http://www.analisadaily.com/news/read/2012/06/09/55308/lingkungan_bersih_bebas_sampah/#.T9RyWsV_TLc

Lingkungan Bersih, Bebas Sampah
Oleh : Wothson G J Sinaga, S.Pd. 

Sebagai limbah manusia, sampah kerap sekali menjadi sebuah permasalahan yang 
tidak kunjung merdeka. Hingga sekarang masih banyak masyarakat yang kurang 
sadar akan kebersihan lingkungan. Terbukti di lingkungan tempat kita tinggal 
masih banyak sampah. Sampah tersebut berserakan di tempat-tempat umum dan cukup 
merusak pemandangan dan kebersihan lingkungan.
Masih banyaknya masyarakat yang belum sadar lingkungan akan membuat dampak 
buruk bagi lingkungan. Tidak mengambil tanggung jawab atas sampah sendiri 
membuat mereka seenaknya membuang sampah sembarangan. Bukan hanya buruk bagi 
lingkungan namun juga tidak menjadi teladan bagi anak-anak dan orang lain. 
Sehingga kian lama sampah akan semakin menumpuk dan berakibat buruk bagi 
pemandangan juga drainase lingkungan.

Pemerintah juga bukannya tidak melakukan tindakan dalam mengatasi masalah 
sampah. Walau kelihatan hanya sebagai slogan, namun setidaknya mereka telah 
menyerukan masyarakat agar menjaga kebersihan lingkungan. Meskipun demikian 
selalu saja masalah tersebut belum bisa terkontrol secara maksimal. Akibatnya 
adalah terjadi sampah berserakan bahkan di sekitar kota, adanya penumpukan 
dipinggiran kota dan jalan-jalan. Sehingga sewaktu hujan turun yang terjadi 
adalah sampah tersebut terbawa arus sungai ke dalam parit dan selokan. 

Dengan adanya beragam jenis sampah yang terbawa air hujan membuatnya mengendap 
di dalam parit lebih banyak dan lama. Logikanya saat hujan turun kembali maka 
yang terjadi adalah penyumbatan saluran air dan mengakibatkan terganggunya 
drainase kota. Bila saluran drainase tersebut terganggu maka berakibat banjir, 
seperti yang terjadi pada beberapa ruas jalan dan wilayah kota Medan. 
Terjadinya banjir sangat mengganggu kesehatan, aktivitas rutin dan bahkan arus 
lalu lintas.

Mungkin secara keseluruhan, baik pemerintah dan masyarakat belum mampu untuk 
menanggulangi kebersihan dengan total. Namun hal tersebut dapat dilakukan step 
by step. Pemerintah diharapkan bukan hanya sebagai peluncur slogan-slogan 
kebersihan, namun juga mengimbanginya dengan operasional baik secara tindakan 
maupun alat pendukung. Sebab penyapu jalan setiap pagi saja tidaklah cukup jika 
ingin lingkungan bebas dari sampah. Lebih dari itu diperlukan totalitas 
tindakan penyediaan peralatan pembersih sampah, penyediaan tempat sampah 
organik dan non-organik, pemantauan kebersihan lingkungan secara teratur dan 
berkala serta mengadakan pengawasan kegiatannya. Juga tak luput proses 
pendaurannya pada Tempat Pembuangan Akhir sampah yang harus jelas dan 
benar-benar didaur ulang.

Sembari slogan berbanding lurus dengan tindakan nyata pemerintah, maka 
masyarakat yang melihat akan berangsur turut serta dalam program kebersihan. 
Juga tetap dilakukan komunikasi dua arah secara berkala antara pemerintah 
dengan masyarakat dalam program kebersihan lingkungan. Sehingga secara proses 
berjalan, kebiasaan untuk ‘bersih lingkungan’ akan menjadi gaya hidup dan 
berpengaruh bagi orang lainnya.

Gaya Hidup Recycling

Pemisahan sampah atas organik dan non-organik dapat memudahkan petugas dan 
masyarakat dalam memilah ataupun mendaur sampahnya. Sehingga sampah tidak 
tercampur, menumpuk dan terkontaminasi dengan reaksi kimia yang akan merugikan 
udara dan lapisan ozon. Kita juga tidak menginginkan aroma tak sedap dari 
reaksi kimia tersebut terhirup setiap hari.

Alih-alih membuang kedua sampah tersebut, kita dapat mendaur sendiri yakni 
sampah organik diberi untuk pakan ternak dan non-organik dikreasikan menjadi 
barang bernilai ekonomis. Seperti dalam kehidupan kerja, khususnya di kantor 
kita dihadapkan banyak pekerjaan berhubungan dengan kertas. Menggunakan kembali 
kertas yang telah digunakan dari side to side akan lebih bermanfaat untuk 
sebuah kopian atau catatan kecil. Sementara kertas juga dapat digunakan sebagai 
pembersih kaca atau perabotan rumah lainnya dan jika digunakan pada taraf ini 
dapat direcycle kembali menjadi bubur kertas untuk pembuatan kertas daur ulang.

Di lingkungan rumah dan sekolah juga dapat kita ajarkan kepada anak-anak untuk 
mempunyai gaya hidup go green dan memilih untuk mengoptimalkan pemakaian suatu 
barang yang memang dapat di daur ulang atau dikreasikan kembali. Contohnya 
seperti kreasi bunga dari plastik kantongan, peta buta dari bubur kertas, botol 
sebagai tempat bunga atau hiasan dinding, dan lain sebagainya. Dalam penggunaan 
perlengkapan rumah baiknya juga memilih barang kreasi limbah yang telah diolah 
sedemikian rupa.

Melalui tindakan kecil seperti ini nantinya akan berdampak bagi lingkungan yang 
semakin hijau dan bersahabat. Sebab dengan bersihnya lingkungan sekitar dan 
optimalisasi sampah atau limbah rumah tangga akan lebih bermanfaat bagi 
kelestarian alam. Dengan demikian keseimbangan alam dan kebersihannya akan 
tetap terjaga. Juga melalui kerjasama masyarakat, orang tua dan sekolah 
diharapkan akan mampu menjadi teladan bagi sebuah gaya hidup yang mencintai 
lingkungan bersih dan tetap memelihara kerindangan, juga mengoptimalkan 
pemakaian benda-benda sampai ketitik recycle secara bijak.

Sebab orang yang hidup adalah orang yang memiliki tanggungjawab atas kehidupan, 
dirinya dan alam. Jika terjadi ketimpangan maka dampak yang akan timbul bukan 
hanya bagi diri sendiri melainkan bagi generasi berikutnya. Bukankah kita ingin 
agar dikenal sebagai pendahulu yang mencintai lingkungan dan teladan oleh 
generasi berikutnya...? Oleh sebab itu mari pelihara lingkungan dan alam, maka 
alam juga akan menjaga keberlangsungan hidup ekosistem bumi. ***

Penulis seorang pendidik, alumni FE Unimed, kelompok Blessing Community Medan.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke