"Si Anggota DPR" Akhirnya Minta Maaf
Imanuel More | Egidius Patnistik | Jumat, 20 April 2012 | 05:54 WIB 
 Shutterstock Ilustrasi 


JAKARTA, KOMPAS.com — Pria yang mengaku anggota DPR dari Fraksi Demokrat dan 
memarahi pegawai restoran yang melarang dia merokok akhirnya meminta maaf. 
Permintaan maaf itu ia sampaikan kepada pengelola Anomali Coffee. "Tadi dia ke 
sini untuk minta maaf. Ternyata dia bukan anggota DPR dan bukan orang yang 
bernama Edwin," kata Deni, Supervisor Anomali Coffee, saat dihubungi Kompas.com 
di Jakarta, Kamis (19/4/2012). 

Deni menjelaskan, yang terjadi sebenarnya hanya kesalahpahaman. Yang 
mencak-mencak sebenarnya salah seorang rekan Edwin. Menjelang pulang, Edwin 
yang hadir dalam rombongan itu memberikan kartu namanya kepada pria yang 
mengaku anggota DPR itu. Oleh orang itu, kartu nama tersebut kemudian diberikan 
kepada Deni. Deni pun mengira yang memberikan kartu itu Edwin JT, sebagaimana 
tertulis dalam kartu tersebut. 

"Yang terjadi kemarin itu semua salah paham saja. Saya juga sudah minta maaf 
dan mereka juga sudah minta maaf," ujar Deni. Insiden "anggota DPR" marah-marah 
karena dilarang merokok terjadi di Anomali Coffee, Jalan Senopati, Jakarta 
Selatan, Rabu. Pada kartu nama yang diberikan tertera jabatan sebagai staf 
Departemen Perekonomian DPP Partai Demokrat. 

Kompas.com telah beberapa kali mencoba menghubungi nomor telepon yang 
bersangkutan, sebagaimana tertera pada kartu nama itu, untuk meminta 
konfirmasi. Sayang, hubungan tersebut tidak pernah mendapat tanggapan, 
sambungan telepon tidak dijawab. 

Sementara itu, Sutan Bathoegana, salah seorang petinggi Partai Demokrat, saat 
dihubungi Kamis siang, menyatakan masih melakukan investigasi atas kasus 
tersebut. 



Pangdam Jaya: Yang Terlibat Geng Motor Anggota Baru
Sabrina Asril | Egidius Patnistik | Jumat, 20 April 2012 | 04:34 WIB 
 KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Trianawati kerabat dari almarhum Anggi yang merupakan 
korban tewas dalam peristiwa penyerangan oleh geng motor di Kawasan Salemba, 
Jakarta Pusat, menunggu jenasah keponakannya di Kamar Jenazah Rumah Sakit Islam 
Jakarta, Jakarta Pusat, Jumat (13/4/2012). 


JAKARTA, KOMPAS.com — Polisi Militer Tentara Nasional Indonesia (Pom TNI) 
menangkap empat orang anggota TNI terkait aksi brutal geng motor yang terjadi 
beberapa waktu lalu di kawasan Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. 

Empat anggota TNI tersebut merupakan anggota Artileri Pertahanan Udara 
(Arhanud) 6 Tanjung Priok. Hal ini diungkapkan Panglima Daerah Militer 
Jayakarta Mayor Jenderal Waris, Kamis (19/4/2012) malam, seusai acara 
silturahim TNI-Polri di Hotel Sahid, Jakarta. 

"Mereka anggota Arhanud 6 Tanjung Priok. Itu anggota saya juga. Mereka anggota 
baru," ujar Waris. Kendati merupakan anggota baru, Waris memastikan bahwa 
seluruhnya akan mendapat hukuman berat terkait aksinya itu. 

Mereka saat ini masih menjalani pemeriksaan di Pom TNI. Dari hasil pemeriksaan 
sementara, keempat anggota TNI yang belum diketahui namanya itu hanya 
ikut-ikutan ajakan dari rekannya yang lain. "Mungkin dia ikut-ikutan dan 
provokasi. Ikut-ikutan saja mereka ini," kata Waris. 

Pihak Kodam Jaya, kata dia, masih melakukan penelusuran dugaan keterlibatan 
anggota lainnya. Dugaan keterlibatan anggota TNI dari angkatan lainnya hingga 
kini masih belum diketahui. "Kalau angkatan lain tanya sama angkatan lain. Saya 
cuma urus anak buah saya, enggak urus yang kena tembak," ujar Waris. 

Dua anggota TNI sebelumnya tertembak di Jalan Pramuka, Jakarta Pusat, pada 
tanggal 13 April 2012. Mereka adalah Kelasi Sugeng Riyadi, anggota Lafial, dan 
Prada Akbar Yudhi, Anggota Kostrad Divisi 2 Malang. Berdasarkan keterangan 
saksi mata di lapangan yang dihimpun kepolisian, dua anggota TNI itu merupakan 
bagian dari kelompok geng motor yang jumlahnya sekitar 200 orang. Mereka saat 
itu seusai melakukan konvoi dan mengacak-acak Tanjung Priok, Warakas, Salemba, 
dan Pramuka. Waris memastikan bahwa empat orang anggota TNI tersebut terlibat 
dalam aksi penyerangan geng motor di seluruh lokasi tersebut pada tanggal 13 
April 2012. 

"Mereka terlibat tanggal 13 April 2012," katanya. 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke