Baru disimpulkan sebagai negara gagal saja sudah kalang kabut. Bukankah orang 
Indonesia sendiri yang mengakui dan menyaksikan negaranya sedang terpuruk. 
Sebuah negara yang terpuruk, itu lebih dramatis dari sebuah negara yang disebut 
gagal. Gagal berarti sebuah usaha untuk berhasil tapi gagal dilakukan. Itu kan 
biasa bagi setiap orang yang mau berusaha dan ingin maju. Tapi sebuah negara 
yang terpuruk, itu sudah benar-benar hancur berantakan bagaikan onggokan sampah 
yang menakutkan.Nah, dibilang terpuruk, masih tenang-tenang saja tapi dibilang 
gagal, membantah dari segala arah .Jadi negara ini memang aneh.
Tapi terlepas dari semua itu, satu kenyataan, negara Indonesia sedang mengalami 
kekacauan atau ketidak beresan di segala bidang: korupsi tetap meraja lela, 
keadilan sosial tetap timpang, HAM tetap dilanggar(salah satunya jutaan korban 
G30S/Suharto yang telah mati dibunuh maupun yang masih hidup tidak pernah 
digubris), demokrasi tetap timpang ( salah satunya TAP MPRS/25/1966 tetap tidak 
dihapus, demokrasi setengah harga), rakyat Papua terus diteror, Panca sila 
sebagai idiologi negara tetap tak pernah dilaksanakan dalan kenyataan, 
dan...dan...beribu-ribu dan lain-lainnya yang tetap tidak beres. Jadi apa itu 
namanaya kalau bukan sebuah negara terpuruk. Jauh lebih buruk dari pada sekedar 
disebut negara gagal.
Siapakah yang PERTAMA-TAMA harus bertanggung jawab? 
Sudah tentu adalah semua pemimpin penguasa negara dan seluruh aparat-aparatnya. 
Dan kalau tidak bisa memperbaiki diri dan membereskan semua tanggung jawabnya 
maka REVOLUSI yang akan melakukannya. Penyelesaian lain tidak ada. Becerminlah 
kepada beberapa negara Arab sekarang ini.Tidak seorangpun yang perlu 
menggertak. Jawaban sedang menanti di belakang Indonesia.
ASAHAN.



----- Original Message ----- 
From: GELORA45 
To: GELORA_In 
Sent: Wednesday, June 27, 2012 4:45 AM
Subject: #sastra-pembebasan# Negara Dinilai Gagal, Kaum Intelektual Jangan Cuci 
Tangan


  
http://www.suarapembaruan.com/politikdanhukum/negara-dinilai-gagal-kaum-intelektual-jangan-cuci-tangan/21733

Negara Dinilai Gagal, Kaum Intelektual Jangan Cuci Tangan
Selasa, 26 Juni 2012 | 17:18

Radityo Gambiro [google] [JAKARTA ] Indonesia sebagai negara gagal versi FFP, 
seharusnya dijadikan kaum intelektual bangsa menjadi motivasi dan proaktif 
membenahi negeri. Kegagalan negara berarti tanggungjawab seluruh anak bangsa, 
tanpa membedakan tanggungjawab dan jabatan.

"Sebaiknya yang mengaku pengamat ataupun pakar, ilmuwan, tokoh masyarakat dan 
lain - lain melakukan pengkajian secara berkala dari masa ke masa untuk 
kemudian mencari solusinya untuk masa mendatang," ujar Ketua Divisi Kaderisasi 
dan Pendidikan Latihan DPP Partai Demokrat, Raditiyo Gambiro di Jakarta, Selasa 
(26/6).

Lembaga survei dan publikasi, The Fun for Peace (FFP) merilis Indeks Negara 
Gagal (Failed States Index/FSI) 2012 yang dipublikasikan di Washington DC, 
Amerika Serikat. Indonesia menduduki peringkat ke-63 dari 178 negara. Dalam 
indeks yang dikeluarkan lembaga riset itu, negara yang berada di peringkat 
pertama adalah Somalia. 

Sementara Finlandia di posisi paling aman, bersama Swiss dan Denmark.Raditiyo 
menyayangkan ekspresi kalangan intelektual ketika ikut mevonis Indonesia 
sebagai negara gagal. Seolah, mereka yang mengaku pakar, ilmuwan dan tokoh 
masyarakat bukan menjadi bagian dari negeri ini. 

"Daripada ribut - ribut soal ranking Indonesia sebagai "Negara Gagal" ke 62 
versi FFP, sebaiknya kita ikut mencari solusinya untuk masa mendatang," tegas 
Raditiyo, yang juga Wakil Ketua Komisi VIII DPR.

Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR ini menilai negara menuju gagal bukan 
vonis negara tersebut gagal. Seluruh komponen bangsa masih punya kesempatan 
untuk membenahi negari ini agar terhindar dari kegagalan. "Ketimbang hanya 
mengkritisinya tanpa menghasilkan tawaran solusi yang konkrit dan komprehensif. 
Yang akhirnya tidak menjadi sesuatu yang konkrit seperti halnya pembicaraan di 
warung - warung kopi," tegas Raditiyo.

Kalau mau, lanjut Raditiyo, 12 variabel yang dijadikan pokok penilaian FFP 
menjadi acuan para pakar melakukan pengkajian Indonesia dari masa ke masa. 
Harapan, reaksi atas penilaian FFP bisa komprehensif, bijaksana dan 
menghasilkan alternatif sebagai solusi memperbaiki situasi dan kondisi 
Indonesia pada masa akan datang."Kecuali mereka yang mengaku pengamat, ilmuwan, 
pakar, tpkoh masyarakat dan lain - lain ini memang hanya memanfaatkan momentum 
sebagai sarana popularitas pribadi. Walahualam," prihatin dia.
Raditiyo mengajak seluruh kalangan berfikir jernih serta objektif untuk menilik 
persoalan bangsa. Pembangunan negeri tak jangan berpangku tangan kepada 
pemerintah semata. "Seluruh anak bangsa, seharusnya ikut ambil bagian membuat 
yang terbaik bagi negeri. Bukan sebaliknya menjerumuskan negara dan bangsanya 
sendiri," tegas dia.

Himbauan senada dilontarkan Sekjen International Conference for Islamic 
Scholars (ICIS) KH Hasyim Muzadi. Ia menyatakan tidak sepenuhnya Indonesia 
negara gagal. Namun, harus diakui bahwa ini memliki persoalaan fundamental yang 
menuju negara gagal."Kalau hari ini Indonesia disebut negara gagal tentu tidak. 
Hari ini regulasi masih jalan. Namun, Indonesia punya masalah fundamental yang 
by proses bisa menuju negara gagal . Pertama sistem ketatanegaraan yang tidak 
integrated/incorporated ', kedua, masalah leadership," tegas dia.

Bahkan, kata mantan Ketua PBNU itu, UUD 1945 yang diamandemen pascareformasi 
tidak sepenuhnya sesuai dengan norma/jiwa Pancasila untuk tidak mengatakan 
bertentangan."Dari UU ke political will executif banyak yang bertentangan. 
Hubungan trias politica saling mengunci atau menjadi alat bargaining. Otonomi 
daerah mengarah ke federasi bahkan konfederasi yang berujung disintegrasi dan 
sparatisme. [Ant/L-9]

[Non-text portions of this message have been removed]





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke