Ref: Kalau sekian banyak tergantung  pada asing, maka komisinya pun tidak asing 
pula ke kantong penguasa rezim.

http://www.shnews.co/detile-2765-75-persen-perekonomian-ri-tergantung-asing.html

75 Persen Perekonomian RI Tergantung Asing 
Faisal Rachman | Senin, 04 Juni 2012 - 15:55:22 WIB

JAKARTA – Kontribusi sektor domestik terhadap ekonomi Indonesia ternyata hanya 
mencapai 25 persen, sisanya didominasi asing. 

Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia menyebutkan, porsi kepemilikan 
investor asing di pasar saham awal tahun ini pun sudah mencapai 58,37 persen 
atau menguasai Rp 1,315 triliun. Hal yang sama juga terjadi pada utang 
pemerintah yang sudah hampir mencapai Rp 2.000 triliun, baik dari utang 
bilateral maupun Surat Berharga Negara (SBN). Asing menguasai lebih dari 30 
persen dari instrumen SBN. 

Ekonom dari Indonesia Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani 
Yustika melihat kondisi ini cukup rentan bagi ketahanan ekonomi Indonesia. "Di 
negara maju itu, sumbangan investasi asing tak lebih dari 25 persen ke 
perekonomian negara. Tapi di kita, 75 perekonomian dikontribusi asing. Kondisi 
ini yang harus dibalik, 75 persen perekonomian harus dari kontribusi domestik," 
kata Erani kepada SH, baru-baru ini. 

Ketergantungan ini juga terlihat dalam upaya pemerintah mematuhi dikte 
internasional dalam pengurangan subsidi. “Subsidi yang membengkak terus itu 
akan memengaruhi defisit. Intinya investor asing ingin APBN kita itu 
berkesinambungan, sehingga kewajiban utang bisa dibayar dengan baik dan tepat 
waktu," ujar Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat 
Waluyanto. 

Anggota Komisi XI DPR Harry Azhar Azis menyatakan, utang luar negeri yang besar 
belum efektif untuk pembangunan. "Kalau untuk investasi infrastruktur atau 
menambah subsidi, baru hasilnya bisa dirasakan seluruh rakyat. Yang ada, utang 
luar negeri digunakan untuk gaji pegawai dan membayar utang juga," ujar Harry. 

Sementara itu, Erani mengatakan, dari konteks pergaulan internasional, 
Indonesia memang tak bisa lepas sepenuhnya dari masuknya asing. Misalnya saja 
di sektor pertambangan, Indonesia masih butuh transfer teknologi dari asing. 

Namun, menurut Erani, ada beberapa sektor yang tak seharusnya dibuka lebar 
untuk asing. "Di sektor pasar keuangan, tak seharusnya kita sangat tergantung 
asing. Di kawasan Asia Tenggara saja rata-rata, termasuk Singapura, asing hanya 
maksimal diperbolehkan 40 persen. Kita yang paling liberal dengan 
memperbolehkan asing sampai 99 persen," tutur Erani. 

Ekonom dan mantan Menko Perekonomian Kwik Kian Gie, menyayangkan beragam 
kebijakan pemerintah yang lebih pro pada investor asing. Pada akhirnya, hal ini 
mengakibatkan kekuatan ekonomi Indonesia dikuasai asing. Menurutnya, kekuatan 
ekonomi kita tidak lebih dari 2 persen hingga 8 persen. 

Sejak 1967 lalu, negara sebenarnya membatasi ruang gerak korporasi asing masuk 
Indonesia, dengan hanya bisa terjun dan masuk ke roda perekonomian dengan 
jumlah sekitar 5 persen. Namun, mulai 1994 asing mulai merangsek pasar dengan 
pencapaian sekitar 60 persen hingga 80 persen. "Kini hasilnya sudah hampir 
mencapai 92 persen perusahaan dan aset-aset negara yang didapat melalui alam 
sudah dikuasai asing," ujarnya. 

Padahal, alih-alih memberikan keuntungan lebih, daftar perusahaan asing migas 
yang menunggak pajak bertambah banyak. Indonesia Corruption Watch (ICW) tahun 
lalu mengatakan jumlah perusahaan asing itu mencapai 33, melebihi jumlah 
perusahaan penunggak pajak yang disebutkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 
sebanyak 16 perusahaan 

Data yang diperoleh ICW tersebut berasal dari hasil audit BPKP (Badan 
Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) yang di-review kembali BPK (Badan 
Pemeriksa Keuangan) sejak 2008 hingga 2010. Sebanyak 33 perusahaan itu 
menunggak pajak yang jumlahnya selama dua tahun mencapai US$ 583 juta atau 
sekitar Rp 6 triliun. 

Namun, pemerintah optimistis nasionalisasi industri pertambangan pada saatnya 
nanti sangat memungkinkan untuk diwujudkan. "Itu semua bisa saja. Tergantung 
kepentingan nasional kita. Artinya, opsi untuk memperpanjang (kontrak) atau 
tidak kan ada sama kita," kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa. 

Hatta yakin sumber daya manusia Indonesia mampu mengelola sumber daya tambang 
untuk kepentingan nasional yang lebih besar. "Saya tidak bicara soal perusahaan 
A, B, C. Ini secara umum saja. Tapi secara SDM kita yakin sudah mampu mengelola 
pertambangan. Sudah berapa tahun sih kita merdeka? Masak nggak bisa-bisa juga," 
ujarnya. 

Nasionalisasi 

Soal nasionalisasi, Indonesia sebenarnya bisa belajar dari nasionalisasi 
industri migas di Bolivia dan Venezuela yang hingga hari ini ternyata dapat 
berjalan relatif aman, lancar, dan berdampak positif bagi kemakmuran rakyatnya. 
Exxon yang menuntut US$ 12 miliar untuk ganti asetnya di Venezuela, ternyata di 
Arbitrase Internasional hanya ditaksir US$ 907 juta. 

Presiden Bolivia Evo Morales, beberapa waktu lalu juga memutuskan 
menasionalisasi seluruh perusahaan gas alam dan minyak di negara itu. 
Perusahaan energi asing harus menyetujui penyaluran seluruh penjualan hasil 
produksinya melalui negara atau pergi dari Bolivia. "Penjarahan sumber daya 
alam kita oleh perusahaan-perusahaan asing telah berakhir," ucapnya dengan 
tegas. 

Begitu halnya dengan Arab Saudi yang bisa lepas dari ketergantungan terhadap 
perusahaan minyak AS: Aramco (Arabian American Oil Company), tatkala Raja 
Faisal menasionalisasinya pada 1974. 

Baru-baru ini, Presiden Argentina Cristina Fernandez pun berani mengatakan 
perusahaan minyak besar, YPF, milik Repsol (Spanyol) akan diambil alih negara. 
Pemerintah pusat dan daerah akan mengambil alih 51 persen saham YPF yang saat 
ini dikuasai Repsol. 

Dengan pengambilalihan ini, diharapkan kemandirian energi negara itu dan 
keuntungan hasil migasnya bisa dinikmati negara, bukan asing. Cristina berang 
karena tahun lalu negara harus mengeluarkan anggaran US$ 3 miliar untuk impor 
energi, sementara hasil migas dalam negeri lebih banyak diekspor. 

(Sinar Harapan) 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke