http://forum.kompas.com/megapolitan/125626-faisal-basri-akui-habis-rp-5-miliar-lebih-demi-dki-1-a.html Faisal Basri Akui Habis Rp 5 Miliar Lebih Demi DKI 1
LENSAINDONESIA.COM: Calon gubernur dari jalur independen, Faisal Basri, Senin siang (2/7/12) kemarin menyapa warga Jakarta Timur dengan berkeliling menggunakan mobil ‘odong-odong’ (mobil modifikasi). Hal ini ia lakukan saat masa kampanye Pilkada DKI 2012 memasuki minggu kedua pelaksanaan kampanye terbuka gubernur DKI. Kehadiran cagub nomor urut lima ini sontak membuat warga menunggu dipinggir jalan untuk sekadar menyalami cagub yang terkenal dengan jargon ayo berdaya bareng-bareng tersebut. Sesekali Faisal yang didampingi oleh tim suksesnya turun untuk berjalan kaki dan menyalami warga yang terdiri atas orangtua dan anak-anak tersebut. Menurut Faisal alasan menggunakan kendaraan odong-odong yang biasa digunakan untuk menghibur anak-anak tersebut lebih dikarenakan praktis dan mudah untuk turun dan naik. “Iya ini mobil namanya odong-odong, biar ramai dan murah meriah saja,” kata Faisal kepada LIcom usai berkeliling dengan mobil odong-odong ke wilayah Kelurahan Jatinegara, Matraman, Pulo Gadung, Cakung dan Duren Sawit Jakarta Timur. Faisal yang dikenal sebagai ekonom ini mengatakan model kampanye yang dilakukannya ini memang untuk lebih mempererat dirinya dengan warga yang sudah lama tidak didengar aspirasinya oleh pemerintah. “Warga itu sudah lama tidak didengar. Jadi kalau kita, memang kekuatannya dari warga. Pemilih kita adalah basis kita, kawan kita selamanya. Dan kita tunjukkan bahwa ini adalah kemenangan warga, jadi bukan kemenangan Faisal-Biem semata,” ujarnya. Seperti diketahui diwilayah Jakarta Timur sendiri Faisal berkeliling ke wilayah Kelurahan Jatinegara, Matraman, Pulo Gadung, Cakung dan Duren Sawit. Ditempat tersebut, selain menyapa langsung warga, Faisal juga membagikan selebaran berisikan program-programnya yang berbentuk koran, atau juga buku. Selain odong-odong, Faisal dan timsesnya menggunakan mobil bak terbuka untuk mengangkut pengeras suara sekaligus membawa boneka ondel-ondel berwajah Faisal-Biem. “Ya namanya pemimpin harus siap capek, harus mau turun ke jalan. Apalagi kalau sudah jadi gubernur harus lebih sering. Kalau kita kelilingnya di Thamrin, Sudirman Pondok Indah, Kebayoran, Menteng, kan beda,” ujar Faisal mencontohkan. Dijelaskan olehnya, model kampanye dirinya memang dibuat berbeda dan tidak ingin menyulitkan warga. “Selama ini konsep kampanye kan memperkenalkan diri kita, bukan yang ada dilapangan segala macam begitu,” terangnya. Faisal mencontohkan dirinya sempat melihat ada puskesmas yang berdiri tepat disebelah tempat pembuangan sampah masyarakat. Dirinya mengaku heran dan terkejut karena menurutnya hal tersebut seharusnya tidak boleh terjadi. “Kayak tadi kita lihat puskesmas sebelahnya sampah. Namanya pusat kesehatan masyarakat tapi sebelahnya tempat membuang sampah kan tidak masuk akal. Kalau tidak turun kita tidak akan pernah tahu hal-hal semacam ini,” tuturnya. Saat ditanyakan mengenai peluangnnya memenangi pemilihan gubernur DKI ini, Faisal dengan diplomatis mengatakan semua diserahkan kepada warga karena menurutnya jika dirinya dan pasangan menang maka warga jugalah yang nantinya akan menang, dan berhak diutamakan. “InsyaAllah menang saja, mau satu atau dua putaran. Namun ya kemungkinan sih dua putaran,” jelasnya. Mengenai dana yang telah dikeluarkan oleh timnya selama kampanye ini, Faisal menjelaskan sudah mencapai angka Rp 1,5 Miliar. “Kalau setelah waktu kampanye sudah segitu tapi kalau sampai nanti selesai angkanya bisa dibawah Rp 10 Miliar, ya kira-kira Rp 5-7 Miliar,” pungkasnya. http://www.suarapembaruan.com/politikdanhukum/demokrasi-uang-penyebab-demokrasi-transaksional/21939 Demokrasi Uang Penyebab Demokrasi Transaksional Selasa, 3 Juli 2012 | 11:20 Marwan Jafar [antara][JAKARTA] Fenomena demokrasi yang saat ini bertumpu pada kekuatan uang, sangat membahayakan kelangsungan demokrasi yang dengan susah payah dibangun. Ke depan,demokrasi yang bersumbu pada uang akan menyebabkan demokrasi, menjadi demokrasi transaksional. Hal itu disampaikan Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) di DPR, Marwan Jafar kepada SP, di Jakarta, Selasa (2/7). "Semua akan diukur dengan transaksi uang dan imbasnya hal tersebut tentu akan menggerus nilai-nilai utama dalam masyarakat. Ideologi, visi, dan bahkan nilai-nilai kebaikan menjadi tergerus oleh uang," kata Marwan. Menurutnya, demokrasi traksaksional yang berawal pada uang juga akan berpotensi besar menciptakan demokrasi kaum penjahat. Pasalnya, prinsip yang dikembangkan ialah bahwa sesuatu dapat dibeli dengan uang, tanpa melihat nilai-nilai utama dalam demokrasi yang sesungguhnya. "Maraknya fenomena demokrasi uang akan sangat berpotensi menyuburkan praktik korupsi. Karena yang dipikirkan adalah untung rugi," ujar Anggota Komisi V DPR ini. Ditambahkan, prinsip yang dikembangkan, bahwa ketika seseorang sudah mengeluarkan uang banyak, maka yang dipikirkan adalah bagaimana mengembalikannya. "Hal ini yang sangat berpotensi bagi suburnya praktik korupsi yang pada akhirnya akan menyebabkan pembusukan peradaban," imbuhnya. Karena itu, kata Marwan, menyikapi gejala demokrasi uang yang bersifat transaksional, sudah kasat mata dan sampai pada titik yang mengkhawatirkan, maka satu hal harus ditegaskan, bahwa seluruh pihak harus menolak jenis demokrasi semcam itu. Sebab, model demokrasi semacam itulah yang pada akhirnya akan menyuburkan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). "Masyarakat tidak boleh didik dengan hal-hal yang justru menghancurkan nilai-nilai kebaikan dalam masyarakat yang selama ini terbangun. Membangun demokrasi tidak boleh memakai cara-cara yang justru merusak dan mencederai nilai-nilai dalam demokrasi itu sendiri," tegasnya. Ditambahkan, sangat penting segera dibuat aturan secara jelas untuk mengantisipasi pembusukan demokrasi akibat adanya demokrasi uang yang akan merusak mental masyarakt bangsa ini. [CKP/] http://www.suarapembaruan.com/metropolitan/jokowi-bentuk-satgas-anti-money-politic/21938 Jokowi Bentuk Satgas Anti-Money Politic Selasa, 3 Juli 2012 | 11:14 Jokowi [google] [JAKARTA] Calon Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, yang akrab dipanggil Jokowi, mewaspadai terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta 11 Juli mendatang. Masa tenang dan hari H pemungutan suara kerap kali dipergunakan untuk melakukan money politic yang dipastikan mempengaruhi pemilih. Indikasi money politic pun dinilai Wali Kota Solo itu mulai terasa. “Targetnya, 2.000 relawan yang menjadi satgas antimoney politic dan antikecurangan. Jakarta Barat sudah kita lantik. Mereka akan mengawasi seluruh proses Pilkada. Satgas dibekali pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan pengawasan sehingga bisa melaporkan setiap kali terjadi kecurangan,” ujarnya dalam siaran pernya, Selasa (3/7). Satgas semacam itu, pernah dibentuk Jokowi saat mencalonkan diri sebagai Wali Kota Solo. Kala itu, meski sebagai incumbent, Jokowi yang tidak melakukan kampanye terbuka, melihat gelagat adanya politik uang dengan pembagian sembako secara massif kemudian membentuk Satgas Anti Money Politic. “Satgas ini dibentuk karena kami ingin pilkada yang jujur dan bersih. Sekarang sudah kelihatan ada yang memulai money politic, dengan memberikan sesuatu yang sangat besar kepada masyarakat,”ujarnya. [IMR/N-6] [Non-text portions of this message have been removed]
