolisian dan TNI bersama-sama membuktikan dugaan 
keterlibatan TNI itu secara terbuka. "Dengan adanya meninggal yang Kelasi itu, 
maka harus ada alibi yang dibuktikan yang bisa meyakinkan bahwa itu oknum TNI," 
tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, aksi kekerasan geng motor terjadi di Jakarta dua pekan 
lalu. Sekitar 200-an orang pria berbadan tegap dan berambut cepak mengacak-acak 
tempat umum dan menghajar sejumlah pemuda.

Peristiwa itu diduga dipicu peristiwa tewasnya Kelasi Arifin, Staff Khusus 
Panglima Armada Kawasan Barat (Armabar) pada tanggal 31 Maret 2012 di 
Pademangan, Jakarta Utara. Arifin tewas saat terlibat perkelahian dengan geng 
motor. Setelah itu, polisi menduga rekan-rekan Arifin melakukan aksi balas 
dendam di berbagai tempat pada tanggal 7-8 April 2012 dan tanggal 13 April 
2012. Dalam peristiwa itu, sebanyak dua orang pemuda tewas dan belasan lainnya 
luka-luka.

Kirim email ke