Ref: Kalau simbol-simbol setan ditakuti, lantas bagaimana dengan yang 
benar-benar setan, iblis dan porno?  Untuk menyegarkan pikiran silahkan lihat 
ini, click : 
http://s640.vuclip.com/e3/18/e3183d588313443233becff608b85b71/ba64807/dangdutgokil_e318_w_2.3gp?c=312604073


http://www.hidayatullah.com/read/22941/01/06/2012/%E2%80%9Cmakna-batalnya-konser-lady-gaga%E2%80%9D.html

“Makna Batalnya Konser Lady Gaga” 


       
      Sebuah poster Lady Gaga yang dianggap pemuja setan!  
     
     
     
Jum'at, 01 Juni 2012 


Oleh: Dr. Adian Husaini

“Pro-kontra konser Lady Gaga di Indonesia menunjukkan dahsyatnya pertarungan 
ide antara Islam dan liberalisme. Bukan tidak mungkin, jika Lady Gaga berhasil 
konser di Indonesia, maka tahun berikutnya akan digelar kontes Vagina Terindah, 
seperti yang telah terjadi di AS.”

*****

LADY GAGA akhirnya gagal manggung di Indonesia.   Pihak manajemen penyanyi 
nyentrik dan jorok asal AS ini menyebutkan, bahwa pembatalan itu terkait dengan 
masalah keselamatan. Sebelumnya, seperti diberitakan www.kompas.com 
(27/5/2012), kuasa hukum promotor Big Daddy Entertainment, Minola Sebayang, 
mengatakan, pihak manajemen Gaga meminta konser dibatalkan lantaran faktor 
keamanan yang menurut mereka tidak terjamin. "Kalau alasan sangat complicated, 
pihak manajemen Lady Gaga mempertimbangkan dengan kondisi menit ke menit, 
dengan adanya ancaman-ancaman yang membahayakan bila konser itu 
diselenggarakan. Akhirnya pihak Lady Gaga membatalkan konser di Jakarta," kata 
Minola di Jakarta. 

"Ini bukan hanya keamanan Lady Gaga, tapi semua keamanan yang menonton Lady 
Gaga," lanjutnya.

Segera, setelah pembatalan konser itu, reaksi pro-kontra bermunculan. Yang 
menarik adalah suara-suara dari para pemuja paham kebebasan.  Seperti 
diberitakan KOMPAS.com,  ada yang menyatakan, bahwa  pembatalan konser Gaga 
yang bertajuk "Born This Way Ball Tour" menunjukkan bahwa Indonesia bukan 
negara yang sepenuhnya berdaulat. Pengekangan kebebasan berekspresi masih 
terjadi di negara yang telah merdeka selama 67 tahun ini.  "Ada tarik ulur 
izin. Ini sudah bukan wilayah hukum lagi, melainkan komoditas politik. Dan yang 
paling nyata, kedaulatan aparat hukum sudah dikalahkan kepentingan kelompok 
tertentu, yang tidak mewakili rakyat Indonesia," ujar Ketua Badan Pengurus 
Setara Institute, Hendardi, kepada Kompas.com, Minggu (27/5/2012).

Hendardi juga mengatakan, pembatalan ini menunjukkan kemenangan kelompok 
tertentu yang tidak menghargai keberagaman di Indonesia. Kenyataan ini terasa 
ironis mengingat upaya pemerintah yang mengklaim penegakan hak-hak kelompok 
minoritas berjalan dengan baik.   Menurut Hendardi, pembatalan konser Lady Gaga 
membuat penegakan HAM di Indonesia mundur satu langkah, serta ketiadaan sikap 
tegas pemerintah Indonesia.

Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, kedaulatan hukum di Indonesia akan 
semakin buruk. 
Komentar Hendardi soal pembatalan konser Lady Gaga hanya berdasar pada prinsip 
kebebasan. Ia sama sekali tidak melihat dari sisi agama, soal baik dan buruk; 
halal atau haram. Baginya, yang penting manusia diberikan kebebasan. Bebas apa 
saja; mau berbuat maksiat atau beramal saleh, sama saja.  Yang penting, 
kebebasan!

Padahal, sudah lama Hendardi dan kita semua memahami, bahwa tidak ada kebebasan 
yang mutlak di dunia ini. Kebebasan dibatasi oleh aturan dan norma-norma,  baik 
yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Kita sudah lama tidak bebas berbuat 
apa saja yang kita kehendaki saat berada di jalan raya.  Kita dipaksa 
mengenakan helm, sabuk pengaman, memiliki Surat Ijin Mengemudi. Padahal, itu 
semua menjadikan kita tidak bebas. Jenis helm pun sudah ditentukan. Kita tidak 
bebas mengenakan sorban dan peci haji sebagai pengganti helm? Mengapa kita 
tidak protes ke polisi, bahwa kewajiban mengenakan helm dengan jenis tertentu 
itu telah merampas kemerdekaan kita?

Itulah anehnya manusia yang merasa telah menjadi Tuhan, dan berhak mengatur 
dirinya sendiri, tanpa campur tangan Tuhan! Di suruh mengenakan jilbab dan 
berpakaian yang sopan, dikatakan itu suatu bentuk penindasan dan pelanggaran 
kebebasan berekspresi. Tetapi dipaksa mengenakan helm jenis tertentu, diam 
saja! Bukankah dia bisa menyatakan, bahwa urusan kepalanya bukanlah urusan 
polisi! Kepalanya pecah atau tidak, bukanlah polisi yang akan menanggungnya, 
tetapi dirinya sendiri yang menanggung.

Kenapa polisi ikut campur?

Ada kalanya, kebebasan kita dibatasi oleh aturan tidak tertulis. Kita tidak 
akan meludahi muka orang tua kita, meskipun tidak ada aturan tertulis.  Di 
sejumlah negara yang – katanya memuja kebebasan – terjadi hal-hal yang  sulit 
kita terima kebaikannya, dilihat dari akal sehat orang Muslim.  Di sebuah 
negara bagian di AS, pernah diberitakan adanya kontes vagina terindah.  Di 
sejumlah tempat di Eropa, kini berkembang gereja-gereja telanjang (nudic 
church) dan gereja-gereja pemujaan setan (satanic church).  Jika standar yang 
kita gunakan hanya kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, dan tidak 
mengganggu atau melanggar hak orang lain, maka tidak ada salahnya semua 
perilaku jahat itu dilakukan.

Tahun 2011, sebuah situs perempuan memberitakan adanya sebuah kontes pemilihan 
vagina terindah di AS. Kontes itu diberi nama “The Most Beautiful Miss V 
Contest”, yang diselenggarakan oleh sebuah klub di Portland, Oregon. Katanya, 
juri dalam kontes itu terdiri atas enam orang selebriti setempat.  Untuk 
menentukan pemenangnya, si juri dibekali dengan alat kaca pembesar. Akhirnya, 
setelah melakukan penelitian dengan cermat, terpilihlah seorang juara yang 
dianugerahi mahkota dan gelar sebagai “Miss Beautiful Vagina 2011”.

Jika Lady Gaga yang sangat jorok diizinkan berkonser, maka dengan logika yang 
sama, bisa saja, ada  promotor  dan pemuja paham kebebasan akan mencoba 
menggelar kontes pemilihan vegina terindah.  Jangan-jangan, akan banyak 
peminatnya.  Promotor bisa langsung menjual tiketnya, meskipun belum ada izin 
dari Mabes Polri.  Pasti akan muncul pro-kontra.  Mungkin, ada pejabat 
pemerintah lalu muncul di TV dan dengan enteng  mengatakan: “Yang mau nonton 
silakan, yang tidak mau nonton tinggal di rumah saja! Yang penting tidak saling 
mengganggu!”

Jika ada yang memprotes kontes semacam itu, katakan saja: “Itu orang-orang yang 
sok moralis, yang merasa suci sendiri. Ini kan sekedar kontes!  Indonesia bukan 
negara agama; Indonesia bukan negara Islam!”   Jika ada yang tidak tahan dan 
kemudian marah-marah serta mengancam akan membubarkan kontes vagina terindah 
itu, katakan saja: “Itu hanya ulah ormas  anarkis!”  Jika izin ditolak oleh 
polisi dengan alasan moralitas bangsa, katakan pada polisi: “Sejak kapan polisi 
melarang atas dasar moral?”

Patut dicatat, sebagian kalangan pemuja kebebasan di Indonesia sudah mulai 
membangun dan mensosialisasikan logika sekuler semacam itu. Ingat, dalam CAP 
ke-276, kita mengupas sebuah buku berjudul  “Jihad Melawan Ekstrimis Agama, 
Membangkitkan Islam Progresif” (terbit pertama Oktober 2009), yang ditulis oleh 
alumnus Fakultas Syariah sebuah Perguruan Tinggi Islam di Kota Semarang, Jawa 
Tengah. 

Dalam buku ini, penulis yang juga kandidat doktor bidang antropologi politik 
dan agama di Boston University, AS, memiliki cara pandang yang sangat liberal 
terhadap seksualitas. Ia tulis dalam bukunya:

”Apa yang diwartakan oleh agama (Islam, Kristen dan lainnya) hanyalah satu sisi 
saja dari sekian banyak persepsi tentang seks itu atau katakanlah sex among 
others. Bahkan jika kita kaji lebih jauh, ajaran Kristen atau Islam yang begitu 
”konservatif” terhadap tafsir teks sebetulnya hanyalah reaksi saja atas 
peradaban Yunani (Hellenisme) yang memandang seks secara wajar dan natural. 
Kita tahu peradaban Yunani telah merasuk ke wilayah Eropa (lewat Romawi) dan 
juga Timur Tengah di Abad Pertengahan yang kemudian menimbulkan sejumlah 
ketegangan kebudayaan. Oleh karena itu tidak selayaknya jika persepsi agama ini 
kemudian dijadikan sebagai parameter untuk menilai, mengevaluasi dan bahkan 
menghakimi pandangan di luar agama tentang seks.

Apa yang kita saksikan dewasa ini adalah sebuah pemandangan keangkuhan oleh 
kaum beragama (dan lembaga agama) terhadap fenomena seksualitas yang vulgar 
sebagai haram, maksiat, tidak bermoral dan seterusnya. Padahal moralitas atau 
halal-haram bukanlah sesuatu yang given dari Tuhan, melainkan hasil kesepakatan 
atau konsensus dari ”tangan-tangan gaib” (invisible hand, istilah Adam Smith) 
kekuasaan, baik kekuasaan politik maupun otoritas agama. Teks-teks keagamaan 
dalam banyak hal juga merupakan hasil ”perselingkuhan” antara ulama/pendeta 
dengan pemimpin politik dalam rangka menciptakan stabilitas.

Saya rasa Tuhan tidak mempunyai urusan dengan seksualitas. Jangankan masalah 
seksual, persoalan agama atau keyakinan saja yang sangat fundamental, Tuhan – 
seperti secara eksplisit tertuang dalam Alqur’an – telah membebaskan manusia 
untuk memilih: menjadi mukmin atau kafir. Maka, jika masalah keyakinan saja 
Tuhan tidak perduli, apalagi masalah seks? Jika kita mengandaikan Tuhan akan 
mengutuk sebuah praktek ”seks bebas” atau praktek seks yang tidak mengikuti 
aturan resmi seperti tercantum dalam diktum keagamaan, maka sesungguhnya kita 
tanpa sadar telah merendahkan martabat Tuhan itu sendiri. Jika agama masih 
mengurusi seksualitas dan alat kelamin, itu menunjukkan rendahnya kualitas 
agama itu.

Demikian juga jika kita masih meributkan soal kelamin – seperti yang dilakukan 
MUI yang ngotot memperjuangkan UU Pornografi dan Pornoaksi – itu juga sebagai 
pertanda rendahnya kualitas keimanan kita sekaligus rapuhnya fondasi spiritual 
kita. Sebaliknya, jika roh dan spiritualitas kita tangguh, maka apalah artinya 
segumpal daging bernama vagina dan penis itu. Apalah bedanya vagina dan penis 
itu dengan kuping, ketiak, hidung, tangan dan organ tubuh yang lain. Agama 
semestinya ”mengakomodasi”  bukan ”mengeksekusi” fakta keberagaman ekspresi 
seksualitas masyarakat. Ingatlah bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor” 
tetapi lantaran otak dan ruh kita yang penuh noda. (hal. 182-184)



*****

Simbol-simbol setan

Jika ajaran Tuhan dibuang dari pikiran manusia, dan salah-benar hanya 
didasarkan kepada logika dan syahwat kebebasan, maka manusia akan memandang 
baik berbagai bentuk kemaksiatan dan kemunkaran, sebagaimana diinginkan oleh 
setan.  Perilaku dan kehidupan serta berbagai Konser Lady Gaga yang begitu 
jelas mengumbar kemaksiatan dan kejahatan dikatakan sebagai hal yang baik dan 
dibela habis-habisan oleh penganjur kebebasan.  Jika selama ini sudah digelar 
kontes mata, hidung, betis, bahkan payudara terindah,  lalu – mengikuti logika 
penulis buku tersebut – apa salahnya juga digelar kontes vagina terindah. 
Bukankah, katanya,  “… jika roh dan spiritualitas kita tangguh, maka apalah 
artinya segumpal daging bernama vagina dan penis itu. Apalah bedanya vagina dan 
penis itu dengan kuping, ketiak, hidung, tangan dan organ tubuh yang lain.”

Uniknya – meskipun dalam berbagai kesempatan Lady Gaga sering menampilkan diri 
sebagai pemuja setan --  ada juga pembelanya di Indonesia. Dalam sebuah dialog 
tentang Lady Gaga di satu TV swasta,  Mei 2012, seorang musisi terkenal membela 
penggunaan simbol-simbol setan oleh Lady Gaga. Menurut dia, penggunaan 
simbol-simbol setan itu sekedar ekspresi seni belaka, dan bukan berarti dia 
pemuja setan, atau penonton konser Gaga akan ikut-ikutan memuja setan.

Ada juga pengamat musik yang beberapa kali dikutip pendapatnya, bahwa 
penggunaan simbol darah dan setan, sudah lazim digunakan dalam beberapa kali 
acara pagelaran  konser musik.  Kata dia, “Kenapa baru dipersoalkan sekarang?”

Logika seperti itu jelas keliru. Saat ditangkap KPK, seorang koruptor tidak 
bisa berdalih, “Kenapa saya saja yang ditangkap? Bukankah selama ini banyak 
koruptor lain sudah melakukan korupsi?” Jangan pula pencuri sandal di masjid 
beralasan, bahwa selama ini tindakan mencuri sandal di masjid sudah sering 
dilakukan.

Dalam dialog di TV tersebut, seorang  Pengacara Muslim, Mahendradata menjawab, 
dengan sangat baik; bahwa masalah simbol bukanlah hal sepele. Mahendradata 
menantang sang pemusik  – jika berani -- untuk memakai simbol “palu arit” saat 
memasuki markas tentara atau ke pasar-pasar. Kehadiran Lady Gaga yang sering 
menampilkan simbol-simbol setan, menurut Mahandradata,  sangat wajar dipanpang 
sebagai hal serius bagi umat beragama, khususnya umat Islam.

Logika Mahendradata perlu kita camkan. “Simbol” bukan hal yang remeh dalam 
kehidupan manusia. Setiap negara, misalnya, memilih symbol-simbol tertentu yang 
dipandang baik atau hebat. AS memilih burung elang sebagai simbol negaranya.   
Indonesia memilih burung garuda. Saat menikah, Anang dan Ashanti melepas  
burung merpati, bukan melepas kodok! Tentu akan menjadi masalah besar jika ada 
seorang mengganti simbol

Negara RI, burung Garuda,  dengan kecoa!


Jika dalam berbagai kesempatan Lady Gaga memilih simbol setan dalam 
penampilannya, tentu itu bukan tanpa sebab. Apalagi, itu ditunjang oleh 
perilakunya yang memang khas bercorak “syaithaniy”.  Ia pun tak segan-segan 
memberikan sokongannya terhadap praktik pornografi, seks bebas, homoseksual dan 
lesbianisme.  Walhasil, dilihat berbagai segi, Lady Gaga memang sedang 
mempromosikan budaya dan pemujaan terhadap setan. [baca CAP ke-339: “Irshad 
Manji, Lady Gaga dan Logika Setan”]

Sementara itu, sebagai orang Muslim, kita diajari oleh Allah SWT, melalui 
Rasul-Nya, bahwa setan adalah musuh kita yang nyata: “Dan janganlah kamu 
sekali-kali dipalingkan  oleh setan; sesungguhnya setan itu adalah musuh yang 
nyata bagimu.” (QS az-Zukhruf:62).

Bahkan, kita pun diberitahu, bagaimana cara kerja setan dalam menyesatkan 
manusia, yaitu merekayasa dan menghiasi perbuatan-perbuatan bejat, jahat, dan 
maksiat  sehingga jadi tampak indah dalam pandangan manusia.  “Iblis berkata: 
Ya Rabbi, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, maka pasti aku akan 
menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti 
aku akan menyesatkan  mereka semuanya.” (QS al-Hijr:39).

“Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat 
sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan 
mereka (yang buruk); maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan untuk 
mereka azab yang pedih. (QS an-Nahl:63)…”Setan pun menjadikan indah dalam 
pandangan mereka, apa yang mereka kerjakan.” (QS al-An’am:43).  “Barangsiapa 
yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh 
mengerjakan perbuata keji dan munkar.” (QS an-Nuur: 21).

Hasil karya setan memang luar biasa! Manusia yang  menjadi pemuja setan, bukan 
saja melakukan tindakan keliru, tetapi lebih jauh lagi, mereka bangga dan sama 
sekali tidak merasa bersalah dalam melaksanakan tindakan yang jahat.  Manusia 
yang baik bukan tak pernah buat dosa. Tetapi, manusia yang baik, akan cepat 
sadar, bahwa dia telah berbuat dosa; ia malu dengan dosanya,  dan segera 
bertaubat. Jika suatu ketika ia tergoda setan dan terjatuh dalam dosa lagi, ia 
pun segera bertaubat kembali kepada Allah SWT  Yang

Maha Pengampun atas segala dosa! 


Kita, sebagai Muslim, sudah sepatutnya bersyukur,  konser Lady Gaga batal di 
Indonesia.  Semoga ini menjadi bahan introspeksi bagi kita semua, bangsa 
Indonesia, bangsa Muslim terbesar di dunia.  Di negeri inilah dulu para wali 
dan pejuang-pejuang dakwah Islam berjihad selama beratas-ratus tahun 
mempertaruhkan jiwa, harta, dan keluarga mereka, demi menegakkan ajaran Tauhid 
dan menghapuskan paham-paham kemusyrikan. 
Namun, kita diwajibkan terus bersiap-siaga, karena setan tidak akan pernah 
berhenti menggoda dan berusaha menyesatkan manusia dengan berbagai cara! “Wahai 
orang-orang beriman, bersabarlah, perkuat kesabaranmu, dan bersiap-siagalah 
selalu, dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu meraih kemenangan.” (QS Ali 
Imran:200).*/Depok, 1 Juni 2012

Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas 
Ibn Khaldun Bogor). CAP hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan 
www.hidayatullah.com



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke