Nenek moyang orang Indonesia baru datang ke wilayah Nusantara baru pada sekitar 1500 tahun lalu. Kebudayaan Megalitikum tidak ada hubungannya dengan nenek moyang orang Indonesia yang sekarang, mereka belum lahir, belum datang, belum berada di wilayah Nusantara. "ras unggul" atau juga "ras aria"seperti yang suka dipropagandakan Hitler adalah alasan dia untuk menjadi bangsa fasis seperti yang terkenal dalam sejarah. Siapa yang berbangga dengan ras-nya sendiri sebagai "ras unggul" berarti menghina ras lain yang dianggapnya rendah. Ah, bangsaku! untuk berbaggga diri buktikanlah dengan prestasi dan prestisemu sendiri dan bukan dari galian lobang peninggalan purba yang bukan milik nenek moyangmu.. Tak usah terhibur oleh para "ahli sejarah"yang buta sejarah dan cuma melek emosi. ASAHAN.
----- Original Message ----- From: Sunny To: Undisclosed-Recipient:; Sent: Monday, June 25, 2012 6:52 PM Subject: [mimbar-bebas] Gunung Padang, Buktikan Ras Indonesia Unggul Ref: Kalau sudah mulai dengan ras-rasan, bisa pahit sulit untuk ditelan. http://us.teknologi.vivanews.com/news/read/328523-gunung-padang--kandidat-bangunan-tertua Gunung Padang, Buktikan Ras Indonesia Unggul “Kita harus bangga terdapat ras kita dan nenek moyang kita punya kemampuan ini." Sabtu, 23 Juni 2012, 05:13 WIB Arfi Bambani Amri, Permadi (Sukabumi) Pengambilan sampel di Gunung Padang (VIVAnews/ Muhamad Solihin) VIVAnews - Danny Hilman Natawijaya, Ketua Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang, mengatakan pembuktian situs megalitik Gunung Padang menegaskan bangsa Indonesia bukan ras atau bangsa kacangan. Situs ini membuktikan adanya kemampuan teknologi hingga sosial budaya nenek moyang yang jauh lebih modern dari catatan sejarah ilmu pengatahuan dan peradaban yang diyakini selama ini. “Kita harus bangga terdapat ras kita dan nenek moyang kita punya kemampuan ini. Seperti Hitler yang bangga akan ras arya atau para yahudi yang bangga akan garis keturunannya. Gunung Padang membuktikan kita juga keturunan ras yang sangat luar biasa,” kata geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu. Menurut Danny, semangat itulah yang memotivasi para peneliti untuk terus melakukan riset dan pembuktian di Gunung Padang. Semangat ini memompa mereka untuk terus mencari kehebatan nenek moyang di nusantara yang berhasil membuat struktur modern di eranya, yang diperkirakan pada era prasejarah. Selama ini, kata Danny, catatan sejarah peradaban dunia selalu melihat pada peradaban Mesir yang diperkirakan ada sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi atau peradaban sungai Indus yang tumbuh pada 3.000 tahun sebelum Masehi. “Dari hasil penelitian hingga hari ini, kami masih yakin peradaban Gunung Padang adalah yang tertua dan lolos dari catatan sejarah,” katanya. Sementara, Erick Rizky menjelaskan kemungkinan Gunung Padang tidak sempat tertulis dalam catatan sejarah karena sistem sosial masyarakat Gunung Padang saat itu menggunakan budaya lisan sendiri, tidak menggunakan budaya lisan seperti yang tercatat saat ini. "Asumsi ini yang menyebabkan peradaban Gunung Padang sepertinya luput dari catatan sejarah peradaban dunia. Kami yang akan terus berupaya memasukkan temuan ini sebagai catatan peradaban dunia,” katanya. Maret lalu, Tim Bencana Katastropik Purba yang membawahi tim penelitian telah melakukan pengeboran di situs megalitikum Gunung Padang, di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Hasil carbon dating memperlihatkan hasil yang mengejutkan. Menurut salah satu anggota tim, Boedianto Ontowirjo, carbon dating menunjukkan Gunung Padang lebih tua dari piramida Giza di Mesir. Dari sampel hasil pengeboran yang diambil dari teras 5 di titik bor 2 dengan kedalaman 8 hingga 10 meter, hasilnya menunjukkan 11.060 thn +/- 140 tahun Before Present. "Kalau dikonversikan ke umur kalender setara dengan 10 ribu SM," ucap Boedianto, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews, 4 Maret 2012. BERITA TERKAIT a.. Pesan SBY untuk Ekskavasi Gunung Padang b.. Gerbang Gunung Padang Mulai Diungkap Besok c.. Tim Jawab Dugaan Harta Karun di Gunung Padang d.. Ini Para Ahli Ekskavasi Gunung Padang e.. Misteri Ruangan di Gunung Padang akan Dikuak [Non-text portions of this message have been removed]
