http://www.analisadaily.com/news/read/2012/06/09/55466/presiden_sby_harapkan_maluku_jadi_provinsi_maju/#.T9QagMV_TLc

SungaiMenjaga Kearifan 
Oleh : Junaidi Abdul Munif. 

SUNGAI sejak mula sejarahnya, menjadi pusat peradaban dunia. Daerah sekitar 
sungai menandai kawasan subur yang menjadi tulang punggung kehidupan di 
sekitarnya. Sungai Nil di Mesir, Tigris dan Eufrat di Mesopotamia, Gangga di 
India, dan Mekong di Tiongkok, menjadi bukti bahwa sungai memiliki andil besar 
untuk menciptakan peradaban sebuah bangsa.
Sungai menjadi sarana transportasi utama. Karena modernitas, peran sungai 
digantikan oleh transportasi darat, lalu udara. Sungai yang menjadi saksi hidup 
peradaban, akhirnya hanya menjadi lanskap kota yang membawa bencana. Sungai 
dibicarakan justru karena banjir yang menerjang. 

Akhirnya, sungai lebih banyak membawa bencana ketimbang kemakmuran. Di 
kota-kota besar, kebesaran sungai hanya tinggal nama. Ia gagah pada jaman 
dahulu. Menghadirkan romantika sebuah masyarakat yang menjadikan sungai sebagai 
bagian integral sosial-budaya-politik-ekonomi masyarakat masa lalu.

Karena itu, acara-acara sakral, menggunakan sungai sebagai tempat persembahan, 
mengungkapkan rasa syukur terhadap anugerah Sang Pencipta. Kearifan menjaga 
sungai sebagai denyut kehidupan itulah yang kini mulai terkikis dari jiwa 
masyarakat, tidak hanya masyarakat urban perkotaan, tapi juga pedesaan. Di 
kota, daerah sekitar sungai menjadi kawasan kumuh, tempat hunian orang-orang 
marjinal. Sungai menjadi tempat sampah dan MCK terpanjang.

Di pedesaan, pun setali tiga uang. Rumput-rumput yang tinggi dibiarkan, 
memanjang hingga mengganggu aliran sungai. Atau diubah jadi lahan pertanian. 
Tanggul sungai menjadi ladang yang menghasilkan tanaman ekonomis. Proses 
pengolahan tanah: mencangkul tanah dan menggemburkan tanah membuat tanggul 
menjadi rawan longsor dan terjadi erosi. 

Akibatnya terjadi pendangkalan sungai karena tanah turun ke sungai. Di musim 
hujan, volume air meningkat sehingga sungai yang dangkal tak mampu menampung 
debit air. Sungai tidak lagi dianggap sebuah lanskap geografis yang sakral, 
patut dijaga, dibersihkan agar ia memberi yang terbaik bagi manusia. Masyarakat 
semakin teralienasi secara spiritual dari sungai. 

Kisah Sunan Kalijaga

Di Jawa Tengah, dalam kisah Walisongo (Walisembilan), Raden Sahid merampok 
seorang wali, Sunan Bonang. Dia gagal merampok, dan mengabdi menjadi murid. 
Sunan Bonang memberi syarat, Raden Said disuruh untuk bertapa di tepi sungai, 
menjaga tongkat yang ditancapkan di tepi sungai. Inilah ihwal mula gelar 
sebagai Sunan Kalijaga, sunan yang menjaga sungai.

Kisah Sunan Kalijaga mengandung pesan spiritualitas yang dalam, bahwa sungai 
mesti dijaga. Ia menjadi arena untuk bertapa, mendekatkan diri kepada Sang 
Pencipta. Menjaga kali menjadi ujian bagaimana kesungguhan Sunan Kalijaga untuk 
tunduk pada titah sang guru.

Mestinya masyarakat hari ini mulai mentransformasikan spirit menjaga sungai 
sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Masaru Emoto, dalam bukunya 
The True Power of Water, menjelaskan bahwa air adalah benda hidup yang mampu 
merespon motivasi di sekitar atau yang terjadi dalam dirinya.

Sungai dengan air yang bersih, ternyata menghasilkan kristal yang bening dan 
indah. Sementara sungai yang berair kotor menghasilkan kristal yang buruk dan 
tak beraturan. Jika kita percaya bahwa air adalah benda yang hidup seperti 
diteliti oleh Emoto, mestinya air juga bisa merespon negatif apa yang kita 
berikan padanya. Secara ekstrem, peristiwa banjir adalah bentuk "balas dendam" 
air akibat ulah semena-mena manusia. 

Mungkin ini hal yang irasional, namun justru di sinilah pesan-pesan 
transendental yang bisa dipetik dari laku Sunan Kalijaga menjaga sungai. 
Menjaga sungai tidak hanya dimaknai secara simbolik dengan duduk terpaku 
menjaga sungai, namun diaplikasikan dengan langkah nyata membersihkan dari 
tumpukan sampah yang menghambat aliran air.

Masyarakat Indonesia secara keseluruhan adalah masyarakat yang masih percaya 
folklore (dongeng rakyat) yang menjadi spirit kehidupan masyarakat. Memahamkan 
masyarakat tidak hanya dengan menyampaikan dampak ekologis sungai, tapi juga 
pesan-pesan spiritualitas yang dikandung dari perilaku menjaga sungai.

Ketidakarifan menjaga sungai pada akhirnya menghadirkan resiko yang fatal. 
Sungai menjadi lokasi kumuh, tempat orang-orang kalah yang dalam pertarungan 
basis sosial masyarakat urban. Mereka menjadi buah simalakama bagi pemerintah 
karena dianggap mengganggu estetika kota. Semua masalah sosial itu tak akan 
terjadi jika spirit menjaga kearifan sungai masih kita pegang teguh hingga hari 
ini. ***

Penulis adalah Peneliti el-Wahid Center, Universitas Wahid Hasyim Semarang, 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke