http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/06/10/ArticleHtmls/Tionghoa-di-Nusantara-10062012017014.shtml?Mode=0
Tionghoa di Nusantara Banyak hal tentang keturunan Cina di Indonesia yang berusaha diungkap oleh buku ini. Peranakan Tionghoa adalah bagian dari keberagaman suku bangsa di Indonesia. Mereka tumbuh bersamaan dengan relasi perdagangan yang terbentuk sejak abad ke11. Namun warga peranakan acap kali dipandang dengan stereotipe yang khas Orde Baru: antisosial, gila uang, dan tidak peduli lingkungan. Stigmatisasi itu melekat begitu kuat. Namun, sejatinya, peranakan Tionghoa dari ujung barat hingga timur kepulauan Nusantara memiliki corak perbedaan yang kontras. Kebudayaan mereka sangat heterogen dan inklusif, seperti halnya perbedaan suku bangsa dari Sabang sampai Merauke. Banyak sisi positif budaya peranakan yang bisa diteladan. Etos kerja mereka mirip sukusuku pelaku niaga di Nusantara, seperti Minang, Banjar, dan Bugis. Disiplin dan budaya kerja yang tekun merupakan modal sosial yang berharga untuk ditularkan kepada siapa pun. Di banyak tempat, proses perbauran warga peranakan di Nusantara melahirkan berbagai ragam produk kebudayaan. Proses itu juga membuktikan adanya daya kohesi yang kuat di kalangan rakyat bawah. Namun tidak jarang hal itu dikelola sebagai dagangan politik untuk memecah-belah dan membangkitkan prasangka. Cuplikan-cuplikan keberadaan masyarakat peranakan Tionghoa di sejumlah daerah, seperti di Padang, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, hingga Ternate, Maluku, dan Papua, membuktikan adanya hubungan yang cair ibarat ikan dengan air. Sebab, sesungguhnya masyarakat peranakan Tionghoa dan suku-suku asli di daerah tempat mereka berada merupakan komunitas yang terbuka dan bisa saling berbaur, hubungan yang begitu berharga seperti semboyan warga Bangka Belitung: “Tong Ngin Fan Ngin Jit Jong” atau “Tionghoa dan Melayu adalah Sama dan Setara”, semboyan yang menyatukan peranakan Tionghoa dan warga pribumi saat merebut kemerdekaan selama periode 1945-1949. Muhammad Yamin, dalam suatu perjalanan ke pelosok Tangerang, menyebut peranakan Tionghoa di sana hidup seperti halnya anak negeri Indonesia lainnya. Namun, berbeda dengan masyarakat campuran yang kini disebut sebagai masyarakat Betawi, masyarakat peranakan di Tangerang hingga kini masih sering dianggap sebagai warga “bukan asli”. Kisah masyarakat Cina Benteng di Tangerang—mereka menolak disebut “China Benteng” dengan “Ch” karena sebutan pelafalan Inggris itu justru merendahkan dan menghina—merupakan salah satu wujud kemunculan masyarakat hibrida atau Indo-Tionghoa. Keunikan warga peranakan itu kini diabadikan oleh Iwan Santosa dalam buku terbarunya ini. Buku ini berisi kompilasi naskah asli seluruh tulisannya tentang budaya masyarakat peranakan yang ia tulis sejak 11 tahun lalu, baik sendiri maupun bersama sejumlah rekannya. Sebagian bahan lain ia buat guna melengkapi naskah yang telah ada. Naskah asli yang lebih panjang dan lengkap dibandingkan dengan terbitan di koran mengungkapkan banyak hal tentang perbedaan dan kerekatan masyarakat peranakan Tionghoa di sejumlah daerah di Nusantara. Pada tulisan pembuka, Iwan menggambarkan proses peleburan warga peranakan di Bali sejak abad ke-11. Proses itu hingga kini diabadikan dalam sepasang barong landung perlambang perkawinan Raja Jaya Pangus dengan Kang Tjin We. Lewat tulisannya, ia mengajak kita membuka mata: bahwa beragam produk budaya di Pulau Dewata yang dianggap asli nyatanya memiliki persinggungan dengan budaya warga peranakan. Di bagian lain, ia juga menyinggung proses akulturasi warga peranakan di bidang sastra dan spiritualitas. Lalu dikontraskan dengan catatan tentang imigran gelap dari Cina yang membanjiri Asia Tenggara dan Indonesia pada milenium ketiga. Buku Peranakan Tionghoa merupakan hasil penjelajahan penulis atas sejarah perkembangan budaya peranakan Tionghoa di Nusantara. Sebagai seorang peranakan Tionghoa Jawa, Iwan berhasil memotret kehidupan masyarakat peranakan Tionghoa di Nusantara dari sudut pandangnya sebagai outsider dan insider. “Dengan terbitnya buku ini, masyarakat diharapkan dapat menikmati budaya peranakan Tionghoa tidak hanya dari sisi ilmiah semata, tetapi juga dari sisi keseharian yang ringan, menarik, sekaligus informatif,” ujar Ketua Umum Asosiasi Peranakan Tionghoa Nusantara, Andrew A. Susanto. Sejarawan Universitas Indonesia, Asvi Marwan Adam, menganggap buku ini berhasil membantah anggapan akan stigmatisasi yang selama ini kerap dialamatkan kepada warga peranakan. Bahwa tidak semua mereka adalah pengusaha sukses. Sebab, tidak sedikit di antara warga peranakan yang juga termarginalkan.“Ternyata banyak yang miskin. Sebagian di antara mereka adalah masyarakat biasa yang berprofesi sebagai petani, seperti di Tangerang. Bahkan ada pula yang menjadi tukang becak. Mereka hidup dalam kesederhanaan,“ kata Asvi. RIKY FERDIANTO [Non-text portions of this message have been removed]
