http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/07/03/ArticleHtmls/Papua-Ricuh-Perkemahan-Pramuka-Diundurkan-ke-Oktober-03072012006013.shtml?Mode=0
Papua Ricuh, Perkemahan Pramuka Diundurkan ke Oktober
JAKARTA
Polisi masih mencari proyektil yang menewaskan Kepala Desa Saweotami.
Setelah penembakan dan terbunuhnya pemimpin Komite Nasional Papua Barat, Mako
Tabuni, Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat mengundurkan acara Raimuna
Nasional X Gerakan Pramuka Tahun 2012 hingga Oktober mendatang. “Ditunda sampai
keadaan kondusif,” kata Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono
ketika ditemui di kantornya kemarin.
Semestinya, pertemuan Pramuka Penegak dari usia 16-20 tahun dan Pandega dari
usia 21-25 tahun ini dilakukan pada 4-10 Juli 2012 di Papua. Kementerian
Koordinator menyerahkan pergantian tempat dan tanggal pelaksanaan kepada
Kwartir Nasional (Kwarnas)
Gerakan Pramuka. Meski begitu, e Agung menegaskan, perhelatan o nasional itu
tetap akan digelar di r Papua. Alasannya, acara ini bisa berdampak positif bagi
pertumbuh an ekonomi di Papua.
Sejak akhir Mei hingga Juni, a penembakan terus terjadi di Papua.
a Polisi menuduh Mako Tabuni ber ada di balik penembakan-penembakan itu dan
sudah menetapkan tiga tersangka, yaitu Calvin Wenda, a Jefry Wandikwo, dan
Zakeus Wakla.
Polisi menembak Mako Tabuni i pada 14 Juni 2012.
i Ahad pagi lalu Organisasi Papua r Merdeka menyerang iring-iringan t mobil
yang dikendarai Komandan Yonif 431 Kostrad Letkol Infanteri ) Indarto di Desa
Sawia Tami, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Papua.
Penembakan itu menewaskan Kepala Desa Saweotami, Yohanes Yanafrom, 30 tahun.
Kepolisian hingga kemarin masih melakukan olah tempat kejadian perkara di
lokasi penembakan.
“Aparat masih kerja keras karena di tubuh korban tidak ditemukan proyektil,”
kata Kepala Kepolisian RI Jenderal Timur Pradopo di Jakarta kemarin. Polisi
masih mencari proyektil senjata yang digu
nakan untuk menentukan pelaku penembakan.
Kepala Kepolisian Daerah Papua Irjen Bigman L. Tobing meminta Organisasi Papua
Merdeka pimpinan Lambert Pekikir bertanggung jawab atas penembakan ini.
Koordinator Tentara Pertahanan Nasional Organisasi Papua Merdeka, Lambert
Pekikir, mengaku bertanggung jawab atas penembakan di Kabupaten Keerom itu.
Namun ia menegaskan target penembakan adalah kendaraan TNI yang melintasi Jalan
Arso. “Bukan warga sipil,” kata Lambert.
Namun Erwin membantah TNI menjadi target tembak OPM.
“Bukan kami targetnya, tapi kami
lah yang mencari mereka,” kata Erwin. Setelah penyerangan pada Ahad itu, Erwin
menjelaskan, tim gabungan TNI dan Polri langsung melakukan penyisiran sekitar
pukul 16.15 WIT. Dari penyisiran, didapat sebuah senjata api rakitan laras
panjang serta sebilah parang.
Pengibaran bendera Bintang Kejora juga dilakukan kemarin di wilayah Abepura dan
di perbukitan Enggros, belakang Tanah Hitam.
Namun anggota TNI langsung menurunkan bendera pro-kemerdekaan Papua itu.
Lambert mengatakan tidak takut pada ancaman TNI. “Selama ini mereka tahu kami
di mana,” kata Lambert
+++++
http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/07/03/ArticleHtmls/Negosiasi-Berakhir-Buntu-03072012006017.shtml?Mode=0
Negosiasi Berakhir Buntu
Tepat pada hari ulang tahun Organisasi Papua Merdeka, 1 Juli 2012, iringiringan
mobil yang dikendarai Komandan Yonif 431 Kostrad Letkol Infanteri Indarto di
Desa Sawia Tami, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, Papua, diserang gerombolan
bersenjata yang diduga adalah OPM.
Sebelum penembakan terjadi, Tentara Nasional Indonesia mengaku telah melakukan
negosiasi dengan petinggi Organisasi Papua Merdeka wilayah Selatan Papua agar
mereka kembali menjadi warga negara Indonesia. “Tapi mereka menuntut hal yang
di luar kewenangan kami,” kata Panglima Komando Daerah Militer XVII
Cenderawasih, Papua, Mayor Jenderal Erwin Syafitri, kemarin.
Erwin tak menjelaskan tuntutan dari kelompok pimpinan Bernardus Mawen itu.
Namun, dari pernyataannya, Erwin menyiratkan tuntutan OPM berupa dana dalam
jumlah besar. “Kami serahkan ke pemerintah daerah. Kalau mereka ada anggaran
untuk itu, kami siap saja,” kata Erwin.
Dalam struktur OPM, Bernardus Mawen disebut sebagai Panglima Daerah Kodam V
Merauke di daerah Selatan Papua. Kelompoknya menempati sebuah permukiman di
hutan Boven Digul yang dibangun dengan usaha sendiri. Mawen berada dalam satu
jaringan dengan Lambert Pekikir, yang saat ini menjabat Koordinator Tentara
Pertahanan Nasional Organisasi Papua Merdeka.
Hingga berita ini diturunkan, Mawen belum bisa dihubungi. Namun seorang sumber
Tempo mengatakan Mawen bersama beberapa anak buahnya sempat dibawa ke Merauke
dengan kawalan ketat tentara, dua bulan lalu. “Mereka mengajukan beberapa
tawaran, tapi sayang negosiasi tak membuahkan hasil,” kata sumber itu. ● JERRY
OMONA
[Non-text portions of this message have been removed]