Pemikiran Bung Karno Tentang Islam
http://www.indonesiamedia.com/2012/06/13/pemikiran-bung-karno-tentang-islam/
Posted on June 13 2012 by Putri Adenia / IM

Komunitas pecinta figur dan ajaran Soekarno (Bung Karno) mengambil prakarsa
dengan menjadikan bulan Juni 2012 sebagai Bulan Soekarno, mengingat Soekarno
lahir, dan meninggal, di bulan Juni. Pemikiran Soekarno soal kemerdekaan, 
kedaulatan
bangsa, dannation building, sudah banyak dibahas. Tema yang sepertinya luput 
dari
perhatian kita, adalah pemikiran Bung Karno soal Islam.
Salah satu pemikiran yang pernah ditulis Soekarno adalah soal sekularisme di 
Turki,
di bawah judul Apa Sebab Turki Memisahkan Agama dan Negara, yang membahas
gagasan Kemal Ataturk, Bapak Bangsa Turki. Sumbangsih Bung Karno dalam wacana
Islam inilah, yang menjadi tema bahasan program Agama dan Masyarakat, yang
diselenggarakan KBR68H. Perbincangan kali ini mengundang dua narasumber,
masing-masing adalah Giat Wahyudi (Kepala Perpustakaan dan Penerbitan Yayasan
Bung Karno), dan Hamid Bassyaib (peneliti pada Jaringan Islam Liberal).

Giat Wahyudi menjelaskan, latar belakang keluarga tentunya ikut menentukan,
Ayah Bung Karno, Sukemi, lebih condong ke Islam Jawa (kebatinan). Sebagaimana
kita ketahui, pemikiran Islam Bung Karno lebih banyak karena pengaruh
Tjokroaminoto, yang kebetulan adalah sahabat Sukemi. Berkat sentuhan
Tjokroaminoto, Bung Karno masuk ke ranah pemikiran pergerakan juga ke pemikiran
Islam. Kemudian Bung Karno juga berkenalan dengan KH Achmad Dahlan,
pendiri Muhammadiyah, yang sangat Bung Karno kagumipula. “Bung Karno sendiri
sampai akhir hayatnya adalah anggota Muhammadiyah, dan termasuk anggota yang
aktif,” tambah Giat.

Hamid Bassyaib menyebut, jiwa pergerakan Islam di Turki juga mengilhami Soekarno
untuk menerapkannya di Indonesia. Hamid melanjutkan, Soekarno mampu memadukan
berbagai pandangan atau ajaran dari luar, Misalnya seperti paham Marxis yang
berakar dari gerakan buruh di Eropa. Namun Soekarno bisa membawa paham
Marxis, disesuaikan dengan konteks sosial Indonesia. Maka terciptalah Marhaen,
sebagai simbol rakyat kecil, yang hidupnya selalu menderita. “Dengan kata lain, 
sosok
Soekarno bisa menyesuaikan paham atau ajaran lain dengan kondisi aktual 
masyarakat
Indonesia,” tambah Hamid.

Giat melukiskan soal antusiasme Bung Karno dalam mempelajari marxisme,
Islam,digabung dengan pemikiran-pemikiran lain. Pada batas-batas tertentu,
sebenarnya apa yang dipikirkan Bung Karno dalam konteks dan varian berbeda, 
mirip
pergulatan pemikiran Ahmad Wahib. Ini sebenarnya ciri khas dari pemikiran 
Soekarno,
dia tidak dikotomis dalam memandang permasalahan tapi sebaliknya dia memiliki
kemampuan menyerap. Seperti pemikirannya soal kerudung, yang menimbulkan pro-
kontra di kalangan kaum konservatif, namun Haji Agus Salim mendukungnya.

Hamid memberi contoh, pertentangan Bung Karno dan Nasir soal pandangan negara.
Meski begitu, ketika Soekarno diangkat menjadi presiden, Nasir dipilihnya untuk
menjadi Menteri Penerangan. Menurut Soekarno, pertentangan itu termasuk juga
kepada tokoh agama yang tidak setuju dengan pemahaman Soekarno yang dinilai
sebagian orang kebarat-baratan. Hamid melanjutkan, Soekarno telah mewariskan
nilai kritis kepada masyarakat. “Kritis tidak hanya terhadap pemikiran luar, 
tapi juga
terhadap pemikiran diri sendiri, pemikiran Soekarno bahkan masih relevan hingga 
saat

ini,” tambah Hamid

“Artikel ini sebelumnya disiarkan di program Agama dan Masyarakat KBR68H. Simak
siarannya di 89, 2 FM Green Radio, setiap Rabu, pukul 20.00-21.00 WIB”


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke