Ref: Bu Mega sebagai anggota DPR pada masa pemerintahan Soeharto, apakah sering 
 suara demokrasi nan etis menentang pelengaran HAM diperdengarkan?

http://www.suarapembaruan.com/home/megawati-persoalan-demokrasi-adalah-tak-ada-sikap-etis/20221

Megawati: Persoalan Demokrasi Adalah Tak Ada Sikap Etis
Selasa, 15 Mei 2012 | 19:25

 Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Soekarnoputri 
[SP/Fuska Sani Evani] [JAKARTA] Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia 
Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengatakan inti persoalan demokrasi Indonesia 
terletak pada ketiadaan sikap etis dalam berpolitik, ketiadaan sikap yang 
menekankan pada keutamaan prinsip menang secara jujur, dan kalah secara 
terhormat.   

"Serta ketiadaan di dalam mewujudkan moralitas politik yang mengedepankan 
satunya kata dan perbuatan," kata Megawati saat berbicara di Universitas 
Innsbruck, Austria, Selasa (15/5).   

Megawati ke Austria memenuhi undangan Universitas Innsbruck untuk memberikan 
pidato kunci dalam seminar bertajuk "The Role of Women in Politics" (Peranan 
Wanita Dalam Politik).   

Megawati dalam pidato tertulis mengatakan, ketika menjadi Presiden Republik 
Indonesia ke-5, ia mendapat kesempatan untuk menyelenggarakan pemilihan 
presiden secara langsung untuk yang pertama kali.   

"Saya berketetapan untuk melaksanakan secara sungguh-sungguh berdasarkan azas 
jujur, adil dan demokratis. Hal ini tidak mudah. Tantangan terbesar adalah 
apakah saya harus memenangkan diri saya dalam Pemilihan Presiden 2004 atau 
memenangkan demokrasi," katanya.   

Ketika dihadapkan pada pilihan ini, dengan sangat yakin Megawati mengatakan ia 
memilih yang kedua, memenangkan demokrasi karena ia berkeyakinan rakyatlah 
pemegang kedaulatan tertinggi.   

Pilihan tersebut tidaklah mudah. Sebab kata Megawati, ia harus menghadapi 
banyak bujukan dan tekanan. Berbagai bujukan untuk menggunakan birokrasi yang 
dengan senang hati menyediakan diri untuk digunakan olehnya sebagai presiden 
"incumbent", godaan untuk menggunakan sumber-daya Negara untuk memenangkan diri 
sendiri, dan masih banyak lagi.   

"Singkatnya, saya harus menghadapi mentalitas dan gaya politik Orde Baru yang 
cenderung menghalalkan segala cara. Di sinilah diperlukan kematangan dan 
kesadaran akan tujuan," katanya.   

Karenanya, ia memilih untuk menolak semua tawaran dan tekanan dari kekuatan 
anti demokrasi di atas.   

"Sebagai pemimpin saya sadar bahwa satu tindakan salah dalam masa genting 
transisi Indonesia, bisa membawa negeri dan rakyat saya ke jurang kehancuran. 
Pada titik ini saya tidak lagi berpikir tentang laki-laki atau perempuan, 
tetapi saya berpikir untuk Indonesia. Dan anehnya, hingga saat ini, saya tidak 
pernah menyesali, bahkan sebaliknya merasa bangga dengan keputusan yang saya 
ambil di atas," katanya.   
Mengenai pergulatan perempuan di Indonesia dalam penyamaan gender dan politik, 
Megawati mengatakan baginya pergulatan perempuan Indonesia saat sekarang 
bukannya untuk mendapatkan pengakuan penyetaraan gender sebagaimana pergulatan 
banyak bangsa lain, tapi justru menemukan formula bagi implementasinya.   

Tantangan perempuan Indonesia adalah bagaimana menjadikan politik sebagai 
sebuah gerakan bagi Indonesia dan kemanusiaan yang lebih baik. 

"Itulah yang saya lakukan, membangun kembali kesadaran politik kaum perempuan 
Indonesia untuk berani memilih jalan politik," katanya.   

Hal ini tidaklah mudah, katanya. Justru dalam era modern seperti ini, pilihan 
politik bagi perempuan nampak adanya kemunduran dari aspek idealisme.   

Lebih-lebih sebagai sebuah gerakan. Keterlibatan kaum perempuan dalam politik 
justru kembali dibatasi. Bahkan banyak diantaranya yang tidak bisa aktif hanya 
karena alasan sederhana, yakni tidak diijinkan oleh suaminya. [Ant/L-8]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke