Perusuh Papua Mencari Perhatian Dunia 
http://www.gatra.com/nasional-cp/1-nasional/14017-perusuh-papua-mencari-perhatian-dunia
Wednesday, 13 June 2012 00:00 

 
Unjuk Rasa Anti Kekerasan di Papua (FOTO ANTARA/Noveradika)
Beberapa pekan ini, suasana di Papua bergolak lagi. Suasana panas dipicu oleh 
kasus penembakan warga negara asing yang tengah menyambangi provinsi di ujung 
Timur Indonesia itu. Selain itu, beberapa kali terjadi pengrusakan fasilitas 
umum, seperti saat penyerbuan ke Lembaga Pemasyarakatan dan pengrusakan 
fasilitas umum di Abepura, Waina, dan Sentani, yang terjadi pekan lalu.

Pada Jumat pekan lalu, Polda Papua berhasil menangkap Ketua Komite Nasional 
Papua Barat, Muchtar Abuni, dan Jefrie Wandepbud, karena diduga terlibat aksi 
pengrusakan lembaga pemasyarakatan dan beberapa fasilitas umum lainnya. 
Sebelumnya, pihak Polda juga mengaku telah mengantongi nama penembak wisatawan 
mancanegara (wisman) asal Jerman, Dietmer Piete, yang terjadi pada akhir Mei 
lalu di pantai Base G, Jayapura.

Penembakan oleh orang misterius itu mengakibatkan Dietmer mengalami luka parah. 
Pria tua itu menderita luka tembak hingga tembus ke paru-paru sebelah kiri 
bagian bawah. Saat ini Dietmer dirawat di sebuah rumah sakit di Singapura.

Eskalasi kekerasan yang meningkat di Jayapura belakangan ini, disinyalir 
sebagai upaya para perusuh untuk menarik perhatian dunia. Badan Intelijen 
Negara (BIN) menengarai, maraknya aksi penembakan di Papua karena kelompok 
bersenjata yang semula beroperasi di hutan telah bergabung dengan kelompok 
politik di kota untuk menggangu keamanan di Papua.

"Mereka sengaja membuat opini bahwa keamanan Papua tidak kondusif. Tujuannya 
untuk menarik perhatian dunia internasional," ujar Kepala BIN Marciano Norman 
kepada Iwan Setiawan dari Gatranews, Senin (11/6/2012). Di mata Norman, 
berbagai rangkaian aksi penembakan dan perusakan fasilitas umum di Papua 
sebagai salah satu upaya menarik perhatian kelompok HAM internasional.

Atas dasar itu, Marciano mendorong pihak aparat kepolisian segera melakukan 
penindakan berdasarkan bukti yang telah ditemukan dan informasi yang sudah 
diterima. "Hal seperti ini tidak boleh dibiarkan. Kejadian ini harus segera 
diatasi, untuk memberikan keamanan pada masyarakat di Papua," tandasnya.

Norman menampik anggapan bahwa kerusuhan di Papua seolah tidak bisa terdeteksi 
dari awal oleh aparat. "Masalahnya bukan karena tidak terdeteksi dari awal. 
Tapi perkembangan yang terjadi, para perusuh yang tadinya bergerak di hutan, 
sekarang bergeser melakukan aksi di dalam kota," ujarnya.

Atas kondisi yang mulai tidak kondusif di Papua, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, 
TB Hasanuddin, mensinyalir ada campur tangan pihak asing yang sengaja 
memperkeruhg suasana. Dia menduga, dalam beberapa insiden penembakan di Papua 
yang memicu keributan hingga ke dunia internasional, kemungkinan ada tangan 
asing yang bermain. 

"Indikasinya jelas jika dilihat dari wilayah penyebaran dan waktu kejadiannya. 
Tampak jelas, kasus ini sepertinya terorganisir rapi, sistimatis dalam memilih 
sasaran, direncanakan dengan baik, dan dengan biaya yang cukup besar melalui 
'operator lokal' di lapangan," ungkapnya. 

Tujuannya antara lain menciptakan instabilitas di Papua dalam rangka mendorong 
dan mempercepat Papua keluar dari wilayah NKRI. Ketika skenario itu muncul, 
pemerintah dan aparat daerah dalam keadaan tidak solid atau bahkan dikondisikan 
tak solid.

Pemda tidak efektif sama sekali, disusul  riuh rendahnya pilkada yang 
menimbulkan ketegangan-ketegangan baru. Sementara itu, aparat khususnya 
intelejen hampir tak berdaya mengungkap siapa dalang dari semua insiden 
berbagai penembakan. Bahkan, aparat terkesan saling curiga satu sama lain.

Menurutnya, sesuai data tindakan kekerasan yang terjadi selama 18 bulan 
terakhir, korban berjatuhan hampir di semua kota wilayah Papua, antara lain; 
Sorong (1 orang warga sipil meninggal), Puncak Jaya (7 orang aparat meninggal 
dan 1 luka serta  5 orang warga sipil meninggal dan 2 luka). Lalu di Mulia (1 
orang aparat meninggal), Wamena (1 orang aparat meninggal), Abepura (4  warga 
sipil meninggal),  Jayapura (1 aparat meninggal dan 5 warga sipil meninggal),  
Meroke ( 2 aparat meninggal), Timika/Mimika (3 aparat meninggal dan 1 luka 
serta 8 warga sipil meninggal dan 3 luka), dan Paniai (1 warga sipil meninggal 
dan 4 luka)

Maraknya berbagai tindak kekerasan, termasuk aksi penembakan terhadap 
masyarakat sipil dan aparat keamanan di Papua, harus dihentikan segera. 
Hasanuddin merekomendasikan dua langkah untuk menangkal campur tangan. "Untuk 
menghadapi campur tangan asing, harus dilakukan secara simultan melalui 2 
track, yakni melalui operasi intelejen terpadu dan operasi khusus diplomasi," 
ungkapnya.

Operasi intelejen terpadu harus dilakukan secara terpusat karena peran 
pemerintah daerah sudah tak efektif lagi. Opersi ini harus melibatkan semua 
komponen terkait, dengan melakukan kontra intelejen dan penggalangan yang  
mampu memotong semua jaringan.

Kemudian, secara simultan Kemenlu harus lebih aktif mengorganisir,  memotong, 
dan meloby upaya-upaya menginternasionalisasi  masalah Papua dalam dunia 
diplomatik. Kunci keberhasilan upaya tersebut semuanya ada pada political will 
presiden SBY.

Selain terindikasi ada campur tangan pihak asing, harus diakui bawa secara 
jujur oleh semu elemen bangsa, bahwa setidaknya ada 3 penyebab utama berbagai 
asksi kekerasan di Papua. Pertama, kegagalan pembangunan dalam mensejahtrakan 
rakyat, terutama di bidang pendidikan, kesejahtraan, dan kesehatan. 
Kedua, terjadi marjinalisasi serta diskriminasi terhadap masyarakat asli Papua. 
Ketiga, sebagian masyarakat Papua sangat trauma terhadap pelanggaran Hak Asasi 
Manusia (HAM) akibat berbagai operasi militer pada masa lalu.

"Semua masalah ini harus segera ditangani dan diselesaikan secara komprehensif, 
jangan terlambat agar tak berlarut larut," ungkap Hasanuddin. 

Sementara itu, anggota Komisi III DPR RI, Eva K Sundari, menimpali, maraknya 
aksi penembakan, kekerasan, dan berbagai masalah lainnya di bumi Papua akan 
selesai jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mau berdialog langsung dengan 
warga Papua. "Terbukti gagalnya pendekatan keamanan sejak Orba, bahkan situasi 
keamanan memburuk, maka sepatutnya pemerintah legowo untuk memulai dialog 
Jakarta-Papua sebagaimana sudah sejak lama disarankan banyak pihak," ungkapnya 
di Jakarta awal Juni lalu, seperti dilaporkan wartawan gatranews, Iwan Setiawan.

Dialog Jakarta-Papua hanya akan efektif setelah pasukan keamanan ditarik dari 
Papua sebagaimana tuntutan masyarakat Papua dan direkomendasikan Komnasham. 
Selain itu, untuk menunjukan prasyarat saling percaya saat dialog, maka 
sepatutnya pemerintah juga memberikan amnesty kepada 17 tahanan politik Papua.

Menurutnya, penarikan jumlah pasukan keamanan harus dilakukan pemerintah pusat 
sebagaimana dibahas dalam rapat kerja Komisi III dengan Komnasham belum lama 
ini. Tidak proporsionalnya pengiriman jumlah personel Brimob dan TNI semakin 
memperburuk situasi. Ini kontradiktif dengan pernyataan-pernyataan Presiden 
SBY, bahwa kebijakan pemerintah di Papua sudah dirubah dari pendekatan keamanan 
menjadi kesejahteraan. 

Tetapi faktanya, Aparat keamanan hanya  terkonsentrasi di daerah-daerah 
tambang, seperti Timika, Puncak Jaya, Paniai, dan lain-lain, sehingga per awal 
tahun tercatat 5 orang meninggal dunia, di antaranya warga negara asing.

Dikatakan Eva, hambatan utama terciptanya dialog antara Jakarta-Papua justru 
berada di Jakarta. Pasalnya, banyak pejabat tinggi terutama pihak militer atau 
Polri  masih meyakini pola pikir ala orde baru, yakni pendekatan keamanan 
walaupun terbukti gagal. Resistensi kuat juga diduga karena keterlibatan aparat 
di bisnis-bisnis tambang di Papua, sebagaimana dilaporkan masyarakat adat 
setempat dan ditegaskan oleh asosiasi LSM Papua.

"Upaya pendekatan kesejahteraan yang tidak mensejahterakan rakyat melalui dana 
Otsus tidak meredam konflik, bahkan mengintensifkan praktik korupsi para elit 
Papua. Sehingga, penyelesaian politik melalui dialog merupakan satu-satunya 
pilihan bagi penghentian kekerasan berkepanjangan di Papua. Tidak ada pilihan 
lain," pungkasnya. (HP)




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke